Sunday, March 14, 2010

Holistic in Broadband & Entrepreneurship - G20

[Authors: Johan Sunaris, Felix Jatmiko (G20)]
Q1: Bagaimana pendapat Bapak mengenai kesenjangan broadband dengan kebutuhan saat ini? Lalu, bagaimana mitigasi dari operator, contohnya operator selular yang perang tariff dengan user?

A: NSN telah menjadi mitra kerja terutama operator-operator dua besar telekomunikasi di Indonesia. Sewaktu NSN datang ke operator-operator tersebut untuk menawarkan produknya, operator-operator tidak bertanya tentang fungsi apa yang dapat ditawarkan oleh produk tersebut, tetapi mereka menanyakan benchmark dari produk tersebut, seperti di mana produk ini pernah sukses? Dengan kata lain operator tidak mau dijadikan “kelinci percobaan”. Karena pada umumnya hal ini berkaitan dengan ROI (Return of Invesment), berapa yang dibelanjakan dan berapa pemasukan yang dapat diperoleh harus jelas sejak awal. Sehingga kesan pertama sewaktu menawarkan produk adalah ROI harus bisa dipertanggungjawabkan.

Q2: Broadband pada awalnya bertujuan untuk meningkatkan produktivitas. Mengapa sekarang terlihat berbeda? Bagaimana dengan teknologi developingnya?

A: NSN pernah mengingatkan operator untuk melakukan edukasi untuk meningkatkan efisiensi. Namun persaingan di operator sangat ketat. Apa yang dilakukan lawan saingnya, operator langsung bereaksi. Mereka tidak menerima jika setelah mereka melakukan edukasi, hasilnya dimanfaatkan oleh lawan saingnya. Jadi ketika salah satu operator melakukan edukasi pasar, operator lain hanya menunggu hasilnya lalu melawannya dengan meluncurkan produk. Jadi cost edukasi dibiarkan operator lawan yang mengedukasi untuk menanggungnya.

Sehingga apa yang perlu developer lakukan? Sewaktu membangun aplikasi, buatlah aplikasi yang memiliki nilai lebih yang berbeda. Pertimbangkan aplikasi yang sudah memiliki nama seperti Facebook, Twitter, dan sebagainya. Dibutuhkan usaha yang ekstra keras untuk bisa menyaingi aplikasi yang sudah memiliki nama besar seperti itu. Namun di luar hal itu perlu dipertimbangkan kembali masalah ROI-nya.

Jika mempertimbangkan ROI, keuntungan yang besar adalah aplikasi yang berhubungan dengan advertising. Khususnya aplikasi yang bersifat temporer. Ada pula aplikasi yang diluncurkan sewaktu terjadi momentum tertentu seperti hari raya. Yang perlu diingat adalah bahwa pendapatan operator dari voice sudah sangat turun. Banyak tarif yang menuju nol rupiah. Karena itu mereka mencari cara untuk menutupi kekurangan ini, salah satunya adalah dengan menawarkan aplikasi. Jadi bagi pengembang aplikasi, tidak perlu membuat aplikasi yang kompleks, namun aplikasi dapat sederhana namun sangat menarik minat dan bermanfaat.

Q3: Utilisasi di kota dan di pedesaan berbeda. Pengembangan aplikasi di desa atau di kota, mana yang lebih didahulukan? Bagaimana optimalisasi fasilitas di desa?

A: Perputaran uang sebagian besar ada di kota, sedangkan di desa sangat kecil. Namun jangan menganggap remeh pedesaan. Memang beberapa desa yang hanya memiliki kepala keluarga sekitar 40 orang tidak dapat diharapkan lebih. Beberapa kasus, seperti di daerah pertambangan, perputaran uang juga cukup besar. Daerah seperti ini cukup banyak dan merupakan source of revenue.

Banyak bupati di Indonesia yang memiliki dana untuk menjadikan desanya mandiri. Beberapa contohnya adalah membangun internet pedesaan. Dan ini merupakan lahan yang baik. Jadi pembangunan aplikasi di desa dan di kota sama-sama diutamakan.

Selain itu kebutuhan desa sangat spesifik. Sebagai contoh, selama ini petani menjual hasil panennya secara manual. Namun teknologi sangat membantu. Ini dapat dilakukan dengan membangun aplikasi yang mempermudah jual beli hasil panen petani. Selama ini persaingan sangat ketat di daerah perkotaan. Kita perlu berpikir bahwa ada segmen tertentu yang juga menjanjikan yang belum tergarap secara maksimum seperti di daerah pedesaan.

Hal lain yang perlu diperhatikan, dampak krisis ekonomi sangat berpengaruh di daerah perkotaan. Dan bagi pedesaan, tantangan utama lebih cenderung pada sisi geografisnya.

Q4: Trend di Indonesia, aplikasi bersifat offline atau online?

A: Kedua aplikasi berkembang berbarengan. Ini lebih cenderung kepada target penggunanya. Bagi pengguna yang muda, aplikasi cenderung kepada aplikasi yang bersifat offline. Namun kalau masuk ke sektor seperti sektor perbankan, tentu aplikasi bersifat online.

Q5: Peringkat Indonesia dalam hal pemanfaatan jaringan dan pengaruhnya pada kehidupan sosial (driven by customer) berada pada peringkat bawah dibandingkan dengan negara-negara lain. Apakah customer kurang tertarik dengan hal-hal seperti ini? Atau karena hal lain?

A: Ini terkait dengan produktivitas. Di Indonesia, pengaruh dalam peningkatan kesejahteraan sangat kecil. Dan semangatnya memang berbeda dengan yang ada di luar negeri. Indonesia memiliki pasar yang kurang baik. Di negara yang maju, orang-orangnya lebih melihat ke fungsi sedangkan di negara berkembang seperti di Indonesia, orang-orangnya lebih memandang ke fitur yang dapat diperoleh walaupun fitur ini tidak digunakan secara maksimal. Dapat dilihat bahwa sekarang banyak handphone keluaran Cina yang memiliki fitur yang banyak. Hal ini tidak bisa dihindari di Indonesia. Jadi developer cukup mengembangkan aplikasi yang sederhana dan mudah digunakan sebab banyak orang di Indonesia yang kurang mengerti dalam menggunakan aplikasi dengan benar.


Menurut kami, kuliah tamu kali ini yang dibawain Bapak Yohanes Denny sangat menarik. Pada presentasinya dipaparkan berbagai fakta bahwa Indonesia berkembang sangat pesat dalam penggunakan jaringan internet. Namun mungkin dikarenakan internet berkecepatan tinggi merupakan sesuatu yang baru maka Indonesia memiliki tingkat abusive user yang cukup tinggi. Selain itu, posisi Indonesia berada di posisi yang sangat rendah dalam hal pemanfaatan jaringan (driven by customer) dibandingkan negara tetangga kita, Malaysia yang berada pada peringkat tertinggi. Hal ini cukup menarik bagi kami, karena kami disadarkan dengan fakta bahwa pengguna internet di Indonesia dan fasilitas internet di Indonesia berkembang sangat pesat, namun terkait dengan pengaruhnya yang masih rendah terhadap produktivitas bangsa Indonesia. Hal-hal inilah yang dapat dijadikan tantangan bagi mahasiswa-mahasiswa penerus bangsa Indonesia di masa yang akan datang.

    Share | Save

    Subscribe

6 comments:

Ulil Wicaksana said...
This comment has been removed by the author.
Ulil Wicaksana said...

GB5

Agintha Pradewi (23208355)
Ulil S. Zulpratita (23209010)

Ponsel saat ini memang bukan semata-mata sebagai alat komunikasi untuk kegiatan produktif, tetapi telah menjadikannya sebagai gaya hidup (lifestyle) dan status sosial. Dengan kemajuan teknologi saat, ini ponsel bahkan dilengkapi dengan pemutar MP3, kamera video, radio, games, jam, calculator bahkan GPS (Global Positioning System). Sehingga menjadikan ponsel sebagai gadget yang wajib dibawa. Apalagi dengan kemunculan wireless broadband yang memungkinkan mobile entertainment melalui handphone. Bahkan beberapa orang lebih rela ketinggalan dompet daripada ketinggalan ponsel saat bepergian. Sebab, melalui ponsel layanan perbankan hingga dompet digital siap digunakan untuk bertransaksi dan pengambilan tunai, kapan dan di mana saja. Tak urung, ponsel tidak bisa dipisahkan dari gaya hidup masa kini (mobile lifestyle). Gaya hidup penuh mobilitas tidak akan berarti tanpa didukung jaringan terluas berkualitas yang mampu menghubungkan pelanggan dengan berbagai informasi dimana pun tanpa mengenal waktu.

Sebagaimana yang disampaikan Pak Denny, bahwa sebagian besar pengguna teknologi internet di Indonesia tidak produktif karena memanfaatkan internet hanya untuk kebutuhan personal, tidak untuk menunjang produktivitas. Akibatnya, budaya konsumtif yang berkembang subur. Padahal tujuan penyediaan akses broadband adalah untuk mendukung produktivitas. Perilaku orang Indonesia paling banyak everywhere user. Artinya, buka internet di mana pun dia berada dengan menggunakan segala macam akses, seperti fixed high speed access, mobile network, dan hotspot. Tren masyarakat untuk mengakses internet untuk kebutuhan personal, seperti situs jejaring sosial seperti Facebook atau hiburan seperti Youtube, sebenarnya bisa menjadi pasar potensial bagi operator atau industri kreatif untuk mengembangkan aplikasi buatan dalam negeri sehingga lebih produktif dan lebih menguntungkan ekonomi Indonesia.

Dari hasil survei yang dilakukan oleh NSN diketahui, bahwa ternyata masyarakat tidak membutuhkan akses internet dengan kecepatan tinggi karena aktivitas masih berkisar di e-mail, unduh dan unggah data, video streaming, browsing, serta online game. Masyarakat tidak terlalu peduli pada kecepatan, lebih pada kenyamanan. Jadi sebenarnya operator tidak perlu lagi genjot-genjotan kecepatan. Kecepatan bukan segala-galanya. Sesuai perkembangan zaman, kini yang dibutuhkan justru aplikasi pendorong produktivitas dan bukan lagi kecepatan semata.Sudah saatnya operator menggandeng industri membuat aplikasi bandwidth rendah, tetapi mendorong produktivitas.

Anggita said...

G4
Anggita Hapsari 13206034
Muhammad Tito 13206134

menanggapi fakta bahwa masyarakat di indonesia belum memanfaatkan teknologi broadband dengan maksimal, dimana sesungguhnya teknologi ini ditujukan untuk meningkatkan produktivitas, timbul pertanyaan apa yang seharusnya dilakukan untuk mengatasinya?

apakah dengan memberikan edukasi pada konsumen? mungkin hal tersebut memang dapat menjadi solusi akan tetapi bagaimana jika pada kenyataannya seperti yang dipaparkan oleh Pak Denny bahwa para operator tidak tertarik memberikan edukasi tersebut pada konsumen karena takut hasilnya hanya akan dimanfaatkan oleh lawannya. singkat kata, tidak ada yang mau menjadi kelinci percobaan.

akan tetapi kami beranggapan, mungkin memang harus ada yang dijadikan "kelinci percobaan" jika menginginkan para konsumen teredukasi dengan baik mengenai efisiensi dari penggunaan teknologi broadband ini. Jika tidak, ektrimnya masyarakat indonesia akan terus berada pada kondisi saat ini dimana sebuah teknologi yang sangat "wah" hanya dipergunakan seperlunya tidak semaksimalnya.

baiknya jika edukasi ini dilakukan tidak oleh si kelinci percobaan tapi oleh semua operator. tapi apakah itu mungkin?

salam
totz&anggita ^^

sinung said...

B4
Nana Sutisna 23209054
Sinung Tegar Pribadyo 23209021

Internet broadband, alias akses Internet dengan kecepatan tinggi ternyata baru sekadar mendukung gaya hidup penggunanya di Indonesia. Efek di kehidupan pribadi adalah meningkatkan kehidupan sosial pemakainya, sedangkan untuk produktivitas masih kecil, apalagi untuk menunjang kegiatan bisnis dan pemerintahan.

Pemanfaatan broadband di Indonesia lebih berbasis pada sisi konsumerisme dan masih dalam rendah dalam infrastruktur dan ICT. Pengguna broadband juga masih dalam masa transisi ke arah gaya hidup.

Uniknya, kebanyakan pengguna yang mayoritas adalah kalangan muda itu menggunakan akses broadband tersebut di rumah, bukan di kantor, kafe Internet, atau di perjalanan. Jadi sebenarnya terbuka peluang bagi operator untuk menciptakan industri kreatif dengan sentuhan personal.

Perilaku pengguna di tanah air maupun di dunia sebenarnya dari tahun ke tahun tidak berubah. Yang digunakan adalah aplikasi-aplikasi ber-bandwidth rendah. Mereka suka kepraktisan, alias model bayar kalau pakai, mengakses aplikasi-aplikasi yang tidak menyedot bandwidth, dan mobile sebagai gaya hidup, alias bersifat personal. Jadi sebenarnya yang diperlukan adalah solusi e-living yang tidak bisa lagi dipisahkan antara browsing, e-mail, download, dll.

Operator di Indonesia masih memperlakukan broadband bak potongan-potongan kue yang pada akhirnya memunculkan keluhan bahwa mereka tidak untung dan harus memangkas bandwidth. “Disarankan operator berpikir lebih jauh dari sekadar paket unlimited, time-base, volume-base, tapi masuk ke e-living, e-education, e-health, e-commerce, e-government. Lebih fokus ke pemakaian koneksi untuk meningkatkan berbagai aspek kehidupan. Operator harus bertransformasi dari pembagi kue menjadi customer data. Misalnya dengan menjual mobile voucher.

Aplikasi ponsel adalah bisnis yang menjanjikan, dan sudah saatnya Indonesia masuk ke e-living.

Yudha said...

Kelompok 28
Yudha Indrawan 13205004
Ikhsan Abdusyakur 13206088

Menurut kami ada beberapa hal yang bisa kita

lakukan untuk meningkatkan produktivitas pengguna internet di negeri ini. Salah satunya adalah:

memulai dari diri kita sendiri.
Mengapa?
karena sebagian besar dari kita (termasuk kami sendiri) belum memanfaatkan internet dengan optimal. Sebagai contoh:tidak banyak dari kita yang bisa atau pernah melakukan transaksi belanja Online. Misalnya memesan buku atau komponen elektronik tertentu. Atau misalnya melakukan aktivitas mobile banking. Atau misalnya seberapa sering/tertarik kah kita untuk meng-unduh video klip terbaru dari group musik SNSD dibandingkan dengan meng-unduh video kuliah dari MIT (atau mendownload video kuliah kapita selekta n_n) atau men-streaming berita-berita dari metro TV atau Arirang TV. Atau seberapa sering kita melakukan diskusi yang cukup serius dan cerdas pada forum-forum internet dibandingkan menyampaikan comment-comment yang sedikit nge-junk di FB

kita bisa membiasakan diri, keluarga, serta teman-teman kita terbiasa melakukan aktivitas yang produktif. Misalnya, mengajak adik kita untuk membuat blog atau meng-encourage ayah atau kakak kita untuk mempelajari hal-hal terkait dengan layanan mobile banking. Kita juga bisa Membujuk ibu kita untuk mencoba beberapa resep masakan dari internet.

Kesimpulannya, kita bisa merubah kebiasaan masyarakat di sekitar kita dengan terlebih dahulu merubah kebiasaan kita dan lingkungan kita. Saat semakin banyak masyarakat yang terbiasa beraktivitas secara produktif lewat internet, operator dan content provider pun tidak akan ragu untuk meluncurkan layanan/content yang bermanfaat.

Rifqy said...

G6
Rifqy Hakimi 13206043
Dimas Triwicaksono 13206061

Kami sangat setuju dengan opini dari teman-teman G20. Menanggapi fakta bahwa meskipun jumlah pengguna internet khususnya layanan broadband di Indonesia telah jauh meningkat dalam kuantitas, akan tetapi hal ini belum menyebabkan pengaruh yang positif bagi peningkatan produktivitas masyarakat penggunanya. Padahal, menurut statistik, mayoritas pengguna layanan broadband di Indonesia adalah generasi muda yang diharapkan mampu produktif sehingga produktivitasnya mampu menunjang perekonomian bangsa ini.

Menanggapi solusi-solusi yang telah dijelaskan sebelumnya oleh rekan-rekan dari G4 dan G28 di atas, kami juga sangat mendukung soludi tersebut. Memang benar, edukasi sangatlah diperlukan. Dan memulai untuk mengoptimalkan penggunaan layanan internet agar produktif, tentunya harus dimulai dari diri kita sendiri. Apalagi, kita sebagai mahasiswa telekomunikasi, yang kelak dikemudian hari menjadi tumpuan dalam memajukan dunia pertelekomuniakasian Indonesia.

Salam,
G6