Monday, April 26, 2010

Challenges in Convergence Era - G13

[Authors: Ditha N, Roy BVB (G13)]
Q1: Saya tertarik dengan jumlah operator yang mencapai angka 11 di Indonesia. Kalau menurut pendapat saya jumlah itu terlalu banyak. What’s your point? Is it good or bad? Mengapa jumlah sebanyak itu bisa muncul di Indonesia padahal di negara lain biasanya tidak lebih dari 5 operator?

A: Sebenarnya jumlah yang sebanyak ini tidak baik. Sekitar tahun 2001 dan 2002 hanya ada satu pemain di bidang ini yaitu Telkomsel di mana Telkomsel sendiri berkembang sangat pesat dan memiliki modal yang kuat. Regulator melihat Telkomsel terlalu kuat, sehingga dinilai terlalu memonopoli bisnis penyedia layanan telekomunikasi (operator) di Indonesia. Oleh karena itu dibukalah kesempatan bagi pihak-pihak luar yang ingin ikut bermain di bisnis penyedia layanan telekomunikasi di Indonesia. Selain itu akibat adanya pengkayaan teknologi memunculkan kesempatan bagi pihak lain untuk turut berperan dan berkontribusi seperti Indosat yang pertama kali muncul dengan meberikan layanan di bidang fixed line telecommunication seperti CDMA. Saat itu layanana CDMA hanya diperuntukkan bagi suatu area saja, dari sini membuka kesempatan bagi beberapa pihak yang mungkin dengan budget yang terbatas saat itu dapat memulai dari mengembangkan bisnis operator di suatu area yang lebih kecil. Meskipun malahan bisnis operator ini semakin menjamur sampai saat ini, tapi pada akhirnya dapat dilihat, siapa yang dapat tetap bertahan seiring dengan berjalannya waktu dan semakin ketatnya persaingan.

Q2: (a)Bagaimanakah kelanjutan dari aplikasi video call dengan 3G yang saat ini gaungnya kurang terdengar di Indonesia; (b) Kapan LTE akan diimplementasikan oleh Telkomsel? Ada kabar yang menyatakan bahwa biaya untuk 3G dan 3,5 G belum balik modal jadi pengimplementasian LTE harus ditunda dulu; (c) Apakah ada kesempatan untuk eskursi di Telkomsel?

A:
  • Sampai saat ini layanan 3G masih ada, tapi memang tidak secanggih aplikasi2 video lainnya, karena video call tidak dilengkapi dengan sistem buffering sehingga video yang dihasilkan kurang baik tidak seperti youtube yang punya system buffering. Selain itu banyak aplikasi video lain yang lebih menarik dari video call dan kebutuhan user dapat dipenuhi dengan aplikasi lain, misalnya dengan mms atau sms, tidak perlu menggunakan video call.
  • Saat ini Telkomsel sedang berusaha untuk mengalokasikan frekuensi untuk LTE. LTE sendiri bersifat very frequency dependent. Oleh karena itu pengalokasian LTE masih membutuhkan waktu sebelum bisa dinikmati di Indonesia dan waktuu itu diramalakan pada tahun 2012.
  • Telkomsel sangat terbuka bagi mahasiswa yang ingin mengadakan kunjungan akademis di Telkomsel. Ternyata Telkomsel telah beberapa kali menerima mahasiswa ITB untuk mengadakan ekskursi di Telkomsel. Oleh karena itu jika berminat dapat menghubungi pihak Telkomsel yang terkait.

Q3: (a)Bagaimana detail dari sistem computing cloud? (b) Salah satu promo operator yang saat ini sedang ramai adalah sms gratis. Apakah dampak sms gratis bagi operator karena di mata orang awam hal ini tentunya menguntungkan bagi sisi user tapi pasti merugikan bagi sisi operator?

A:
  1. Sistem computing cloud adalah sistem yang menyimpan (storage) informasi di database jaringan yang bersifat accessible dan dapat di sharing bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Pada awalnya para operator memiliki data service masing-masing. Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu ternyata hal tersebut memakan memori yang tidak sedikit. Oleh karena itu, untuk memaksimalkan resource/jaringan maka dibuatlah suatu sistem sharing yang disebut sistem cloud ini. Dengan menerapkan sistem cloud dapat meningkatkan efisiensi dalam storing activity yang juga akan menambah pendapatan.
  2. Telkomsel merupakan operator yang terakhir mengikuti trend sms gratis tersebut. Sebenarnya memang benar kalau biaya sms itu relatif murah karena menggunakan kanal signaling, di mana dengan hanya satu slot dapat mengirim beratus-ratus sms. Oleh karena itu juga apabila jumlah sms membludak tentunya akan berpengaruh terhadap call set-up untuk panggilan telepon. Pihak regulator sendiri tidak memperbolehkan. Akan tetapi karena semakin ketatnya persaingan di pasaran, maka mau tak mau Telkomsel harus ikut bermain. Salah satu dampak dari sms gratis adalah munculnya quality issue dan kesulitan dalam melakukan panggilan.
Q4: Bagaimana sistem revenue sharing di Telkomsel?

A: Untuk ini sebenarnya Telkomsel dapat dikatakan sebagai trendsetter atau mengeset tren pembagian keuntungan sebesar 40% - 60%, karena melihat negara-negara lain yang hanya 20%-80% saja.

Opini

Menurut kami kuliah kapsel kali ini agak berbeda karena Pembicara memberikan informasi yang tidak hanya dari sisi teknis saja tetapi juga dari sisi bisnis dunia telekomunikasi khususnya operator saat ini. Dari kacamata pelanggan, kualitas layanan yang baik dan harga yang terjangkau menjadi kriteria utama. Padahal kita tahu bahwa quality comes with price. Di sinilah pihak operator atau penyedia layanan telekomunikasi dituntut untuk berpikir keras dalam menjawab tantangan tersebut dengan tetap memperhitungkan keuntungan bagi perusahaan, apalagi melihat persaingan operator di Indonesia yang semakin ketat dilihat dari jumlah pemain yang cukup banyak. Menurut kami, selain peran operator, peran regulator atau pemerintah juga harus lebih tegas dalam menertibkan dan memaksimalkan pertumbuhan bisnis telekomunikasi di Indonesia agar terbentuk kondisi yang kondusif dan sehat di dunia bisnis pertelekomunikasian Indonesia ke depannya. Terima kasih.

    Share | Save

    Subscribe

5 comments:

Felix Kristian said...

Kelompok 20
Felix Kristian Jatmiko (13206149)
Johan Sunaris (13205005)

Adanya banyak operator di Indonesia dapat menciptakan iklim kompetisi yang sehat jika ditata dengan baik. Hal ini menjadi keuntungan tersendiri bagi konsumen yang merasakan dampak dari perang tarif operator-operator seluler. Di sisi lain operator tetap harus menjaga tanggung jawabnya sehubungan perlindungan konsumen dengan memberikan pelayanan yang memuaskan. Hal inilah yang menjadi tantangan operator-operator seluler sekarang. Karena itu diperlukan kreativitas dan strategi khusus dari operator-operator untuk meraih lebih banyak konsumen.

Rifqy said...

G6
Rifqy Hakimi 13206043
Dimas Triwicaksono 13206061

Pada umumnya, kami sangat setuju dengan komentar dsn opini dari teman-teman di atas. Pengawasan dari pemerintah sebagai regulator dan kebijakan yang melindungi konsumen sangat diperlukan. Memang, banyaknya jumlah operator di Indonesia dapat berdampak positif dan negatif. Sisi baiknya, adanya persaingan dan kompetisi antar operator menyebabkan adanya perang tarif yang sangat menggiurkan bagi konsumen. Akan tetapi, hal ini harus tetap dalam pengawasan ketat, terutama quality of service layanan harus tetap dipertahankan. Sudah saatnya masyarakat Indonesia dapat menikmati layanan telekomunikasi yang murah meriah dan cukup memuaskan.

firmanegotistic said...

G32
Firman Azhari (13206045)
Mangasi Napitupulu (13206143)

Dibukanya kesempatan untuk bermain di bisnis ini sebenarnya memberikan hak para pemain untuk melakukan kegiatan usaha dan mencegah adanya monopoli. Namun pihak regulator yang terkesan selalu membuat kebijakan setelah kekacauan muncul perlu diperbaiki karena jika sistem kerjanya seperti itu, akan banyak lagi kekacauan sistem pertelekomunikasian di indonesia (tidak hanya industri seluler).

Namun fenomena ini diambil positifnya saja (jika tidak bisa diperbaiki). Konsumen memiliki banyak pilihan operator yang bisa memberikan layanan paing baik (dan murah). Fenomena tersebut juga sempat menyebabkan perang harga yang akibat makronya membawa Indonesia menjadi salah satu negara dengan tariff telekomunika paling murah di Asia.

Masalah konvergensi, sebaiknya para operator meninjau lebih jauh lagi kebutuhan akan masyarakat sekarang karena jika terlalu dipaksakan, efeknya akan buruk seperti sisa-sianya investasi yang telah diberikan.

Heru said...

G30
Heru Wijanarko (13205149)
Andre M. Dubari (13205081)

Setuju dengan G20, bahwa dengan banyaknya operator di Indonesia menjadi keuntungan tersendiri bagi konsumen yang merasakan dampak dari perang tarif operator-operator seluler. Namun disayangkan tarif yang murah belum diikuti pelayanan yang memuaskan. Banyak penawaran dan iklan yang menggiurkan konsumen dari operator. Konsumen harus benar-benar jeli untuk memilihnya karena banyak iklan yang tidak transparan dalam memberikan informasi. Selain itu juga ada beberapa operator yang menerapkan lebih dari tiga tipe tarif sehingga membingungkan bahkan menjebak konsumen. Sebaiknya operator transparan dalam meberikan informasi (iklan) & tidak mebuat konsumen bingung dengan banyaknya tipe tarif.

Susiana said...

grup 29
susiana ekasari (13206042)
m. nur hidayat (13206059)


Banyaknya provider layanan telekomunikasi di Indonesia memberikan efek baik positif maupun negatif bagi bangsa Indonesia. Keuntungannya dari segi pelanggan, banyaknya operator menyebabkan persaingan tarif antar operator yang mengakibatkan murahnya harga telekomunikasi . Bagi vendor , banyaknya operator berarti semakin banyak pula infrastruktur yang diperlukan dimana hal tersebut merupakan lahan yang menguntungkan bagi vendor.Kerugiannya sendiri, pembangunan infrastruktur yang bermacam-macam dan dari berbagai provider memerlukan sumber daya listrik yang tidak sedikit pula.

Sebaiknya pemerintah membatasi jumlah provider yang terdapat di negara ini. Dalam hal ini pemerintah harus lebih teliti dan tegas untuk menciptakan suasana persaingan industri telekomunikasi yang sehat dan menguntungkan semua pihak.