Sunday, March 14, 2010

Holistic in Broadband & Entrepreneurship - G17

[Authors: Ananto Eka Prasetiadi, Irvan Supradana (G17)]
Teknologi broadband berkembang dengan cukup pesat akhir-akhir ini. Penggunaan broadband cukup luas di kalangan masyarakat. Tanpa teknologi broadband, kehidupan masyarakat akan terbatasi, terisolasi, tidak produktif dan efisiensi berkurang, males banget, dan sebagainya. Hal ini dapat dilihat pada tayangan yang ditampilkan oleh pemateri pada awal-awal kuliah.

Akan tetapi, perkembangan dunia broadband di Indonesia tidak selamanya memberikan dampak positif bila dilihat dari sisi produktifitas. Bila melirik dari pasar broadband di Indonesia yang sudah mulai menjamur kesegala umur tak heran broadband lebih mendominasi pada sisi lifestyle ketimbang tujuan edukasi ataupun bisnis. Ditambah, akses broadband di Indonesia lebih dimayoritaskan pemegang mobile phone yang membuat perkembangan dunia broadband di Indonesia lebih disesuaikan kepada kebutuhan pemegang mobile phone itu sendiri. Alhasil berbagai aplikasi lebih berkiblat ke arah pengembangan fitur-fitur yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan bagi golongan-golongan tertentu. Tapi bukan pasar Indonesia namanya kalau gaya/style dan entertainment tidak menjadi barometer utama. Terbukti pasar broadband di Indonesia cenderung menangani service-service untuk aplikasi low bandwidth, sebut saja browsing, messanger, apalagi si wabah facebook dan twitter.

Jadi tidak heran industry kreatif sangat menjamur di Indonesia apalagi untuk aplikasi-aplikasi yang basisnya personal. Maka tak heran Indonesia sekarang menjadi pasar yang menggiurkan bagi pengembang industry broadband. Kebutuhan yang condong bagi aplikasi-aplikasi low bandwidth membuat konsumen broadband di Indonesia bisa disebut “satisfy not excite”. Di satu sisi kebutuhan akan gaya hidupnya dapat dipenuhi, tapi sisi yang jauh dapat memberi kesempatan dalam menaikan taraf hidup seakan dilewatkan begitu saja.

Selain masalah diatas, di Indonesia juga terjadi masalah kesenjangan gap antara operator dan user/ pengguna layanan broadband. Sebagai contoh layanan-layanan berbasis data yang ditawarkan operator cenderung menitikberatkan ke masalah speed. Padahal konsumen sendiri lebih menginginkan convenience yang secara tidak langsung harus adanya jaminan terhadap QOS dari layanan yang digunakan. Ketidaksesuaian antara high bandwidth yang ditawarkan operator dan low bandwidth yang diakses user membuat perlu dilakukan tindakan collaborative demi mencapai transisi kebutuhan yan tepat.

Hal inilah yang menyebabkan broadband di Indonesia belum bisa mencapai “e-living solution”.”E-living solution” adalah salah satu cara mengartikan broadband sebagai komoditas yang tidak hanya mendatangkan efisiensi bagi pengunanya tapi juga penyumbang resources sebagai pencatu ekonomi bangsa. Bila dilihat dari data yang ditampilkan pemateri, Indonesia merosok diperingkat bawah dalam peran broadband sebagai pendukung dunia usaha dan bisnis. Sehingga wajar saja, jika broadband belum bisa member andil apa-apa dalam meningkatkan gross domestic product di Indonesia. Kita jauh tertinggal dari negara tetangga, Malaysia, yang telah lebih dulu berinisiatif dan aware terhadap potensi broadband untuk meningkatkan taraf ekonomi bangsanya.

Selama ini peran pemerintah bisa dibilang kurang dalam mengendalikan pasar broadband di Indonesia. Seakan-akan pemerintah menyerahkan saja semua ke tangan pasar tanpa ada legitimasi yang jelas dalam pengendaliannya. Bukan saja pengendalian tapi juga dibutuhkan komitmen khusus dari pemerintah dalam mensiasati peluang usaha yang sangat menjanjikan ini. Apabila kesempatan ini telah dilirik baik, maka setiap bidang nantinya dapat bergelut dengan dunia broadband. Satu persatu service akan berkembang seperti layanan e-government, e- commerce, dan e-education. Sungguh tak terbayangkan, Negara Indonesia yang luar biasa luas ini nantinya dapat dilayani dengan layanan broadband sampai ke pelosok-pelosok negeri. Ditambah hal ini dapat membantu perbaikan infrastruktur dan ekonomi bangsa. Bukan hanya taraf penduduk rural yang dapat membaik tapi penduduk urban pun dapat semakin terpenuhi efisiensi hidupnya jika broadband digunakan dengan baik dan tepat. Sebut saja bagi kalangan bisnis, meeting atau conferensi online bisa menambah efektifitas waktu usaha. Kemudahan dalam mengakses layanan public juga bisa di cover oleh broadband seperti layanan e-payment untuk pembayaran listrik, pemesanan tiket, dan transaksi pembayaran lainnya. Hal inilah yang harus dikembangkan di Negara Indonesia sehingga service “low bandwidth” tidak bisa lagi dipertahankan dan harus ada transisi ke “high bandwidth services”.

OPINI

Sekarang kalau ditanya siapa yang salah mungkin kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa atas fenomena broadband di Indonesia. Yang perlu kita lakukan hanyalah menyadari bahwa dunia broadband yang selama ini kita geluti belum digunakan untuk tujuan yang maksimal. Kolaborasi antar semua stakeholders yang terlibat di Industri broadband belum dilakukan untuk mencapai win-win solution. Alhasil ya beginilah dunia broadband yang kita alami di Indonesia.

Puluhan aplikasi yang kurang mendidik tumbuh subur setiap harinya di Indonesia ini. Dan parahnya bangsa kita mengapresiasi itu dengan baik. Sungguh menyedihkan memang, Tapi tidak ada kata terlambat jika kesalahan ini bisa ditanggapi serius oleh pemerintah, industry dan user sendiri. Dari pihak operator sendiri harus ada penyesuaian terhadap model bisnis yang dikembangakan sehingga nantinya dapat disesuaikan dengan pekembangan mobile broadband di Indonesia.

Nantinya keuntungan yang dapat dicapai dari mobile broadband tidak hanya dari “high bandwidth” tapi adalah proyeksi dari kolaborasi dan sinergi antar para user dalam “improving social life”. Dari sisi bisnis, operator dituntut untuk mengadopsi system baru yang pola pikirnya didasarkan untuk mengefisiensi jaringan dan menghasilkan konten-konten yang mendidik dan bermanfaat yang dapat meningkatkan kualitas social-ekonomi masyarakat seperti e-health,e-bussiness, dll. Sehingga paradigma positif dapat berkembang baik dikalangan konsumen.

Setelah realisasinya berkembang dengan jelas maka komitmen pemerintah sebagai lembaga pengawas dituntut untuk aktif. Selain itu pemerintah harus memiliki visi dan misi yang jelas seperti pemerintahan Korea dan Malaysia dan nantinya teknologi broadband di Indonesia dapat dimanfaatkan tepat guna.

    Share | Save

    Subscribe

16 comments:

Wahyu said...

pada akhirnya, permasalahan berakar pada pola pikir masyarakat yang masih cenderung bermental 'pengguna'. proses edukasi masyarakat, yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah, cukup sulit dilaksanakan dengan kondisi seperti sekarang. pihak operator pun tidak bisa diserahi tanggung jawab untuk mengedukasi masyarakat karena kerasnya persaingan bisnis. maka dari itu, saat ini yang bisa kita lakukan adalah memulai dari diri kita sendiri, meningkatkan produktivitas melalui broadband, dan sebisa mungkin mengajak orang-orang di sekitar untuk ikut produktif.

Kelompok B6:
Wahyu Adhi Prasetyo
Bhimo Whikan Hantoro

titotz said...

Muhammad Tito Septiarto 13206134
Anggita Hapsari G 13206034

Opini:
Trend yang akan terjadi di dunia telekomunikasi dan informasi adalah terjadinya pergeseran, yang asalnya dari bisnis telekomunikasi yang mendominasi, akan bergeser ke arah industri kreatif. (data didapatkan pada studium general oleh Pak Arief Yahya - Direktur Telkom Divisi Enterprise dan Wholesale).
Disana beliau menyebutkan bahwa akan ada saatnya dimana komunikasi menjadi gratis dan pendapatan utama operator adalah dari industri kreatif tersebut. Trend tersebut sudah dirasakan, walaupun memang belum terlalu kentara.
Menanggapi perubahan trend yang akan terjadi tersebut, diperlukan komunikasi yang baik diantara para stakeholder (pemangku kepentingan ) terhadap kepentingan tersebut, diantaranya pamerintah, operator, masyarakat itu sendiri, dll. Harapannya agar tercipta suasna kondusif untuk mendukung perkembangan industri kreatif kedepannya..

Sekian dan terimakasih...

fikri said...

Kelompok B-8
R. Ali Fikri Mubarak (232 08 005)
Lucky Andiani (232 09 053)

Pesatnya perkembangan broadband di indonesia tidak diimbangi dengan perkembangan pengetahuan masyarakat akan pentingnya broadband, sehingga tdak dapat dimanfaatkan secara maksimal. Persaingan yang tidak sehat antar perusahaan operator dan layanan aplikasi yang tidak mendidik mengakibatkan berbagai kelebihan dalam teknologi broadband tidak dapat dirasakan oleh masyarakat. Karenanya, animo masyarakat terhadap teknologi broadband cepat atau lambat akan berkurang, seiring dengan trend penggunaan aplikasi tertentu.
Pemanfaatan teknologi broadband dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat dapat mengatasi situasi tersebut. Layanan seperti e-banking dan online shopping misalnya, dapat menjadikan teknologi broadband sebagai kebutuhan, bukan lagi sebagai trend atau gaya hidup. Untuk dapat lebih memberdayakan teknologi broadband sebagai kebutuhan masyarakat, dibutuhkan konversi pelayanan masyarakat yang sudah ada, dengan pelayanan yang berbasis broadband. Dengan dukungan pemerintah dan peran serta perusahaan terkait, hal tersebut dapat direalisasikan.

fikri said...
This comment has been removed by the author.
fikri said...

Kelompok B-8
R. Ali Fikri Mubarak (232 08 005)
Lucky Andiani (232 09 053)

Pesatnya perkembangan broadband di indonesia tidak diimbangi dengan perkembangan pengetahuan masyarakat akan pentingnya broadband, sehingga tdak dapat dimanfaatkan secara maksimal. Persaingan yang tidak sehat antar perusahaan operator dan layanan aplikasi yang tidak mendidik mengakibatkan berbagai kelebihan dalam teknologi broadband tidak dapat dirasakan oleh masyarakat. Karenanya, animo masyarakat terhadap teknologi broadband cepat atau lambat akan berkurang, seiring dengan trend penggunaan aplikasi tertentu.
Pemanfaatan teknologi broadband dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat dapat mengatasi situasi tersebut. Layanan seperti e-banking dan online shopping misalnya, dapat menjadikan teknologi broadband sebagai kebutuhan, bukan lagi sebagai trend atau gaya hidup. Untuk dapat lebih memberdayakan teknologi broadband sebagai kebutuhan masyarakat, dibutuhkan konversi pelayanan masyarakat yang sudah ada, dengan pelayanan yang berbasis broadband. Dengan dukungan pemerintah dan peran serta perusahaan terkait, hal tersebut dapat direalisasikan.

pentriloquist said...

Kelompok 2
Giri Kuncoro (13206009)
Fadhilah Hana Lestari (13206014)

Pesatnya perkembangan teknologi broadband di Indonesia harus diiringi dengan pencerdasan masyarakat Indonesia akan aplikasi-aplikasi yang dapat memaksimalkan penggunaan broadband terkait dengan isu Industri Kreatif yang pernah dipaparkan oleh Direktur Enterprise & Wholesale PT.Telkom, Pak Arief Yahya, pada studium general di CC Barat minggu lalu. Sebelum melangkah ke perkambangan akses broadband yang semakin cepat, alangkah bijaknya jika masyarakat Indonesia diberi pencerdasan terlebih dahulu, sebelum menerapkan teknologi fiber-to-the-home. Ada suatu filosofi yang mengatakan bahwa "negara Indonesia belum maju karena untuk setiap 10 penduduk Indonesia, 8 terdiri dari tukang becak dan 2 terdiri dari sarjana. Jika kondisi sebaliknya sudah terjadi, yaitu 8 sarjana dan 2 tukang becak, maka Indonesia akan menjadi negara maju." Filosofi yang sama berlaku untuk teknologi broadband di Indonesia, dimana sarjana dianalogikan sebagai pengembang Industri Kreatif dan tukang becak sebagai pengguna aplikasi broadband yang kurang baik.

Cheers,
Giri dan Hana

urise said...

G22
Yuris Mulya S (13206124)
Hermanto (13206151)


Ya, kami sangat setuju bahwa yang dibutuhkan masyarakat Indonesia saat ini lebih cenderung mengarah pada fitur. Bahkan dapat dilihat di lingkungan sekitar kita, banyak orang membeli handphone karena tertarik pada fiturnya bukan pada fungsi utama handphone sebagai alat komunikasi.

Dengan adanya CAFTA antara Cina dengan negara Asean, hal ini akan semakin membuat masyarakat Indonesia menjadi semakin konsumtif. Karena saat ini banyak handphone Cina dengan harga murah sudah mendapatkan fitur yang sangat lengkap.

Bahkan Bapak Denny sendiri pernah mengatakan, jika ada suatu teknologi broadband yang akan ditawarkan kepada operator, mereka pasti bertanya terlebih dahulu gunanya buat apa dan berkata bahwa masyarakat Indonesia yang dibutuhkan sekarang adalah fitur bukan broadband. Hal inilah yang menghambat pertumbuhan broadband di Indonesia sehingga kalah dengan negara Asean lain, padahal jika dilihat pengguna handphone di Indonesia tidak kalah dengan negara-negara Asia lainnya namun mereka belum mengerti arti sebenarnya dari suatu handphone.

Calculus said...

Perilaku pengguna internet mobile di Indonesia memang termasuk unik. mayoritas menggunakan smartphone mereka untuk mengakses web yang memungkinkan mereka tetap terhubung dengan rekan/keluarganya melalui situs jejaring sosial. Padahal layanan yang ditawarkan oleh operator atau pengembang aplikasi dapat lebih beragam dan lebih menarik. Kualitas layanan broadband melalui jaringan 3G memang belum merata, tapi kami percaya selalu ada celah untuk menciptakan aplikasi yang berguna, meski hanya untuk segmen pasar tertentu. Misalnya aplikasi tentang pembelajaran bagi siswa/mahasiswa, pembayaran elektronik, dan sebagainya. Aplikasi seperti itu tidak membutuhkan bandwidth lebar, tetapi promosinya harus efektif agak digunakan oleh banyak orang. Dengan beragamnya aplikasi bermutu yang tersedia, diharapkan masyarakat dapat lebih bijak memanfaatkan teknologi mobile yang ada. Disamping itu juga menciptakan potensi pendapatan baru bagi pengembang aplikasi dan operator.

Di sisi lain, operator diharapkan memperbaiki kualitas sambungan internet yang diberikan kepada para pelanggannya. Dengan harga yang semakin terjangkau, seharusnya kualitas internet semakin tinggi. Operator kadang mengeluh mengenai pelanggan yang menggunakan koneksi internet terus-menerus dan menghabiskan bandwidth sangat banyak. Hal ini tidak bisa dipungkiri pasti ada. Bahkan di Korea Selatan yang akses broadband-nya sudah tersedia dimana-mana dengan bandwidth sangat lebar, pelanggan seperti itu mendominasi mayoritas trafik jaringan operator disana. Tetapi operator tetap bisa hidup dan tidak "menghukum" pelanggannya dengan pemotongan kuota dsb. Operator harus cerdas dalam mengedukasi pelanggannya dan mencari celah sumber pemasukan baru agar bisnisnya tetap profitable.

--
Anugrah S (23208306)
Rahmat M (23208346)

Gandhi said...

G8
Rizki Primasakti 13206068
Ngakan N Gandhi 13206072

kami setuju dengan pendapat kelompok B6, namun jika dilihat lebih jauh lagi sebenarnya perkembangan dunia broadband di indonesia ini lebih dipicu sebagai akibat dari sikap konsumtif masyarakat Indonesia. sebagai contohnya perangkat BlackBerry sangat ramai terjual di pasaran dimana sebenarnya kami lihat sisi teknis dari perangkat tersebut belum memadai, sehingga operator berlomba-lomba untuk memperbarui teknologi yang ada. sebenarnya hal ini membawa sisi positif dimana pada akhirnya daya serap teknologi di indonesia akan semakin tinggi namun ditakutkan jika perkembangan teknologi kurang cepat untuk mengejar pasar perangkat yang ada maka sikap konsumtif masyarakat Indonesia akan semakin menjadi-jadi. hal yang kami harapkan disini adalah ketika tercapai sebuah ekuilibrium antara perkembangan teknologi dan pasar pada akhirnya akan terjadi perilaku inovatif dari pengguna Indonesia dengan memanfaatkan teknologi yang ada sehingga terbuka sebuah lapangan baru disini (kami akui dalam jangka waktu yang singkat ini Indonesia mungkin hanya akan sanggup bersaing di sisi konten saja)

dtha said...

G13
Ditha N (132 05 010)
Roy BVB (132 06 203)

Sangat setuju pada pernyataan kelompok G17 bahwa perkembangan terknologi broadband yang sangat pesat di Indonesia tidak serta merta menaikkan taraf hidup bangsa. Berkembangnya teknologi ini memang memenuhi kebutuhan bangsa ini akan hiburan dan lifestyle era globalisasi, tetapi dari segi peningkatan produktivitas bangsa bisa dibilang nihil. Kita tidak bisa menutup mata kalau kenyataan ini didasari oleh kurangnya pengetahuan dan kesadaran bangsa ini akan besarnya manfaat sebuah teknologi sekelas broadband. Namun, untuk memberi penyuluhan tentang arti harfiah teknologi broadband ke bangsa ini untuk mengubah paradigma mereka dibutuhkan campur tangan para pelaku bisnis telekomunikasi seperti para vendor dan operator.
Tetapi alih2 menghabiskan resource mereka untuk memberi penyuluhan ke masyarakat, para pelaku bisnis tersebut lebih memilih memutar otak mereka untuk menghasilkan teknologi yang memuaskan kebutuhan masyarakat akan hiburan dan lifestyle tadi. Kita tidak bisa menyalahkan mereka, karena tidak bisa dipungkiri para pelaku bisnis harus memperhatikan kebutuhan pasarnya semata-mata untuk mencapai keuntungan yang maksimal. Ditambah lagi tingginya jumlah para pelaku bisnis telekomunikasi di negara kita mengakibatkan tingginya tingkat persaingan di antara mereka. Lengah sedikit maka akan tertingal.
Atas dasar itu, kami berpikir kira-kira cara apalagi yang bisa dilakukan untuk mengubah paradigma bangsa ini. Dan jawabannya adalah kita. Kita sebagai pihak yang telah dibekali pengetahuan akan arti harfiah keberadaan teknologi broadband ini dapat menjadi kunci perubahan paradigma bangsa ini.
Caranya adalah setiap kita mengubah pola hidup kita terutama dalam hal pemanfaatan teknologi broadband. Bukan hanya memanfaatkannya sebagai sarana hiburan, tetapi juga dalam aspek lainnya yang lebih edukatif dan bermanfaat untuk pembangunan bangsa kita ini. Gaya hidup tersebut selanjutnya dapat kita tularkan ke lingkungan masing-masing sehingga kemudian secara perlahan-lahan paradigma masyarakat kita dapat berubah. Jika kita semua bekerja sama bukan tidak mungkin paradigma bangsa ini akan teknologi broadband dapat diperbaiki secara menyeluruh sehingga broadband benar-benar dapat menjadi teknologi yang efektif terutama untuk pembangunan bangsa Indonesia.

bo_im88 said...

Berikut ini yang bisa kami simpulkan dari kuliah kemarin & dari tanggapan temen2 semua:

1. masyarakat kita konsumtif ( dan jangan lupa, we're abusive users! :p )
2. perlu edukasi publik tentang pemanfaatan broadband yang menunjang produktivitas
3. hal tersebut adalah pr pemerintah & perusahaan terkait.
4. kita secara pribadi bisa mengubah paradigma masyarakat tentang pemanfaatan broadband dengan cara memulai dari diri sendiri, kemudian menularkannya ke lingkungan sekitar (makasih buat grup 13 yang telah menyadarkan kita semua tentang hal simple ini ;D)

Setuju dengan opini G17. "Improving social life", memang hal inilah yang seharusnya menjadi tujuan akhir dari keberadaan semua teknologi, tidak hanya broadband.

Mayoritas masyarakat kita masih bingung dan kurang pengetahuan tentang bagaimana memanfaatkan broadband untuk meningkatkan produktivitas mereka. Untuk itu kami rasa sangat PERLU dilakukan edukasi publik tentang pemanfaatan broadband yang baik.

Sudah banyak kejadian buruk terjadi di negara kita akibat minimnya pengetahuan dan kurangnya kesadaran masyarakat. Contoh yang paling gampang: maraknya penebangan hutan liar & buang sampah tidak pada tepatnya. Mudah-mudahan hal serupa tidak terjadi dalam konteks broadband. Masyarakat kita perlu dididik.

Memang, sepertinya hal ini merupakan pekerjaan yang luar biasa berat dan mahal (dari segi biaya, tenaga, waktu). Tetapi, mencegah lebih baik daripada mengobati. Edukasi broadband sebaiknya dilakukan sejak dini, sebelum masyarakat kita jatuh terpuruk lebih dalam lagi ke tingkat produktivitas yang lebih rendah.

Sekarang, PR siapakah ini? Pemerintah? Operator? Vendor? LSM? Institusi Pendidikan? :D
Jawabannya kembali lagi pada point no 4. di atas, diri kita sendiri dulu =)

Group 23,
Peter 13206092
Hefri 13206118

deeto88 said...

Kelompok G21
Dito Anggodo 13206109
Angelia Hermawan 13206076

Membahas mengenai potensi masyarakat Indonesia yang sangat besar menyangkut dunia broadband serta optimalisasinya dalam menunjang kehidupan masyarakat Indonesia, tentunya sangat terkait erat juga dengan sudah seberapa besar pengetahuan dan wawasan masyarakat terhadap dunia broadband itu sendiri. Sejauh ini, menurut kami pribadi masih cukup sulit untuk menargetkan bahwa seluruh masyarakat di Indonesia mampu memahami serta memanfaatkan teknologi broadband ini secara maksimal. Secara tingkat pendidikan akademik saja masih cukup rendah, belum lagi bila meninjau masih banyaknya lokasi-lokasi yang belum terjamah akses media transmisi penunjang teknologi broadband tersebut. Tinggal bagaimana sekarang pemerintah sebagai regulator yang berwenang dalam merencanakan arah perkembangan dunia telekomunikasi, terutama broadband, dan sinergisasinya dengan pengembangan kondisi masyarakat Indonesia.
Kami melihat, sebenarnya semua tergantung dengan pola kebijakan pemerintah. Apabila pemerintah memang ingin mengejar teknologi broadband melayani hingga seluruh pelosok daerah di Indonesia tanpa terkecuali, menurut saya secara teknologi cukup memungkinkan, selama memang ada investor-investor yang secara kontinu mau menunjang program tersebut. Namun, masalah berikutnya yang ,mungkin muncul adalah edukasi terhadap masyarakat, yang selama ini belum mengenal teknologi tersebut. Namun, apabila pemerintah menargetkan untuk meningkatkan taraf hidup dan optimasi fungsi media telekomunikasi dalam proses edukasi serta membuka wawasan masyarakat, mungkin tidak ada salahnya bila langkah yang ditempuh dengan memanfaatkan teknologi yang relatif akrab dengan masyarakat di pelosok-pelosok.
Salah satu contoh teknologi aplikasi yang mampu meningkatkan kehidupan masyarakat pelosok dengan teknologi yang lebih akrab di mereka yaitu radio. Mengadopsi karakteristik radio komunitas untuk mengembangkan masyarakat Indonesia secara menyeluruh menurut kami cukup potensial untuk saat ini. Dengan teknologi yang relatif telah dikenal oleh masyarakat, maka pemerintah dapat terlebih dahulu meningkatkan taraf edukasi dan wawasan masyarakat terhadap dunia broadband internet. Sehingga nantinya ketika memang sudah memungkinkan untuk beralih ke dunia broadband internet, masyarakat dapat dengan baik menerima teknologi tersebut dan memanfaatkannya secara maksimal.
Kemungkinan ini menurut kami, tetap tidak menutup kemungkinan pemerintah mengambil langkah untuk memilih opsi yang satunya lagi. Seperti yang diungkapkan dalam perkuliahan bahwa saat ini dan ke depannya, arah perkembangan industri broadband akan cukup banyak berkisar di aplikasi atau content. Peningkatan kebutuhan masyarakat semakin mendorong kemajuan tersebut. Namun demikian, pemerintah juga tidak dapat mengenyampingkan faktor edukasi dan pengadaptasian masyarakat terhadap teknologi ini serta bagaimana cara pemanfaatannya secara positif. Tanpa hal ini, maka dunia broadband internet akan terus berkembang, namun efek positif keberadaannya juga akan stagnan di posisi ini, kurang membawa efek positif bagi perkembangan masyarakat.
Sebagai mahasiswa teknik telekomunikasi, menurut kami potensi untuk berkarya dan terjun di dua opsi yang kami tulis di atas sangat memungkinkan. Menjadi seorang enterpreneur di bidang telekomunikasi adalah kemampuan untuk melihat peluang yang ada di pasar dan memanfaatkannya sesuai dengan kemampuan kita. Toh, meskipun perkembangan dunia telekomunikasi secara global telah berlandaskan broadband, namun belum tentu solusi teknologi radio broadcasting tidak efektif untuk negara dengan kondisi seperti Indonesia. So, berkarya di bidang radio broadcasting atau broadband internet, kita pasti bisa.

Mr. Black said...

kelompok 26
Tubagus Damar A. 13206036
Sepanya Pasaribu 13206150

Kebutuhan manusia akan transfer informasi yang lebih cepat telah memicu perkembangan teknologi nirkabel yang semakin pesat. Hal inilah yang menjadi pemicu utama berkembangnya teknologi broadband yang menawarkan akses yang dapat memenuhi kebutuhan costumer. Di negara kita, teknologi ini sudah cukup familiar terutama di daerah perkotaan. Si daerah pedesaan, perkembangan teknologi broadband masih mengalami kendala dimana hal ini terjadi karena daerah pedesaan bukan merupakan daerah yang cukup menjanjikan dalam memperoleh keuntungan sehingga banyak operator yang mengurungkan niatnya untuk mengembangkan teknologi ini di daerah tersebut.

Kita sudah mengetahui bahwa negara kita merupakan pasar yang empuk dalam perkembangan teknologi ini, dimana besarnya jumlah penduduk Indonesia menjadi faktor utamanya. Hingga saat ini, perkembangan teknologi broadband di Indonesia dapat dikatakan tidak terlalu ketinggalan dengan negara lain, bahkan sudah dapat dikatakan baik. Akan tetapi, yang menjadi permasalah saat ini adalah adanya penyimpangan dari tujuan utama dibuatnya teknologi broadband ini, dimana yang dulunya tujuan utama pembuatan teknologi ini adalah untuk tujuan edukasi dan bisnis untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan produktifitasnya telah berubah menjadi hanya sebagai alat hiburan saja, atau untuk "just killing time". Adanya perkembanga dunia hiburan seperti games online juga ikut ambil bagian dalam kesalahan penggunaan teknologi broadband ini. Tentunya fakta seperti ini cukup memprihatinkan di negara kita, mengingat untuk waktu yang cukup lama, negara kita hanya sebagai pengguna teknologi saja, tanpa mampu mengerti dan membuat teknologi tersebut.

Seperti yang sudah dijelaskan bahwa masyarakat Indonesia hanya ingin menggunakan bandwidth yang rendah saja untuk keperluan browsing sehingga pengguna jasa jaringan sudah cukup puas dan tidak terlalu memrlukan teknologi broadband dengan kecepatan tinggi. Hal ini merupakan salah satu penghambat berkembangnya teknologi broadband karena adanya kesalahpahaman pola pikir antara pengguna dan operator. Saat ini, pelanggan menginginkan bandwidth yang besar dengan harga yang murah. Tentunya hal ini membuat operator semakin pusing untuk memenuhi kebutuhan ini. Akan tetapi, perminataan pelanggan juga cukup beralasan, berhubung di negara-negara maju penggunaan teknologi telekomunikasi relatif lebih murah terutama jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya dimana tarif telepon relatif sangat mahal. Faktor-faktor tersebut merupakan beberapa kendala yang berperan besar dalam perkembangan teknologi broadband di negara kita.

Masalah seperti ini merupakan permasalahan yang cukup sulit untuk ditanggulangi, mengingat hal ini sudah menjadi kebiasaan dan Life Style dari masyarakat Indonesia. Untuk mengatasinya perlu adanya turun tangan dari pemerintah dan pihak operator yang bersedia memberikan penyluhan mengenai kegunaan dari teknologi broadband ini sehingga nantinya teknoogi broadband ini dapat berkembang sesuai dengan tujuan utamanya.

arief said...

Menurut kami, hal yg patut digarisbawahi adalah perihal keengganan operator untuk memberikan edukasi kepada masyarakat.
Hal ini terjadi karena bagi operator, pemberian edukasi tersebut bisa saja tidak
memberikan pengaruh yg positif bagi mereka, sebaliknya malah bisa memberi keuntungan bagi operator pesaing. Jika terus terjadi hal ini dapat memberikan dampak yg buruk, seperti menurunkan tingkat produktivitas masyarakat.

Kesimpulan kami, edukasi kepada masyarakat atas penggunaan broadband oleh operator dibutuhkan, karena masyarakat harus disadarkan akan penggunaan teknologi broadband yg tidak hanya mencakup situs jejaring sosial, atau perilaku konsumtif lainnya, namun lebih ke penggunaan teknologi yg tepat guna dan memberikan manfaat.

Kelompok G11,
Arief Saksono 13206022
Aryo Wicaksono 13206115

ismi_mazaya said...

Seperti yang sudah diutarakan oleh rekan-rekan di atas, bahwa ternyata prilaku sebagian besar penduduk Indonesia masih bersifat konsumtif. Hal ini menyebabkan efisiensi penggunaan layanan broadband menjadi tidak optimal. Padahal, sebenarnya tingkat kreativitas penduduk Indonesia, khususnya mahasiswa, tidaklah buruk. Terbukti dengan banyaknya ide-ide kreatif yang diperlombakan pada PKM yang diadakan oleh DIKTI setiap tahunnya. Menurut saya, peran pemerintahlah yang sangat dibutuhkan disini. Pemerintah sebagai pembuat kebijakan (regulasi) harus memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para kreator konten. Kalau tidak salah, iTunes melakukan kerja sama dengan para kreator konten dengan cara memberikan 97% hasil penjualan kepada mereka, sementara untuk perusahaan hanya 3% saja. Dan sepertinya para operator di Indonesia harus mengadopsi model bisnis yang seperti ini agar bisnis konten di Indonesia dapat berkembang (dan komunikasi gratis dapat terwujud:) ). Begitu juga dengan mobile payment/e-payment, pemerintah harus mengatur penuh dalam hal security dan jaminan bertransaksi secara online. Sehingga para pedagang tidak ragu lagi menawarkan produknya dan orang-orang tidak merasa was-was untuk membeli produk secara online melalui portal bisnis. Sepertinya Indonesia sudah harus mulai menerapkan prilaku cerdas dalam berinternet, tidak melulu hanya berkutat seputar chatting, facebook-an, twitter-an, atau sekedar downloading, sudah saatnya Indonesia kreatif dengan meningkatkan jumlah uploading konten-konten yang kreatif & edukatif. Oya, kalau tidak salah PT.Telkom sekarang sedang berusaha membangun portal musik (seperti iTunes), bisnis (seperti e-Bay), dan edukasi (seperti wikipedia). Semoga harapan demi harapan kita tentang aplikasi layanan broadband di Indonesia bisa terwujud. terima kasih.

23209019

Heru said...

G30
Heru Wijanarko (13205149)
Andre Muslim Dubari (13205081)

Menurut kami Indonesia merupakan pasar yang potensial bagi perkembangan teknologi broadband. Namun disayangkan, hasil dari perkembangan teknologi broadband tidak dimanfaatkan oleh penggunanya untuk hal yang produktif. Hal tersebut dikarenakan kultur yang terbentuk di masyarakat ialah layanan broadband untuk mengakses jejaring sosial. Sebaiknya edukasi dilakukan oleh operator seiring dengan mereka meluncurkan produk. Selain itu, diharapkan bagi industri aplikasi agar menghasilkan aplikasi-aplikasi yang dapat memancing produktivitas & kreativitas masyarakat atau pengguna layanan.
Semoga kedepannya perkembangan teknologi broadband diikuti oleh perkembangan atau peningkatan produktivitas pengguna layanannya.