Sunday, March 28, 2010

Development of Mobile Broadband - G24

[Authors: Aryo Pambudi, Christ Marcell (G24)]
Q1: Kenapa spectrum CDMA Bakrie dan Telkom saling menempati frekuensi carrier satu sama lain?

A1: Awalnya dialokasikan agar masing-masing memiliki frekuensi carrier masing-masing, namun di cross kan akibat migrasi frekuensi. Itu juga sesuai dengan kesepakatan kedua perusahaan.

Q2: Kenapa sampai sekarang WiMax belum beroperasi?

A2: Karena belum ada orang yang berani mengambil resiko dengan berinvestasi pada WiMax, dan juga ada rumor yang menyebutkan bahwa ini adalah bagian dari kepentingan investor dimana mereka belum balik modal dari investasi 3G yang mereka tanamkan. Maka pengoperasian WiMax “diundur-undur” dengan berbagai alas an kepentingan sehingga ada selang waktu untuk investor mendapatkan kembali hasil investasi mereka.

Q3: Apa banyaknya operator di Indonesia baik untuk Indonesia?

A3: Banyaknya operator di Indonesia menyebabkan lebih banyak keuntungan bagi pelanggan. Dimana para operator saling melakukan perang tarif, yang tentu saja cukup merugikan operator itu sendiri. Selain operator vendor pun mengalami kerugian atas terjadinya price war ini. Dan beberapa operator kecil yang sudah merasa kurang cukup bersaing dengan operator mapan sudah merencanakan untuk merger agar tetap dapat bertahan, karena dalam kasus ini pun berlaku seleksi alam dimana yang kuat bertahan, dan yang lemah akan punah.

Q4: Telkomsel dan Indosat masing-masing memiliki 5 produk, bagaimana hal tersebut mempengaruhi operator itu sendiri?

A4: Hal tersebut tampaknya bukan masalah bagi operator itu sendiri, dikarenakan tiap produk memiliki target pasar yang berbeda-beda.

Q5: Sehubungan dengan bedanya alokasi bandwidth di Indonesia dengan di luar negri, apakah perangkat WiMax di Indonesia dapat digunakan di luar negri?

A5: Pemerintah masih memaksakan menggunakan 16d, padahal banyak pihak yang berpikir bahwa 16e lebih tepat karena untuk migrasi ke teknologi yang lebih baru dari 16e mungkin hanya sekedar merubah software, tidak perlu ganti hardware (perangkat) yang biayanya cukup mahal. Diperkirakan karena kebijakan bisnin dimana teknologi sebelumnya belum balik modal.

Opini
Seminar kemarin cukup menarik, dapat dilihat dari antusiasme peserta dalam mengajukan pertanyaan. Cukup disayangkan waktu yang terbatas menyebabkan banyak pertanyaan tidak sempat terjawab. Topik yang dibahas sangat menarik, dimana peserta diminta untuk membayangkan bagaimana perkembangan teknologi komunikasi di masa depan. Kemudian pembicara memutar film tentang hal tersebut, dimana semua tampak bagitu visible jika dihubungkan dengan teknologi yang sudah ada di masa sekarang ini.

    Share | Save

    Subscribe

7 comments:

dimas said...

kelompok 6 said :

mengutip pernyataan Q & A di atas :
Q2: Kenapa sampai sekarang WiMax belum beroperasi?

A2: Karena belum ada orang yang berani mengambil resiko dengan berinvestasi pada WiMax, dan juga ada rumor yang menyebutkan bahwa ini adalah bagian dari kepentingan investor dimana mereka belum balik modal dari investasi 3G yang mereka tanamkan. Maka pengoperasian WiMax “diundur-undur” dengan berbagai alas an kepentingan sehingga ada selang waktu untuk investor mendapatkan kembali hasil investasi mereka.

bukannya itu masih spekulasi di industri.
kalau menurut kami, hal ini juga berkaitan dengan lisensi wimax yang masih belum jelas juga. Selain itu, alangkah baiknya kita bersabar, dengan pertimbangan pelanggan 3G juga belum sebanyak yang ditargetkan bukan? (mungkin alasan biaya yang mahal dan lain2)

Nah, mungkin dengan kebijakan TKDN bisa membuat wimax menjadi lebih terjangkau bagi masyarakat. (dengan adanya komponen yang di buat di dalam negeri tentu akan membuat biaya menjadi lebih murah)

Andromeda said...

G18 :
Niki Adytia P (13206077)
Deon Arinaldo (13206199)

Kami setuju dengan pendapat dari grup 6 mengenai alasan belum beroperasinya WiMax sampai sekarang. Kami hanya ingin menambahkan alasan lainnya, yakni pemerintah sampai saat ini masih bersikukuh untuk menerapkan standar 802.16d yang notabene masih bersifat nomadic. Para investor berpandangan minimal kita harus menggunakan standar 802.16e yang sudah mendukung handoff, selain itu untuk berpindah ke standar yang lebih baru tidak membutuhkan perubahan yang radikal.

Kami setuju dengan kebijakan TKDN. Namun, sejauh ini TKDN hanya dipenuhi melalui pembelian bahan baku saja, sehingga "kesannya" hanya sekedar memenuhi syarat saja, Alangkah baiknya jika program ini disertai juga semavam program untuk mendorong perkembangan industri manufaktur hardware di Indonesia.

fadhila said...

G2: Giri Kuncoro dan Fadhilah Hana

Memang kalau ditinjau lebih dalam mengapa sampai saat ini teknologi WiMax belum juga beroperasi, akan muncul beberapa alasan logis seperti yang telah disebutkan diatas. Lisensi yang belum jelas, penerapan standar yang belum pasti apakah d atau e, dan lain sebagainya.

Namun tetap saja spekulasi tersebut akan terus muncul (yang mengatakan ini semua merupakan 'taktik' investor). Kemungkinan besar spekulasi tersebut datang dari orang awam atau pengamat lainnya.

Apapun itu yang menyebabkan teknologi WiMax menjadi terhambat, mari kita doakan agar cepat terselesaikan dan siap dilempar ke pasaran :D

Menanggapi tentang banyak operator di Indonesia, saya melihat hal inilah yang menjadi pemicu adanya adalah perang tarif beberapa tahun belakangan ini. Memang terlihat baik untuk konsumen. Tapi untuk operator? Saya menjadi berpikir, dari mana operator mendapatkan keuntungan yang besar, jika tarif yang mereka tawarkan relatif murah, sedangkan untuk membayar biaya BHP saja butuh jumlah yang sangat banyak.

Di bayangan saya, mungkin di masa yang akan datang operator-operator ini akan mengalami 'seleksi alam' sehingga kita para konsumen tidak terlalu pusing lagi memilih operator mana.

Rizqi said...

Grup 10:
Rizqi Hersyandika (13206040)
Aldy Pradana (13206079)

Menanggapi Q3: "Apa banyaknya operator di Indonesia baik untuk Indonesia?"

Kami sependapat dengan jawaban yang disampaikan, bahwa dengan banyaknya jumlah operator akan meningkatkan persaingan antar-operator melalui perang tarif. Adanya perang tarif antar-operator tersebut menyebabkan tarif telepon seluler cenderung mengalami penurunan. Akan tetapi, dengan banyaknya jumlah operator telekomunikasi di Indonesia, kemungkinan praktek monopoli pasar akan berkurang.

Selain itu, pengaruh lain dari banyaknya operator di Indonesia adalah semakin banyak pula fitur/servis yang ditawarkan oleh masing-masing operator. Saat ini para operator berlomba-lomba menonjolkan keunggulan dari fitur-fitur yang mereka sediakan. Misalnya saja AXIS dengan paket Blackberry termurah atau 3 dengan sms gratisnya. Sehingga dengan banyaknya operator, pengguna dapat lebih leluasa memilih operator mana yang cocok.

Susiana said...

Grup 29 :
Susiana Ekasari (13206042)
M. Nur Hidayat (13206059)


Mengomentari Q3, sebenarnya kami sangat menyayangkan keadaan di Indonesia yang memiliki belasan operator telekomunikasi. Mungkin praktek monopoli pasar akan berkurang dan pengguna lebih leluasa memilih operator mana yang cocok. Namun yang perlu diperhatikan adalah, keadaan ini akan mempersengit masalah perang tarif antar setiap operator.

Seperti yang kita tahu di mata kuliah Regulasi dan Kebijakan Telekomunikasi, operator besar tidak mungkin menurunkan tarifnya, apalagi jika dibanding dengan operator kecil yang lebih leluasa menurunkan tarif. Tapi logikanya semakin murah tarif, maka ARPU akan semakin kecil dan pada akhirnya pendapatan operator semakin berkurang. Dampaknya ada pada jumlah investasi operator yang semakin minim pula. Hasilnya, kualitas layanan operator akan semakin buruk.

Lagi-lagi ini menjadi PR bagi pemerintah untuk bertindak tegas dalam membuat regulasi dan kebijakan, apalagi jika ternyata layanan operator memang sudah tidak sesuai standar lagi. Jadi tidak cuma sekedar menegur, tapi memfasilitasi untuk merger dengan operator lain, misalnya.

Menyoroti masalah WiMax, memang pada kenyataannya perkembangan teknologi akses WiMax di Indonesia masih terlalu lambat sejak ditender pada pertengahan 2009 lalu. Padahal seharusnya dengan adanya teknologi ini, penetrasi broadband di Indonesia bisa tumbuh lebih pesat. Hal yang disayangkan lainnya adalah, menurut kami pemerintah kurang tanggap terhadap perkembangan teknologi yang semakin cepat. Di saat negara-negara lain sudah mengadopsi teknologi WiMax 16e, pemerintah masih tetap pada keputusannya untuk mengadopsi standar 16d. Padahal investasi untuk 16d saja pasti sudah mahal, apalagi jika nanti harus mengganti standar menjadi 16e, investasi di standar 16d akan sia-sia.

shendiary said...

Group 7
Shendiary Aviolanda (13206050)
M. Shiddiq S.H. (13206074)

Menanggapi pertanyaan Q2 beserta jawabannya, kami berpendapat bahwa sesuatu seperti ini tidaklah sehat. Berita yang menimbulkan spekulasi seperti ini seharusnya diperjelas, karena rumor yang beredar bisa saja menyangkut kepentingan orang banyak. Bagaimana jika teknologi ini dapat membantu banyak sektor di negara kita? Bagaimana jika ternyata penelitian pada wimax ini menggunakan uang negara yang berarti uang rakyat juga? Kami pribadi berpendapat bahwa jika investor harus rugi akibat hal ini, itu sebagian besar merupakan kegagalan mereka dalam memprediksi, jadi pihak konsumen seharusnya sebisa mungkin tidak terkena imbasnya.

Mengenai pertanyaan Q3, kami setuju dengan jawaban pembicara bahwa alam yang akan menyeleksi jumlah operator di negara kita. Namun sempat terlintas di benak kami kemungkinan untuk memberikan kepercayaan mengenai hal ini kepada satu pemain saja, pemerintah misalnya, akankah hal ini menjadi lebih tertib dan menguntungkan bangsa ini?, karena tidak bisa dipungkiri bahwa sektor ini saat ini telah menjadi komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak, yang seharusnya diatur oleh pemerintah. CMIIW.

Terima kasih.

anantoep said...

Ya, memang banyaknya jumlah operator di Indonesia memicu terjadinya perang tarif sehingga pendapatan utama operator menurun. Di sisi lain, operator harus terus melakukan investasi untuk menambah kapasitas. Mungkin hal inilah yang menyebabkan "seleksi alam".

Akan tetapi, jangan lupa juga bahwa operator dapat mencari sumber pendapatan lain, contohnya pendapatan dari konten ataupun value-added service (VAS) lainnya (silakan lihat berita ini http://bataviase.co.id/detailberita-10439159.html). Memang saat ini VAS hanya menyumbang 5% pendapatan operator, namun di tahun 2010 pendapatan dari VAS diprediksi akan meningkat *hmm,, jadi ingat kuliah kapsel beberapa minggu yang lalu yang menyebutkan bahwa 2010 itu tahunnya aplikasi mobile* Meskipun demikian, konten-konten yang disediakan harus tepat guna dan disesuaikan dengan masyarakat sehingga pendapatan dari konten semakin besar. Akan lebih baik lagi jika konten-konten tersebut menunjang peningkatan produktivitas sehingga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat dan perekonomian bangsa.

G17 - Ananto Eka P. (13206008)/Irvan Supradana (13206130)