Saturday, April 3, 2010

Traffic Boom + Smart Backhaul - G28

[Authors : Ikhsan abdusyakur, Yudha Irawan (G28)]
Q1: Mengenai transformasi IP, apakah nantinya telepon fixed wire di Indonesia akan berbasis IP?

A1: Untuk sementara ini, penggunaan IP phone hanya dimungkinkan pada enterprise saja. Ini dikarenakan dalam pembuatan secara umum memerlukan investasi yang besar dan perubahan infrastruktur yang sulit. Namun penggunaan IP phone pada mobile / wireless dapat dimungkinkan, karena investasi lebih murah dan pembangunan infrastruktur lebih mudah.

Q2: Di Indonesia lebih banyak pengguna aplikasi Yahoo Messenger, namun di luar negeri lebih banyak pengguna aplikasi MSN Messenger, sekiranya apa yang menjadi penyebab perbedaan tersebut?

A2: Ini lebih disebabkan oleh user interface semata, kecocokan psikologi dari masyarakat Indonesia yang suka berganti – ganti status dan profil menjadi alasan YM lebih digemari di Indonesia. Begitu pula dengan para pengguna Blackberry, penggunaan BBM lebih dikarenakan kerahasiaan yang terjamin pada layanan tersebut.

Q3: Apakah di Indonesia NSN memiliki RnD nya sendiri? Sebagai solution provider, apakah NSN menyediakan specified software untuk membatasi Bandwidth pada setiap aplikasinya?

A3 : Di Indonesia belum ada, RND masih berpusat di Jerman dan Finlandia, lebih tepatnya pada dusseldorf Jerman mengembangkan sistem transmisi, dan pada esfo Finlandia mengembangkan core system. NSN selain menyediakan perangkat keras juga menyediakan Software solution, NSN telah menyediakan fitur apa saja yang diinginkan oleh operator, dengan merancang kebutuhan bandwidth, sehingga sesuai dengan desain dan perencanaan.

Q4 : Perkembangan GSM di Indonesia sangat pesat dari 2G - 3G - LTE, dan NSN berperan dalam pengembangannya, apakah karena latar belakang Nokia dan Ericsson sehingga CDMA tidak menjadi fokus pengembangan ?

A4 : NSN fokus kepada GSM karena pada awalnya berkembang di Eropa, berbeda dengan perusahaan lain, Perusahaan yang berasal dari prancis latar belakangnya adalah transmisi, begitu pula dengan perusahaan dari Cina yang latar belakangnya adalah transmisi juga. Selain itu pengguna di seluruh dunia memang didominasi oleh GSM lain hal dengan CDMA yang lebih berkembang di Amerika. Ini disebabkan GSM yang telah mampu menyediakan international Roaming sehingga pengguna GSM lebih banyak di dunia.

Q5 : Pada prakteknya, operator berkonsultasi ke vendor, apakah dapat dimungkinkan pelayanan langsung dari vendor ke pengguna tanpa melalui operator?

A5 : Selama ini penyandang dana adalah operator, dan pengguna hanya sebagai pemberi masukan dan kebutuhan, sehingga jarang dimungkinkan direct selling ke pengguna. Ini tetap menjadi bagian operator sebagai penyandang dana.

Opini

Pada kuliah tamu yang diberikan kali ini telah memberikan wawasan yang luas tentang perkembangan industri telekomunikasi kedepannya, dan dalam sesi tanya jawab telah memberikan penjelasan yang mendetail tentang telekomunikasi secara umum dan NSN sebagai vendor di bidang telekomunikasi.

Transformasi IP menjadi kunci dalam simplifikasi telekomunikasi, namun yang menarik adalah perubahan ini tidak dimungkinkan pada fixed phone yang notabene adalah pengguna terbesar pada era 90an, ini berkonsekuensi pada investasi yang besar, dan perubahan infrastruktur yang rumit. Mungkin yang menjadi pertanyaan besar kami adalah apakah tepat perubahan cepat ke era telekomunikasi berbasis IP, karena perkembangan telekomunikasi yang begitu pesat.

Penggabungan Nokia dan Siemens mewujudkan NSN menjadi perusahaan yang fokus pada pengembangan teknologi GSM khususnya di Indonesia. Faktor psikologi masyarakat Indonesia yang konsumtif menjadi pusat perhatian, karena sangat disayangkan konsumsi konten yang begitu besar di Indonesia teralokasikan ke host yang berada di luar negeri. Oleh karena itu menjadi tantangan bagi kami, untuk mengembangkan layanan konten yang ada di Indonesia, karena teknologi GSM yang sedang dikembangkan di Indonesia menjadi faktor penunjang meningkatnya kebutuhan konten yang ada di Indonesia.

    Share | Save

    Subscribe

5 comments:

fadhila said...

G2:
Giri Kuncoro dan Fadhilah Hana

Menanggapi opini G28, sebenarnya bukan tidak mungkin transformasi fixed phone menuju telepon berbasis IP atau IP Phone. Banyak perusahaan di Indonesia, yang mempunyai banyak cabang seperti bank, oil company, dll yang telah mengimplementasikan IP Phone. Walaupun biaya investasinya sangat mahal, namun pada akhirnya jauh lebih praktis dan lebih murah untuk berkomunikasi antar karyawan dalam satu perusahaan. Malah ada perusahaan yang melakukan rapat dengan menggunakan fitur conference pada IP phone.

Memang kalau untuk individu agak sulit mengimplementasikan IP phone. Karena untuk ini, kita harus mempunyai suatu perkumpulan yang jaraknya berdekatan serta kebutuhan komunikasi antar anggotanya cukup intens. Makanya untuk kebutuhan individu cenderung menggunakan mobile network karena ke-fleksibilitas-nya.

Jadi menurut saya, dengan adanya berbagai macam teknologi, bukan berarti teknologi yang satu lebih baik dari yang lainnya. Semua teknologi memiliki kekurangan dan keunggulannya masing-masing. Suatu teknologi akan efisien apabila pengaplikasiannya cocok.

Maaf jika ada yang salah. Terima kasih :)

whyand138 said...

G 15 :
- Ni Wayan Eka A (13206058)
- Joice F Yusriani (13206147)

Secara keseluruhan, materi yang diberikan pembicara amat menarik dan menambah wawasan pertelekomunikasian. Kami tertarik untuk menyikapi Question & Answer pada nomor 1 mengenai apakah mungkin telepon fix wired di Indonesia berbasis IP.Menurut pandangan kami, masyarakat Indonesia secara umum
tidak mengalami masalah dengan telepon fix wired yang ada sekarang ini. Memang telepon fix membatasi mobilitas user, namun hal itu telah teratasi dengan adanya telepon seluler.
Artinya, saat ini, masyarakat masih belum membutuhkan telepon berbasis IP. Lagipula, perusahaan fix telephone di Indonesia sudah
menanamkan investasi sedemikian besar untuk mengakomodasi layanan fix telephone wired.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah IP version 4 (yang berjumlah 255 x 255 x 255 x 255) saat ini sudah mulai habis. Apabila IP telephone memasyarakat, maka berapa banyak IP yang harus dialokasikan untuk telepon ? sehingga alokasi IP untuk internet justru berkurang.

Jadi kesimpulannya, penggunaan IP telephone di Indonesia sebenarnya sah saja, namun sebaiknya untuk kalangan terbatas (misal : kalangan pebisnis di perusahaan) dan bukan untuk masyarakat umum.

titotz said...

G4
Muhammad Tito S 13206134
Anggita Hapsari G 13206034

Menarik topik yang dibicarakan pada sesi kali ini.

Namun saya ingin memberikan tanggapan mengenai IP phone. Salah satu alasan mengapa IP phone belum bisa diterapkan secara luas di Indonesia selain karena masalah membangun jaringan infrastruktur yang tidak murah, juga tampaknya dipengaruhi oleh PT. Telkom selaku incumbent yang tidak ingin jaringan fixed wireline nya terbuang sia-sia (tidak terpakai lagi). Karena jika IP phone diterapkan secara luas, tentu akan menjadi killer apllication bagi jaringan telepon tetap. Dan juga menurut sepengatahuan saya, pentarifan dari telepon fixed ke IP phone dikenakan tarif yang cukup mahal. Karena alasan tarif yang lebih mahal inilah, yang mengakibatkan IP phone kurang berkembang, karena interkoneksi dari telepon tetap ke IP phone seolah-olah dibatasi(barrier) dari segi tarif.

Wajar bila penggunaan IP phone terbatas pada kalangan enterprise atau perkantoran yang menerapkan IP phone sebagai sara komunikasi yang cukup murah, karena menggunakan jaringan intranet perusahaan yang sudah eksisting.

Oh ya ma berbagi pengathuan aja, CDMA untuk license nya masih dipegang oleh qualcomm (Amerika). Salah satu penyebab CDMA kurang berkembang adalah karena untuk pengembangan CDMA baik dari segi handset ataupun jaringannya sendiri pun harus membeli license dari qualcomm. HAl tersebut dapat dengan mudah dilihat pada lebih sedikitnya pabrikan HP yang memproduksi model CDMA, Handset yang tersdia cukup terbatas, dan tidak semua pabrikan memproduksi handset CDMA.

Itu sedikit pengetahuan dari saya.
Jika ada kata2 yang slah mohon dikoreksi.
Thx.

nda132 said...

G16
Sutinah 13206038
Frida Kurniasih 132006057

Kami akan menanggapi pendapat G4 mengenai pentarifan ip phone yang mahal.
Menurut kami, sebenarnya biaya komunikasi menggunakan ip phone ini jauh lebih murah dibandingkan telepon fixed . Hal ini disebabkan oleh ip phone menggunakan jaringan internet sebagai media untuk kounikasi, tidak seperti telepon fixed yang menggunakan copper line, dimana jarak komunikasi sangat mempengaruhi besarnya tarif komunikasi.

Akan tetapi dalam penerapan ip phone ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu mengenai kualitas suara. Karena IP Phone menggunakan jaringan internet, maka keduanya sangat dipengaruhi oleh kondisi lalu lintas (traffic) internet saat itu. Bila trafficinternet pada saat itu sedang kosong, maka suara yang kita terima akan bagus. Namun sebaliknya, kualitas suara akan terputus-putus, ada delay dan sebagainya.

Selain itu, sebenarnya kasus pengaruh PT Telkom yang telah dijelaskan G4 juga, telah dialami oleh Jepang beberapa tahun lalu. Dulunya, perkembangan IP phone di Jepang tidak selancar yang diharapkan karena tantangan dari salah satu perusahaan raksasa telekomunikasi yang dimilikinya, NTT. Akan tetapi, pada akhirnya IP phone ini menjadi layanan komunikasi suara resmi di Jepang. Hal ini menurunkan biaya komunikasi lokal maupun interlokal di Jepang.
Suatu saat nanti Indonesia juga dapat menerapkan IP phone sebagai layanan komunikasi resmi apabila terdapat kerjasama yang baik antara operator, vendor, maupun pemerintah.

Terima Kasih....

firmanegotistic said...

G32
Firman Azhari 13206045
Mangasi Napitupulu 13206143

Sangat menarik materi dari NSN ini, terutama wawasan dari sesi tanya jawabnya.

NSN dalam hal ini vendor hendaknya mengembangkan RnD di negara berkembang, khususnya Indonesia sehingga bisa berpartisipasi dalam mengembangkan kualitas engineer di Indonesia secara umum.

Transformasi ke IP bukan khayalan lagi. Beberapa korporasi telah mencoba menerapkan hal ini pada sistem PABXnya. Jika dikembangkan secara lebih luas, dalam hal ini menjadi public service, tentu akan memudahkan masyarakat dalam memilih service yang diinginkan tanpa harus memasang banyak peralatan/kabel karena semua telah tertata dengan baik.