Monday, April 26, 2010

Challenges in Convergence Era - G14

[Authors: Zahara Yulianti, Nur Inayah Yusuf (G14)]
Q1: Ada 11 operator di Indonesia, menurut saya itu terlalu banyak. What's your main point of those statement?is it good or bad? mengapa bisa muncul banyak operator baru, tidak hanya 3 seperti di Singapura?
A:
(a) Dilihat dari sejarahnya, kemunculan 11 operator ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti:
  1. Pada tahun 2000-2002, operator yang bisa membangun dan menghasilkan uang hanyalah Telkomsel, hal ini seolah-olah membuat Telkomsel memonopoli bisnis operator sehingga pemerintah menganggap Telkomsel membutuhkan pesaing.
  2. Pengkayaan teknologinya sendiri. Saat itu PT Telkom dan Indosat mempunyai masalah untuk roll off fixed line-nya, sehingga muncullah teknologi CDMA. Dengan kemunculan teknologi CDMA ini, maka muncullah operator-operator baru seperti Flexi, Esia, dan Smart.
Saya setuju kalau 11 operator itu terlalu banyak. Pemerintah menghimbau dilakukan konsolidasi tapi tidak bisa mendikte. Sempat ada rumor, Smart kemungkinan akan merge dengan Fren. Jika Telkomsel ingin membeli XL, kayaknya tidak mungkin, karena bisa dianggap monopoli juga. Tapi sebenarnya berbicara mengenai Merger and Acquisition, semuanya itu dibawah selimut, masih wacana.

(b) Biasanya bila ada bisnis baru, maka semua ingin ikutan. Begitu ada kompetisi, naturally yang bermain dalam kompetisi tersebut hanya operator besar saja, biasanya 3 sampai 5. Akan ada konsolidasi. Creativity ke depannya harus muncul. Harus ada usaha2 baru bisnis entrepreneurship seperti menjual konten, e-learning, e-gaming. Dalam konteks operator dan infrastrktur, bagaimana resource yang terbatas bisa digunakan secara efisien sehingga yang digunakannya banyak. Hal yang berpengaruh yaitu, connectivity dimana arus informasi dari dalam dan luar negeri bisa dinikmati, affordability dimana biaya semakin murah sehingga muncul ekonomi informasi, dan yang terakhir adalah culture.

Q2: (a) Mengapa video call dari hp sekarang jarang digunakan? (b) Mengapa Telkomsel belum mengaplikasikan LTE? Apakah karena modal 3G dan 3.5G belum balik? (c) Apakah memungkinkan bagi kami untuk ekskursi ke Telkomsel?

A:
  1. Service video call sekarang masih tetap ada walaupun jarang digunakan. Penyebabnya video call itu online, sehingga tidak ada buffering. Hal ini bisa menyebabkan kualitas layanan yang kurang bagus sehingga menurunkan kepuasan pelanggan. Mungkin video call itu menjadi sangat bagus jika kita berada di kecepatan 64 Mbps. Video call itu biasanya digunakan untuk memperlihatkan keberadaan kita, tapi saat ini telah banyak replacement seperti MMS dan Facebook.
  2. LTE belum diaplikasikan oleh Telkomsel karena Telkomsel masih struggling dengan penempatan frekuensi untuk LTE. Telkomsel menginginkan LTE low frequency, better penetration, and bigger coverage. Frekuensi 1800 MHz utk LTE juga dibolehkan, karena LTE itu frequency dependent. Untuk frekuensi 1800 MHz susah mencari lokasi yang bisa meng-cover. Bisa saja dilakukan trial, mencari suatu area untuk bisa dikosongkan. Mungkin di tahun 2010 ini, Telkomsel akan menjalankan trial LTE di 1800 MHz. Tetapi, untuk modem dan persiapan handset baru akan dijalankan pada tahun 2012.
  3. Telkomsel menerima dengan tangan terbuka jika mahasiswa ingin melakukan ekskursi atau internship di Telkomsel. Tim Technology Planning Telkomsel itu beranggotakan kurang dari 20 orang padahal semua strategi ada disini. Jadi, Telkomsel sangat interested jika ada mahasiswa yang mau bergabung.

Q3: (a) Saya pernah membaca suatu artikel bahwa Telkom sudah menginisiasi cloud system. Apakah cloud system itu? (b) Saya melihat promo dari operator dengan menggratiskan SMS. Bagaimana dampaknya dari sisi operator? Apakah merugikan atau menguntungkan?

A:
  1. Cloud computing itu merupakan computing di dalam teknologi itu sendiri. Trend itu bicara tentang enterprise solution. Dengan cloud computing, maka storage ini bisa di-share. Jadi secara sederhana, bisa dikatakan storage yang ada diluar di-share, disambung ke multi channel, that's it. Bicara tentang efisiensi, metoda ini bagus karena yang mengakses akan banyak jadi kita tidak harus one on one mempunyai platform.
  2. Telkomsel merupakan operator terakhir yang mengikuti jejak free SMS kesepuluh operator lainnya melakukan hal itu. Telkomsel sempat kehilangan customer pada saat booming free SMS. Regulatory sebenarnya tidak memperbolehkan free SMS. Namun karena tuntutan bisnis, akhirnya Telkomsel ikut juga. Sebenarnya biaya SMS itu hanya puluhan rupiah, cost SMS lebih murah dibandingkan voice. Walaupun murah, tetapi menjadi penting karena SMS ada di signaling. Sehingga ada quality issue akan service voice yang mudah diblok karena SMS kepenuhan.

A: Dulu orang ingin mempunyai jaringan dan server sendiri. Dengan cloud computing, bisa dilakukan share server untuk memaksimalkan penggunaannya.

A: Tentang SMS, skematisnya masih SKA (sender keep all). Jika dibilang rugi, dampaknya bagi operator cuma sebentar. SMS digratiskan juga tidak apa-apa, asal mampu menahan. Jadi saya duga skematis itu juga yang memicu. Operator ingin promosi namun merugi, tetapi dari sisi customer free SMS ini menarik. Pada tahun 2005-an , cost SMS itu 40 rupiah, sekarang sudah beberapa puluh rupiah saja.


Q4: Mengenai revenue sharing, seandainya saya memiliki 1 service, kemudian saya ingin bekerja sama dengan Telkomsel, model bisnisnya seperti apa?

A: Standar revenue sharing Telkomsel 40:60. Semua industri di Indonesia seperti itu, walaupun Telkomsel yang memulai. Kalau di luar negeri 20:80. Namun, Telkomsel belum ke arah open application, kedepannya ingin membuat SDP yang open developer.

Opini

Era konvergensi tentunya sangat dinanti-nanti sebab mendatangkan banyak manfaat. Dari sisi operator dapat menghemat CAPEX dan OPEX sementara dari sisi konsumen dapat memperoleh beragam jenis layanan. Olehnya, itu dibutuhkan peran pemerintah dalam mengeluarkan regulasi yang mendukung.

Menanggapi pertanyaan masalah sebelas operator di Indonesia, memang merupakan jumlah yang besar. Konsolidasi akan terjadi akibat ketatnya persaingan. Konsolodasi ini dapat dilakukan pada tiga tingkat yaitu di level jaringan, layanan, dan level entitas. Pemerintah pun telah mengeluarkan regulasi mengenai masalah merger dan akuisisi ini. Dengan terjadinya konsolidasi ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan industri telekomunikasi. Kesebelas operator ini juga sebenarnya dapat bekerja sama untuk meningkatkan layanan telekomunikasi kepada konsumen yaitu masyarakat Indonesia.

Terakhir, kami berharap semoga wacana ekskursi ke Telkomsel dapat terlaksana.

    Share | Save

    Subscribe

4 comments:

priambada said...

G27
Iman Firmansyah 13206133
Priambada Aryaguna 13206170

Tentang videocall, saya cukup sering mempergunakan layanan 3G-based itu. Waktu itu pernah tanya ke seorang teman yang kebetulan punya punya hape yang mensupport videocall.
Saya : "Eh eh uda pernah coba videocall belom?"
Teman: "Wah belum pernah.. Mahal kan?"
Saya : "Sama kek pulsa telpon biasa ah.."
Teman: "Susah kan? Mesti gini gitu kan?"
Saya : "Asal uda 3G bisa kok, paling nunggu 24 jam diaktivasi layanan 3Gnya dulu kalo blm"
Teman: "Kalo misalnya udah bisa, ntar saya telpon sapa?"
Saya : "Err pacar? Temen lain? Ortu?"
Teman: "Wah pada masi jadul hapenya :)"
Saya : "Yasud coba telpon saya ntar kalo uda bisa"
Teman: "Ga ah, enakan mesbuk :D"
Saya : .....

Terdapat beberapa alasan yang menjadi penghambat customer untuk tidak menggunakan atau paling tidak mencicipi layanan videocall. Asumsi tarif yang mahal (karena video bukan voice), anggapan layanan itu merepotkan untuk digunakan, tidak semua hp memiliki secondary camera (syarat mutlak bisa videocall), dan ditambah munculnya beragam aplikasi ponsel yang lebih murah (dari segi biaya) semacam fesbuk, ym, dll yang lebih bisa dikonsumsi untuk hp tanpa secondary camera.

Harapan saya: Semoga layanan videocall dari telkomsel tidak diclosed soalnya saya masi sering pake buat nelpon doi.. :D

Sekian (videocall dulu ahh...)

adhipta said...

Grup 1
Adhipta Semidang Putra (13206039)
Febriansyah DR (13206007)

memang ironi, video call yg ramai dgunakan di Amerika dan Eropa,kurang mendapat perhatian bagi mobile user d indonesia.
Alasannya mahal..selain itu benar apa yang dikatakan saudara Arya, mobile handset kita belum tentu memiliki secondary camera, contoh nya blackberry yang paling banyak d gunakan di Indonesia. Kemudian memang kualitas gambar yang d terima sangat buruk dengan delay yg cukup besar. Mungkin kapasitas jaringan yang disediakan operator untuk video call ini belum sebagaimana jaringan yang d sediakan operator2 seperti at&t atau verizon sediakan bagi mobile user di amerika. Operator indonesia hanya mencoba meluncurkan layanan terbaru yang ramai digunakan di luar negeri dan ternyata hasilnya tidak maksimal.

abdusyakur said...

g28
ikhsan abdusyakur 13206088
yudha irawan 13205004

setuju dengan pertanyaan jaln jalan ke industri, :)
kita harus tahu kondisi perindustrian sekarang, jadi bisa menemukan TA yang tepat untuk bisa diimplementasikan nanti

Susiana said...

grup 29
susiana ekasari (13206042)
m. nur hidayat (13206059)


untuk video call, mungkin kalau kita lihat secara teknis memang kenyataannya adalah sepeti yang disebutkan grup 1 di atas. saya sendiri bukan termasuk orang yang suka menggunakan layanan video call. kenapa?
karena secara pribadi, dengan memakai layanan tersebut, privacy kita ketika kita berhubungan dengan orang lain menjadi tidak ada. orang-orang di sekitar kita akan bisa mendengar conversation melalui video call, karena mau tidak mau kita harus menyalakan speakerphonenya.

sebenarnya mungkin masalah ini hanyalah masalah segmentasi. kalau untuk orang pacaran, mungkin tidak, :p. tapi mungkin saja layanan ini akan lebih berguna di kalangan korporat atau ketika kita tidak bisa merayakan hari penting bersama keluarga, seperti iklan video call yang dulu beredar di masa-masa lebaran.