Sunday, March 14, 2010

Holistic in Broadband & Entrepreneurship - G19

[Authors: Beny Nugraha, Habibur Muhaimin (G19)]
Q1: Bagaimana perihal penawaran perangkat teknologi terbaru ?
A1: Operator di Indonesia akan memprioritaskan benchmark dari produk yang ditawarkan bukan tentang fungsi yang ditawarkan. Pertimbangannya adalah apa teknologi tersebut telah sukses di pasaran sebelumnya ? Bagaimana dengan ROI (Return of Investment) ?cash flow antara yang dibelanjakan dengan yang dikeluarkan haruslah jelas di awal.

Q2: Seiring adanya broadband diharapkan produktivitas meningkat. Namun, yang terjadi tidaklah demikian. Mengapa bisa terjadi ?
A2: Persaingan antar operator di Indonesia sangatlah ketat. Edukasi yang dilakukan oleh satu operator akan dimanfaatkan operator lain dengan menunggu hasilnya dan merespon dengan meluncurkan produk. Untuk developor, baiknya membuat aplikasi yang mengandung nilai dan pertimbangkan jika ingin mengembangkan aplikasi yang telah ada seperti social networking : facebook dan twitter. Selain dibutuhkan usaha yang keras, juga kembali ke ROI. Cost meluncurkan produk yang paling besar terletak di advertising. Aplikasi yang bersifat temporal dan juga aplikasi yang memanfaatkan momentum tertentu. Aplikasi yang diharapkan adalah aplikasi yang berguna meskipun simple. Contoh aplikasi tersebut adalah aplikasi monitoring sekolah dimana guru dan orang tua dapat mengontrol anak muridnya. Operator dapat memanfaatkan aplikasi tersebut untuk menutupi pendapatan dari voice yang semakin turun.

Q3: Pengembangan teknologi telekomunikasi mana yang lebih didahulukan ?apakah di desa atau di kota ?
A3: Kesempatan di desa lebih terbuka luas meskipun pada saat ini perputaran uang berpusat di kota. Terdapat daerah-daerah tertentu yang menjadi source of revenue, seperti daerah pertambangan dan daerah dimana para bupati berlomba menjadikan daerahnya desa mandiri dengan membangun internet pedesaan Line of Sight. Tantangan lainnya adalah kebutuhan desa yang spesifik, seperti bagaimana petani menjual hasil pertaniannya secara efektif, selain itu juga tantangan topologi geografis. Keuntungan di desa adalah lebih tahan krisis ekonomi.

Q4: Bagaimana trend perkembangan aplikasi di Indonesia ke depan ? apakah cenderung offline ataukah online ?
A4: Kecenderungan ke depan malah membutuhkan keduanya. Akan semakin banyak aplikasi yang membutuhkan campuran keduanya, misal pada saat registrasi. Menurut Pak Yohannes, Pembagian aplikasi malah lebih ke arah segmentasi pengguna. Sebagai contoh, aplikasi untuk kalangan usia muda diberikan di gratis di awal dan selanjutnya berbayar jika ingin terus digunakan. Hal tersebut berbeda dengan aplikasi perbankan yang menggunakan sistem online secara real time.

Q5: Peringkat Indonesia dalam hal pemanfaatan jaringan dan pengaruh pada kehidupan sosial berada di peringkat bawah. Mengapa ?
A5: Pengaruh pemanfaatan jaringan ke peningkatan kesejahteraan di Indonesia kecil. Sebagai contoh, expatriat di Indonesia sering terheran-heran melihat gadget orang Indonesia yang canggih-canggih. Di negara maju, user memprioritaskan fungsi, sedangkan di Indonesia yang dilihat adalah fitur. Kita dapat melihat gadget keluaran China yang dipenuhi banyak fitur, meskipun nantinya yang digunakan hanya itu-itu saja.


Opini G19: Kami beranggapakan bahwa pendidikan TIK di Indonesia masihlah perlu digalakkan. Perubahan paradigma dari pemakai menjadi penghasil memang tidak hanya menjadi tantangan di sektor TIK, melainkan di sektor-sektor lain, seperti migas dan hampir semua sektor di Indonesia. Namun, ketika user TIK tidak lagi terbatasi kendala seperti terjadi di sektor lainnya -waktu, modal, dan tempat-, sudah seharusnya user TIK tersebut dengan koneksivitas sudah dapat menjadi produsen.

Kesempatan besar kita berkecimpung mengembangkan aplikasi menanti kita. Seperti diungkapkan di atas, sebenarnya dengan mengandalkan konektivitas, dunia telah berada di telapak tangan. Simple step sekaligus signifikan solusi yang kami ajukan adalah dengan membentuk komunitas-komunitas yang unik. Komunitas akan membentuk lingkungan dengan semangat sama, menuju tujuan bersama. Komunitas akan men-trigger anggotanya untuk terus mengembangkan kemampuannya. Selain itu, interkoneksi antar masyarakat TIK -pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat umum- akan lebih mudah terjalin dan dikembangkan.

    Share | Save

    Subscribe

6 comments:

priambada said...

G27
Iman Firmansyah 13206133
Priambada Aryaguna 13206170

Membaca Q5 di atas, mau tak mau saya tersenyum sendiri. Setuju perihal Indonesia memiliki masyarakat yang unik. Masyarakat dengan mayoritas penyuka fitur daripada fungsi. Saya ingat waktu pertama kali datang ke Bandung dengan status mahasiswa. Selain kaget karena dinginnya minta ampun, cara hidup masyarakat disini jg mau tak mau membuat saya kagum (karena waktu itu berbeda dengan di Semarang, kota kelahiran saya). Disini handphone menjadi barang yang sangat umum, sampai-sampai mulai driver (sopir angkot) hingga penjual rujak memiliki hp (di kota saya jarang sekali saya liat yang seperti ini). Yang lebih wah lagi, hp yang dimiliki tergolong memiliki fitur bejibun(dengan model menjadi prioritas utama tentunya). Kalau saya perhatikan, fasilitas yang paling sering digunakan tetap saja sama, call dan sms service. Jadi balik lagi, apa nda sayang kalau tidak dipergunakan secara maksimal itu ponselnya?

Setuju lagi dengan opini G19. Memang perlu untuk merubah mindset dan kultur masyarakat kita dari konsumen ke produsen dan konsumen (kalo jadi produsen semua nanti nda oye donk :D). Tampaknya perlu ada pendidikan dan pengarahan tentang bagaimana mempergunakan teknologi yang ada dengan baik dan benar. Tidak hanya sebatas bisa memakai tetapi jg bisa mengetahui apa saja yang bisa diperbuat dengan teknologi tersebut. Hal yang sama perlu jg dalam kehidupan ber-broadband kita. Seandainya Indonesia sudah menjadi negara fungsi, broadband pasti menjadi lauk kita sehari-hari yang sangat umum, mudah, nikmat, dan pasti menguntungkan. Meminjam suatu iklan, broadband bikin hidup lebih hidup =).

Terima kasih.

shendiary said...

Group 7
Shendiary Aviolanda (13206050)
M. Shiddiq (13206074)

Kami sangat tertarik dgn pertanyaan Q2 dan Q5, yaitu tentang kondisi di Indonesia sekarang, dimana produktivitas masyarakat masih rendah di era broadband ini. Menurut kami, mungkin hal ini terjadi akibat pola hidup masyarakat sendiri yang cenderung konsumtif dan untuk mengubahnya pasti butuh usaha yg sangat sulit. Olehkarena itu, lebih baik kita mulai dari diri kita sendiri dulu. Setelah itu barulah disebarkan ke lingkungan sekitar kita. Edukasi ke masyarakat jg dirasakan perlu dilakukan oleh pihak2 terkait. Selain itu, diharapkan operator, vendor, dan industri jg dpt bekerja sama membuat aplikasi2 yang memancing produktivitas masyarakat.

Sudah selayaknya, seperti komentar G27 di atas, broadband yang bikin hidup lebih hidup, dapat kita manfaatkan untuk membuat sesuatu yg berguna. :)

Terima kasih.

fadhila said...

G2 :Giri dan Hana

Mengenai perilaku masyarakat Indonesia yang cenderung konsumtif sudah cukup disinggung oleh kedua teman saya Priambada dan Shendi, begitu pula dengan opini dari G19.

Mungkin Priambada menyebutkan supir angkot sudah dari lama menggunakan telepon selular. Contoh ekstrim lainnya yang bisa saya tambahkan adalah saat ini pelajar yang masih duduk di bangku SMA pun tidak jarang kita temukan menggunakan Blackberry (maaf sebut merk :D). Apakah hal ini sungguh berguna, dimana fitur yang kebanyakan mereka gunakan adalah call, sms, messenger, internet, dan seputarnya. Malah menurut saya lebih berguna jika orang tua mereka membelikan sebuah netbook (dari segi harga kurang lebih sama) namun lebih bermanfaat dan dapat meningkatkan produktivitas mereka sebagai pelajar.

Menurut saya, sudah saatnya kita memperbaiki 'budaya' kita. Menjadi masyarakat yang bijak dalam menggunakan teknologi sehingga negara ini pun maju dibuatnya :)

aryo said...

G24
Aryo Pambudi
Christ Marcel

Memang masalah yang dibahas oleh G7 dan G2 merupakan masalah yang sangat santer beredar di masyarakat Indonesia saat ini, khususnya di kalangan remaja.
Budaya konsumtif ini semakin lama semakin parah, saya mengenal seseorang yang membeli BB tapi dia tidak mengaktifkan internetnya, ketika saya tanya mengapa, dia hanya bilang "Malas ah repot ga ngerti.."
"????", masih untung orang yang tidak memanfaatkan fitur sepenuhnya dari sebuah smartphone dan memang hanya memakai fitur chat, BBM, dll daripada memang membeli smartphone ini hanya murni untuk gaya.
Bahkan saya pernah mendengar cerita tentang sekelompok perempuan anak SMA yang 'patungan' meminjamkan salah satu temannya hanya untuk membeli BB.

Menurut saya kejadian seperti di atas sudah terlalu parah dan sangat harus untuk dihindari.
Betul kata Giri & Hana dimana 'budaya' kita lah yang harus kita benahi, konsumtiflah untuk sesuatu yang memang benar-benar kita butuhkan

wibisana jaka said...

-G31-

Haryo Septoria P. (13206033)
Wibisana Jaka Sembada (132060
=================================

Karena beberapa komentar sebelumnya membahas pertanyaan 5 (Q5), maka kami mencoba memberikan komentar terhadap pertanyaan tersebut:D Menurut kami, memang sebagian masyarakat Indonesia lebih memperhatikan fitur dibandingkan fungsi. Akan tetapi, ada juga masyarakat yang membutuhkan gadget dengan fitur-fitur tersebut untuk melakukan belajar. Contohnya, ada beberapa teman saya yang mengganti/meng-upgrade OS (Operating System) dari HP mereka. Hal ini tentu hanya dapat dilakukan pada handphone merk tertentu yang harganya tidak murah. Selain itu, ada juga yang mencoba membuat aplikasi-aplikasi yang dijalankan pada handphone. Akan tetapi, memang lebih banyak masyarakat yang lebih mementingkan kebanggaan pribadi menggunakan suatu gadget yang "wah" dibanding masyarakat yang menggunakan gadget tersebut untuk pendidikan.

Untuk menanggapi pertanyaan 3, menurut kami pengembangan TIK di pedesaan memang penting. Akan tetapi, yang tidak boleh dilupakan adalah mengenai pendidikan masyarakat pedesaan. Untuk melakukan pengembangan TIK di pedesaan, perlu dilakukan peningkatan pendidikan masyarakat pedesaan sehingga mereka sadar bahwa TIK dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.

zahara said...

G14:
Zahara Yulianti 13206018
Nur Inayah Yusuf 13206138

Memang benar yang disebutkan G31 bahwa ada juga masyarakat yang membutuhkan fitur-fitur untuk pembelajaran, tapi paling hanya segelintir orang. Mengapa? yah, Indonesia gitu lho...Krisis ekonomi tidak menjadi penghalang sifat konsumtif masyarakat.

Karena itulah, seperti yang telah dituliskan temnan-teman di atas, mari kita memperbaiki budaya kita. Mulail dari diri sendiri dengan membeli barang yang benar-benar 'dibutuhkan' bukan barang yang 'diinginkan'. Tapi alangkah lebih baiknya lagi jika sifat konsumtif masyarakat Indonesia dibarengi pula dengan produktifitas.

Best Regard,
G14