Saturday, April 3, 2010

Traffic Boom + Smart Backhaul - G27

[Authors: Iman Firmansyah, Priambada Aryaguna (G27)]
Q1: Mengenai IP transform, apakah memungkinkan adanya telepon fixed berbasis IP?
A: Saat ini sudah terdapat telepon seperti itu, tetapi terbatas hanya di kalangan enterprise. Handset yang dipergunakan pun juga memiliki IP address. Namun, hal ini belum dipergunakan secara meluas (dalam konteks worldwide). Operator lebih memilih untuk mengembangkan mobile network daripada fixed karena lebih murah.

Q2: Anda sebagai operator dihadapkan pada berbagai teknologi agregasi. Dalam implementasinya, apa saja yang harus dipertimbangkan?
A: Terdapat beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. Salah satu yang terpenting adalah kompetisi antar operator. Kemampuan untuk mengenali dan membaca kesempatan sangat diperlukan untuk bisa survive dalam kompetisi ini. Terlebih di Indonesia, kompetisi sangat ketat. Telat atau salah memprediksi kesempatan bisa berarti suatu loss dari kompetitor lain.

Q3: Ada kecenderungan di Indonesia banyak mempergunakan Yahoo Messenger (YM) sebagai aplikasi messenger sementara di luar negeri MSN lebih populer. Apakah ada kaitannya dengan YM lebih dahulu booming di Indonesia?
A: Hal ini sebenarnya sesuai dengan user experience di suatu daerah tertentu. Hal ini meliputi interface dari messenger yang dipergunakan dan behaviour pengguna messenger tersebut. Misalnya masyarakat Indonesia suka mengganti theme atau tampilan messenger sehingga lebih prefer menggunakan YM. Contoh lainnnya adalah Blackberry begitu booming di Indonesia sementara di negara-negara lain biasa saja.

Q4: Dimana letak RnD NSN? Apakah solution provider menyediakan software yang sudah specified?
A: RnD Siemens terletak diJerman sementara Nokia di Finlandia. Beberapa bagian lain misalnya Transport terletak di Jerman, Radio Access di Finlandia, dan Core di Portugal. NSN sebagai salah satu solution provider juga menyediakan atau memberikan masukan mengenai feature-feature apa saja yang diperlukan oleh operator. Kebutuhan bandwidth misalnya, diakomodasi melalui design interplanning.

Q5: Dimulai dari manakah standardisasi GSM? Apakah perkembangan GSM hanya terbatas di Eropa saja atau juga di Amerika?
A: GSM diinisiasi oleh negara-negara Eropa. Karena itu GSM mulai berkembang terlebih dahulu di Eropa dan sekitarnya. Saat ini, apabila dilihat rate perkembangannya secara world wide, GSM menjadi yang paling dominan. CDMA banyak dikembangkan di wilayah Amerika. Kekurangpopuleran CDMA karena terdapat frekuensi dimana CDMA berjalan yang belum mensupport international roaming (karena CDMA mempergunakan 2 frekuensi yang berbeda).

Bicara masalah standardisasi, beberapa negara seperti Jepang dan Korea memiliki standard sendiri. Bila terdapat vendor/industri dari luar yang ingin masuk ke dalam pasar negara tersebut, mereka harus mendefine standard atau menyesuaikan standard yang telah mereka buat dengan operator lokal pada negara-negara tersebut.

Q6: Vendor bertindak sebagai konsultan dari operator yang notabene melayani user pada akhirnya. Mengapa vendor tidak langsung berhubungan ke user (sebagai konsumen akhir) saja?
A: Vendor melakukan hal ini karena yang memiliki dan mengeluarkan budget adalah operator. User disini bertindak sebagai salah satu key factor yang mendrive hal tersebut. Dulu, salah satu sektor dari NSN ada yang berhubungan langsung dengan user, dalam hal ini berupa menjual handset. Mengenai hubungan NSN dengan operator, NSN sendiri memiliki segmentasi ke arah GSM operator.


Opini

Seiring penerapan teknologi yang semakin maju, kesiapan dari para "pemain" di bidang telekomunikasi semakin diuji. Operator serta vendor peralatan telekomnikasi misalnya, harus mampu menyikapi lonjakan akses data dengan cerdas. Pada satu sisi hal tersebut menciptakan peluang bisnis yang menjanjikan karena peningkatan akses data sebanding dengan peningkatan user/ jumlah pelanggan yang ada.

Sejatinya, disini ARPU semakin menunjukkan keadaan baik untuk tiap operator. Pada sisilain, jika lonjakan data tersebut tidak ditangani dengan baik, kerugian dalam jumlah tidak kecil dapat terjadi. Kerugian tersebut, misalnya, diakibatkan keengganan pelangan untuk mempergunakan jasa operator telekomunikasi tersebut karena ketidakmampuannya dalam menyediakan layanan yang memadai, dalam hal ini memenuhi kebutuhan akan akses data yang dapat diandalkan.

Menurut kami, smart backhauling solution bisa menjadi salah satu pilihan untuk menangani lonjakan akses data yang terjadi. Dengan berbagai cara yang dapat diterapkan, metoda ini dapat diaplikasikan pada operator telekomunikasi di Indonesia. Kekurangmampuan untuk menyediakan layanan akses yang baik, seharusnya, bisa diatasi sehingga pelanggan tidak lagi menjadi pihak terdzalimi, yang hanya bisa complain dan menerima dengan legawa pada akhirnya. Paling tidak, dengan metoda ini, akses yang layak dan memadai "diharapkan" bisa disediakan dan dipenuhi dengan baik oleh operator telekomunikasi kita. Akhir kata, semoga metoda ini terus mengalami perkembangan dan bisa menjadi salah satu pilar kunci kemajuan pertelekomunikasian Indonesia.

    Share | Save

    Subscribe

8 comments:

adhipta said...

Group 01
Adhipta Semidang Putra (13206039)
Febriansyah DR (13206007)

Kami ingin menggaris bawahi mengenai kegagalan suatu operator melayani lonjakan akses data. Memang benar, ketat nya kompetisi operator akan membuat konsumen semakin pintar, dan merupakan sesuatu yang mustahil pelanggan seluruh operator di Indonesia terdistribusi secara merata. Tentunya akan ada operator yang mendominasi, yang biasanya incumbent.
Tapi itu cerita lalu, babak baru dunia telekomunikasi telah dibuka, kali ini berjudul data..data..data.. semuanya yang berbau data. Operator mana yang tidak jeli pada perubahan zaman ini, maka operator itu yang akan menjadi operator yang telah disebutkan kelompok 27 diatas.

Ulil Wicaksana said...

GB5

Aghinta Pradewi 23208355
Ulil S. Zulpratita 23209010


Diperkirakan pada tahun 2015, lima miliar orang di seluruh dunia akan menggunakan teknologi komunikasi. Penggunaan teknologi ini membawa dampak tingginya permintaan bandwidth di masa depan. Sayangnya, teknologi yang digunakan oleh para operator telco saat ini belum mampu menjawab tantangan tersebut. Baik dari segi besarnya bandwidth yang dibutuhkan, kecepatan layanan, hingga biaya operasional yang menguntungkan bagi operator. Apalagi ditambah dengan tingginya tingkat persiangan antar operator yang akan membuat tarif komunikasi akan menjadi kian murah kedepannya.

Mengamati trend saat ini, telekomunikasi akan bergerak dari sistem paket data dan voice konvensional ke arah komunikasi terpadu berbasis teknologi Ethernet. Permasalahan terbesar adalah bagaimana cara operator menarik dan mempertahankan pelanggan, serta bagaimana membentuk jaringan yang efisien, serta bagaimana memastikan kesiapan bandwidth untuk menerapkan layanan berteknologi baru..

Jawaban dari semua tantangan tersebut adalah Carrier Ethernet, dan (berdasarkan sumber yang kami baca), implementasi Carrier Ethernet di Indonesia sudah dimulai karena NSN Juniper Networks bekerja sama dengan operator yang terkenal di Indonesia, salah satunya adalah Telkomsel. Juniper adalah perusahaan yang telah terkenal dengan perangkat Carrier Ethernet. Sedangkan, Nokia Siemens Networks terkenal sebagai penyedia layanan jaringan. Carrier Ethernet merupakan teknologi transport yang mendukung pertambahan permintaan broadband dari awal hingga ke akhir akses. Dengan kata lain, perangkat ini mampu mendukung servis-servis seperti perpindahan data, video, hingga layanan TV cable melalui jaringan dalam satu sistem saja. Pihak NSN dan Juniper sendiri berani menjamin kualitas layanan dan keandalan sistem ini. Selain itu, mereka berani menjamin murahnya biaya peralatan ini. Hal tersebut terbukti dari hasil proyek mereka di Eropa. Ternyata, rata-rata perusahaan yang mengaplikasikan perangkat tersebut berhasil menghemat biaya sekitar 30%.

dimas said...

bener banget kalo handset buat IPtlephony itu masih terbatas di kalangan enterprise.
di ITB sendiri yang udah ada sejak beberapa tahun lalu, masih minim penggunaanya.
Terkesan setengah-setengah menurut saya.
Lihat saja booth yang ada di comlabs. Saya pikir itu bakal di kasih jaringan buat IP telephony,
tapi yang ada cuma kabel UTP sama box nya aja.

Sayang sekali, kalo di ITB sendiri kurang dimanfaatkan oleh mahasiswanya sendiri,.

Aryo said...

Group 11

Arief Saksono
Aryo Wicaksono

Kami setuju dengan pendapat G1, bahwa dalam tahun-tahun mendatang, dunia telekomunikasi akan berpusat pada akses terhadap data. Seperti yang telah disebut dalam penjelasan Vice Presiden PT Telkomsel Bapak Pambudi Soenarsihanto, sangat mungkin revenue operator yang bersumber dari layanan voice akan menurun drastis (bahkan mungkin layanan tersebut dibuat gratis), dan beralih pada layanan-layanan lain selain voice.

Melihat kemungkinan tersebut, penting bagi suatu operator, apabila ingin tetap bertahan dalam persaingan, untuk jeli dalam melihat segala perubahan dan kesempatan yang ada, serta terutama kreatif dan inovatif dalam mengembangkan strategi yang tepat untuk menghadapi tantangan-tantangan yang ada di masa depan. Dengan demikian, operator dapat terus bertahan, kebutuhan perusahaan dapat terpenuhi, sedangkan sebaliknya masyarakat dapat terpuaskan dengan berbagai layanan yang tentunya semakin variatif dalam tahun-tahun mendatang.

Haryo said...

Group 31
Haryo Septoria Prabowo (13206033)
Wibisana Jaka Sembada (13206089)
===================================

Kami sangat setuju dengan opini kelompok 27 bahwa penggunaan smart backhaul bisa menangani trafik data yang ratenya mulai meningkat pesat. Sewaktu kami melakukan kerja praktek pun, kami melihat kenyataan bahwa banyak perusahaan besar (kelas enterprise) yang telah mengimplementasikan smart backhaul ini menggunakan carrier ethernet, yg memang notabene paling "digemari" karena pemeliharaannya yg mudah dan tidak terlalu mahal.

zahara said...

Grup 14:
Zahara Yulianti (13206018)
Nur Inayah Yusuf (13206138)

Kami sependapat dengan G27 bahwa kebutuhan layanan akses data semakin meningkat dan Smart backhauling menjadi salah satu solusinya. Di sisi operator akan menekan cost dan di sisi pengguna akan mendapatkan layanan yg semakin murah. Jadi operator yang tidak segera melakukan perubahan jaringan mobile backhaul mereka akan sulit bersaing. Seperti yang dikatakan P Pambudi : "Refuse to Change Means Die".

Terima kasih.

shendiary said...

Kel. 7
Shendiary Aviolanda (13206050)
M. Shiddiq (13206074)

Secara umum, kami sgt tertarik dgn kuliah dari NSN kali ini mengenai solusi smart backhaul. Seperti opini dari G27, smart backhaul dapat menangani lonjakan data yang pesat, dengan kelebihannya pada sisi cost dan bandwidth.

Menanggapi Q1, menurut kami, pengaplikasian IP phone di Indonesia yang masih terbatas pada perusahaan/enterprise wajar, sebab infrastruktur yang ada blm mendukung dan untuk berubah memerlukan investasi dana yang tidak sedikit. Namun, bukanlah tidak mungkin, ketika infrastruktur telah siap, IP phone dengan berbagai kelebihannya diaplikasikan sbg fixed line yang dpt dinikmati oleh semua masyarakat.

Terima kasih. :)

Heru said...

G30
Heru Wijanarko (13205149)
Andre M. Dubari (13205081)

Melihat Q2, kami setuju dengan jawaban narasumber. Dengan semakin pintarnya konsumen memilih layanan, membuat kompetisi operator semakin ketat. Operator yang mampu mengenali dan membaca kesempatan sangat diperlukan untuk bisa survive dalam kompetisi. Contohnya,operator sebaiknya tidak hanya pada pengembangan produk teknologi tetapi juga peningkatan kualitas pelayanan pelanggan. Dan operator yang berani membuat perubahanlah yang tidak hanya dapat sekedar survive tetapi lebih unggul dari kompetitornya.