Sunday, March 28, 2010

Development of Mobile Broadband - G22

[Authors: Yuris Mulya S, Hermanto (G22)]
Munculnya sebuah teknologi baru selalu berawal dari sebuah mimpi. Dengan mimpi, maka inovasi akan tercipta. Salah satu contoh mimpi yang sudah sangat fenomenal di dunia teknologi yang telah menghasilkan inovasi adalah industri otomotif yang diciptakan oleh Soichiro Honda. Beliau mampu membuktikan bahwa sebuah mimpi dapat mengubah kehidupan banyak orang, seperti yang dapat kita lihat pada teknologi telekomunikasi saat ini. Perkembangan teknologi telekomunikasi telah berkembang sangat pesat, sehingga kita tidak dapat membayangkan teknologi telekomunikasi apa lagi yang akan muncul 5 hingga 10 tahun yang akan datang. Seperti yang telah kita ketahui, teknologi telekomunikasi yang sedang marak dikembangkan saat ini adalah program USO (Universal Service Obligation) dan sistem belajar online (blended learning). Sebagian orang telah mampu membayangkan teknologi telekomunikasi canggih pada satu dekade yang akan datang, sebagai contoh :

  • Petani dan nelayan di daerah terpencil dapat dengan mudah menerima informasi yang dibutuhkan sesuai dengan profesi mereka, misalnya informasi mengenai cuaca, iklim, dan keadaan pasang surut air laut dengan mudah, cepat, dan akurat.
  • Setiap layanan Broadband dapat diatur sesuai dengan QoS yang dibutuhkan.
  • Adanya Base Station dengan energi angin dan panas matahari.
  • Layanan Broadband dapat diakses secara virtual dengan menggunakan sistem holography, misalnya video conference dapat dilakukan melalui media jam tangan dan kaca mobil, serta dapat mengakses berita dan informasi secara online yang ditampilkan pada majalah hologram.

Kemudian muncul pertanyaan dalam benak kita, apakah Indonesia akan mampu mengaplikasikan layanan-layanan tersebut?

Untuk saat ini, Indonesia baru dalam tahap mengembangkan teknologi Broadband. Jenis teknologi Broadband yang ada di Indonesia saat ini adalah teknologi Service dan Bandwidth, seperti social network, video streaming & download / multicast, high speed 3D & multiplayer games, video calling, dan high speed data connectivity. Biasanya layanan SMS, Voice, dan FTP hanya membutuhkan bandwidth yang kecil. Sedangkan audio / video download dan video streaming membutuhkan bandwidth yang lebih besar.

Mobile Broadband & Its Drivers

Dengan mempelajari perkembangan Mobile Broadband (MBB) di Indonesia, kita dapat mengetahui pertumbuhan teknologi yang mendorong MBB di Indonesia sekaligus mengetahui bagaimana MBB dikembangkan di Indonesia, serta mengetahui mengapa teknologi Broadband dapat berperan penting dalam pendapatan devisa Negara. Berdasarkan survey yang telah dilakukan oleh Mc.Kinsey&Company di berbagai Negara (selain Indonesia) pada tahun 2009, teknologi Broadband dapat meningkatkan GDP suatu Negara dari 0,6 % menjadi 0,7% per 10 % penetrasi, dan pengguna teknologi Broadband mengalami peningkatan sebesar 500 juta orang secara global.

Sejarah teknologi Broadband berawal dari tahun 1992, ketika user masih banyak menggunakan wireline, kemudian berkembang teknologi wireless sampai pada tahun 2008. Data subscriber juga mengalami perubahan pada tahun 2003, dari narrowband subscriber yang kemudian digantikan menjadi broadband subscriber sampai tahun 2010. Selain itu, telah diperkirakan pengguna Broadband akan mengalami peningkatan dari 17% pada tahun 2007 menjadi 48% pada tahun 2012. Teknologi lain yang telah mengalami perubahan adalah penggunaan Broadband Subscription Forecast, yaitu dari fixed menjadi mobile. Selain itu, ketika penggunaan teknologi GSM menurun dan penggunaan CDMA tetap, maka teknologi WiMAX dan LTE akan semakin meningkat sebagai teknologi penggantinya. Selama 8 tahun terakhir, mobile data traffic mengikuti fixed traffic offset, namun saat ini mobile broadband justru digunakan sebagai layanan lengkap dari fixed line. Pada tahun 2008, user berusia 16 tahun hingga 24 tahun lebih banyak menggunakan mobile broadband sebagai internet.

Ada beberapa faktor sebagai penentu perkembangan MBB di Indonesia :

  • Ketersediaan Content & Application, misalnya Web2.0, WOA (Web Oriented Architecture), Widget, dan Google Mobile ‘Instant Bid’.
  • Ketersediaan Terminal yang semakin beragam, aplikatif, dan terjangkau. Sebagai contoh laptop, netbook, smartphone, i-phone apple, HSPA terminal, output / input ready (big screen dan high performance).
  • Perencanaan Pricing yang matang agar dapat menghasilkan revenue yang maksimal. Misalnya menggunakan strategi A la Carto, pay per usage, dan flat rate (time base or quota base).
  • Biaya dan kapasitas jaringan : (a) Network capacity & cost dengan mobile capacity = 1/10 kali fixed capacity dan mobile cost = 10 kali fixed cost; (b) Transmission capacity & cost dengan mobile capacity = 50 kali fixed capacity dan mobile cost = 10 kali fixed cost; (c) Operation & Maintenance, misalnya transmission, deployment, dan civil works.

Mobile Broadband Technology

Perkembangan teknologi MBB berawal dari teknologi analog (1G) dengan analog voice, kemudian berubah menjadi teknologi digital (2G) dengan digital voice, lalu beralih ke teknologi IMT-2000 (3G) dengan voice and data, dan hingga saat ini sedang dikembangkan teknologi IMT-2000 advanced dengan teknologi MBB.

Dalam perjalanan menuju teknologi LTE, ada beberapa langkah untuk meningkatkan kinerja teknologi broadband dengan cara memperbaiki kapasitas voice dan data, yaitu :
  • CDMA-2000 1X menjadi CDMA-2000 1X Advanced
  • EV-DO menjadi EV-DO Rev B, yang selanjutnya direvisi lagi menjadi DO Advanced
  • WCDMA menjadi HSPA, yang selanjutnya direvisi lagi menjadi HSPA + (HSPA Evolved)
  • LTE menjadi LTE Advanced
  • WiMAX 802.16e menjadi WiMAX 802.16m

Mobile Broadband Development in Indonesia

Industri internet di Indonesia telah berkembang pesat dari tahun ke tahun. Hal ini terbukti dengan jumlah pengguna internet di Indonesia yang menduduki peringkat 15 besar di dunia pada tahun 2007, dan jumlah ini terus meningkat hingga tahun 2010 yang mencapai 36,61 juta pengguna, bahkan APJII telah mentargetkan pengguna internet per tahun akan mencapai 50 juta user dengan syarat tersedianya teknologi WiMAX. Saat ini, Indonesia telah memiliki 11 operator yang menawarkan berbagai macam produk dan fitur yang saling berkompetisi untuk mencari pelanggan yang salah satu cara dengan cara perang tarif.

Pada tahun 2009 beberapa operator di Indonesia berlomba-lomba untuk meningkatkan teknologi Broadbandnya. Sebagai contoh, Telkomsel mentargetkan peningkatan akses HSPA+ di 24 kota di Indonesia, Indosat telah melakukan ujicoba HSPA+ dan meresmikan kabel laut sepanjang 1300 km, XL telah siap mengembangkan LTE, Smart Telecom telah mengembangkan EV-DO Rev B, dan Huawei telah siap untuk memasok Palapa Ring.

Dari sisi kontribusi data revenue, layanan Broadband perusahaan Telkom Indonesia meningkat hingga 65,2% (Speedy), sedangkan Telkomsel meningkat hingga 1013%. Perusahaan Indosat, telah mengalami peningkatan revenue pada wireless broadband. Blackberry telah mengalami peningkatan revenue sebesar 2% dari total kontribusi revenue.

Pada perkembangan teknologi Broadband di Indonesia, ada 2 jenis spektrum frekuensi yang digunakan yaitu :
  • 3G (UMTS, HSPA) Spectrum : TSEL,ISAT, XL, NTS, dan HCPT
  • CDMA Spectrum : Mobile 8, StarOne, Flexi, BTEL, SmartTel, dan STI

WiMAX Development

Secara global, pengguna WiMAX di dunia mencapai 20 juta user, dengan 475 jaringan di 140 negara. Di Indonesia sendiri teknologi WiMAX telah mulai dikembangkan dengan menggunakan frekuensi 3,3 GHz yang telah diaplikasikan di kota Tasikmalaya dan Bandung. Beberapa band frekuensi WiMAX yang masih sedang diteliti untuk dikembangkan di Indonesia adalah 2,3 GHz untuk Trial Licensed Issues, 2,5 GHz dan 3,5 GHz untuk Commercial Licensed Issued. Pemerintah telah menetapkan bahwa teknologi WiMAX yang digunakan sebagai standar di Indonesia adalah WiMAX 802.16d. Perkembangan WiMAX di Indonesia terhambat oleh beberapa faktor, diantaranya faktor infrastruktur jaringan dan faktor regulasi pemerintah Indonesia yang menetapkan TKDN (Tingkat Kandungan Dalam Negeri) dalam Base Station sebesar 40%, dan dalam Subscribe Station sebesar 30%, sehingga menyulitkan penetrasi perusahaan-perusahaan telekomunikasi asing ke Indonesia.

Opini

Dari presentasi yang disampaikan oleh Bapak Dani dari Huawei, kami ingin menyampaikan opini mengenai regulasi pemerintah Indonesia mengenai perkembangan MBB di Indonesia. Menurut kami, penggunaan Broadband dalam aplikasinya di internet perlu mempertimbangkan ketersediaan jaringan dan infrastruktur dari jaringan internet itu sendiri. Untuk menekan sejumlah biaya penggunaan akses internet, ternyata tidak semudah yang kita kira. Tingginya akses ke konten luar serta mahalnya bandwidth internasional menjadi faktor-faktor penting dalam menyumbang biaya internet yang tinggi. Penerapan biaya akses broadband yang murah tentu bisa memacu penetrasi internet nasional. Namun kenaikan penetrasi internet nasional apabila tidak didukung oleh ketersediaan jaringan infrastruktur yang memadai, maka beban jaringan akan berlebihan dan akan merugikan pengguna internet itu sendiri. Saat ini beban bandwidth dari tahun ke tahun terus meningkat, seiring dengan tumbuhnya penetrasi internet. Untuk itulah perlu adanya kesediaan jaringan dan infrastruktur untuk mengantisipasi ledakan bandwidth di masa yang akan datang. Selain itu regulasi pemerintah yang menetapkan TKDN (Tingkat Kandungan Dalam Negeri) dalam Base Station sebesar 40% dan dalam Subscribe Station sebesar 30%, akan menyulitkan penetrasi perusahaan-perusahaan telekomunikasi asing ke Indonesia, sebagai akibatnya perkembangan teknologi MBB terutama WiMAX akan terhambat dalam realisasinya.

    Share | Save

    Subscribe

13 comments:

Pras said...

Prasetiyono Hari Mukti - 23208302
Nur Ibrahim - 23209007

--------

Memang benar bahwa suatu "penemuan" itu selalu diawali oleh mimpi. Karena tanpa memiliki mimpi, kita tidak mungkin bisa berpikir untuk membuat atau melakukan sesuatu.
Hanya saja yang terpenting adalah efek samping dari realisasi impian tersebut. Sebagai contoh, dalam bidang telekomunikasi, mimpi orang2 untuk menciptakan berbagai aplikasi dan teknologi yang mendukung komunikasi ternyata meningkat dengan sangat pesat. Untuk teknologi wireless misalnya berbagai varian teknologi telah tercipta dalam kurun waktu yang tidak lama. Namun dalam implementasinya ternyata tidak bisa serta merta diterapkan, banyak hal yang perlu dipertimbangkan adalah social effect dari penerapan teknologi tersebut menjadi positif. Sebagai contoh, kebijakan penerapan TKDN dalam implementasi teknologi telekomunikasi pun ternyata menurut saya merupakan suatu terobosan berani. Hal ini tentu akan mendorong Industri Dalam Negeri untuk "memeras otak" mengembangkan kemampuan dalam mengembangkan suatu teknologi. Sebagai contoh, ada suatu negara yang membatasi masuknya barang/teknologi dari luar, untuk kemudian mendorong Industri Dalam Negeri untuk mengembangkan barang/teknologi tersebut, dan ternyata dalam waktu yang tidak terlalu lama, nagara tersebut negara tersebut menjadi ekspotir barang sejenis yang cukup diperhitungkan. Itulah "The Real Power of Dream".

titotz said...

G4
Muhammad Tito S 13206134
Anggita Hapsari G 13206034

Mimpi adalah sesuatu hal yang akan membawa kita ke kehidupan yang lebih baik di kemudian hari..
Ya dengan makin berkembangnya teknologi, banyak hal yang dlu dirasa tidak mungkin skrg menjadi kenyataan. Ya sebagai contoh sederhana, HP yang dlu hanya digunakan untuk voice dan SMS ternyata skrg jauh berkembang menjadi gadget yang bisa melakukan banyak hal.

Melihat perkembangan teknologi ke depan, pasar yang akan berkembang ada pasar industri kreatif, dimana salah satu karakteristik dari pasar ini adalah ide-ide kreatif pada dasarnya dihargai. Memang tidak akan bisa mendapatkan suatu keuntungan yang sangat besar, tapi memperluas banyak orang untuk dapat mendapatkan keuntungan dari sana.

Banyak hal yang harus dipersiapkan untuk menyambut era teknologi baru, yang tentunya membutuhkan saran-saran dari para stakeholder nya..

Terimakasih atas perhatiannya...

firmanegotistic said...

G32
Firman Azhari (13206045)
Mangasi Napitupulu (13206143)

Kami kurang stuju dengan opini yang menyudutkan aturan tentang TKDN. Aturan tersebut justru digunakan agar iklim industri telekomunikasi di Indonesia tetap terjaga. Jika tidak ada aturan tersebut, produk asing akan dengan mudah masuk ke Indonesia, dan lagi-lagi Indonesia akan ketergantungan dan tidak mandiri.

Industri konten juga perlu ditingkatkan karena nihil yang bisa didapatkan dari google, yahoo, dll. Justru biaya yang dikeluarkan untuk menyerap konten asing yang makin lama makin besar, padahal biaya tersebut bisa dialihkan untuk pengembangan jaringan.

Selain itu sosialisasi penggunaan teknologi broadband perlu ditingkatkan, mengingat banyak masyarakat yang mempunyai device canggih tetapi belum memanfaatkan teknologi jaringan yang telah diimplementasi (contoh 3G).

Terima kasih.

Beny said...

G19
Beny Nugraha 13206017
Habibur Muhaimin 13206131

Kami setuju dengan regulasi pemerintah yang menetapkan TKDN (Tingkat Kandungan Dalam Negeri) dalam Base Station sebesar 40% dan dalam Subscribe Station sebesar 30%. Dengan regulasi ini diharapkan perusahaan-perusahaan telekomunikasi nasional dapat berkembang tanpa perlu terlalu khawatir dengan adanya persaingan dari perusahaan asing.

Menurut kami terlalu banyaknya jumlah operator di Indonesia yang mencapai 11 buah kurang efektif. Karena dari 11 operator tersebut pasti ada operator-operator yang bisa dibilang kurang mampu bersaing. Sehingga terpaksa merger dengan operator lain untuk dapat tetap "hidup".

Adanya peningkatan revenue layanan broadband dari perusahaan telekominikasi nasional dapat menjadi pemicu untuk mengembangkan layanan broadband yang lebih baru lagi. Namun tentu saja diperlukan adanya kemampuan masyarakat Indonesia untuk memiliki handset yang mampu mendukung layanan broadband tersebut.

Terima Kasih

aginta said...

GB5
Aghintha P (23208355)
Ulil Z (23209010)

------------------

Menanggapi komen teman-teman diatas, kami ingin mengingatkan kembali bahwa pesatnya perkembangan teknologi saat ini 'memaksa' setiap orang untuk 'tahu' akan teknologi. Untuk itulah, setiap program pemerintah yang berhubungan dengan Teknologi dan Informasi selalu disambut baik oleh pecinta teknologi di Indonesia. Namun perlu diingat juga, perkembangan teknologi di Indonesia yang terkendala oleh beberapa faktor menyebabkan kesenjangan digital di masyarakat. Penggunaan teknologi untuk peningkatan kualitas hidup di Indonesia hanya dapat dinikmati oleh sebagian orang saja. Perbedaan yang besar antara masyarakat yang dapat mengakses teknologi komunikasi, terutama internet dengan masyarakat yang tidak dapat mengakses teknologi mengharuskan pemerintah untuk jeli dalam menghadapi masalah ini.

febryansyah said...

G1
Febryansyah DR 13206007
Adipta SP 13206039

mentikapi kebijakan TKDN, saya merasa kebijakan tersebut terkesan setengah hati, kebijakan tersebut membuat produsen-produsen nasional tidak sepenuhnya berusaha untuk membuat komponen BTS. hal ini dikarenakan kebijakan yang masih memperbolehkan penggunaan komponen asing. sebaiknya persen penggunaan komponen dalam negeridinaikan sedikit demi sedikit

untuk pengaruh pengembangan MBB dengan GDP indonesia menurut saya akan tidak banyak berpengaruh. hal ini dikarenakan sifat masyarakat indonesia yang konsumtif. dan kebanyakan orang-orang itu merupakan price buyer, bukan value buyer. jadi untuk masalah konten, dan kualitas layanan. produsen hanya perlu mengeluarkan layanan yang sedang menjadi trend saat ini.

lucky said...

B-8
Lucky Andiani 23209053
R. Ali Fikri Mubarak 23208005

Industri telekomunikasi berkembang pesat di Indonesia diikuti dengan budaya masyarakat Indonesia yang cenderung konsumtif. Dan itu menjadi target pasar para service provider untuk mengembangkan berbagai fitur layanan yang akan ditawarkan. Dengan hadirnya teknologi mobile broadband tentunya menjadikan para operator saling berlomba-lomba untuk mengembangkan teknologi yang sudah ada dari berbagai aspek seperti meningkatkan kapasitas, meningkatkan kecepatan akses, serta menambah fitur/konten-konten layanan yang berbasis multimedia. Tentunya untuk memenuhi tuntutan pasar dan persaingan antar service provider yang ingin selalu menyediakan layanan yang terbaik dan tentunya murah. Tapi diharapkan dengan adanya perkembangan teknologi mobile broadband ini, tidak hanya akan meningkatkan kualitas mutu dari industri telekomunikasi di Indonesia tetapi juga pemerataan industri telekomunikasi di Indonesia sehingga daerah-daerah terpencil yang belum terjangkau layanan komunikasi dapat pula menikmati teknologi tersebut. Disinilah peranan pemerintah dan service provider untuk saling bekerjasama demi kemajuan penduduk Indonesia. Pengembangan konten-konten/fitur layanan yang dapat mendukung perkembangan industri kecil/ UKM di daerah-daerah dapat menjadi salah satu alternatif para penyedia layanan selain mengeluarkan layanan-layanan yang menjadi tren saat ini.

dimas said...

kelompok 6 said:

benar,, TKDN itu sengaja dibuat, bukan untuk tidak memajukan perkembangan teknologi di Indonesia, akan tetapi lebih mendorong pelaku industri dalam negri untuk menggunakan SDM dan SDA yang ada di indonesia. dengan begitu, bangsa kita tidak mululu menganggarkan dana yang teramat besar hanya untuk belanja teknologi dari luar negeri.
walaupun sedikit demi sedikit, namun saya sangat setuju dengan kebijakan pemerintah ini.
toh juga, kalaupun pemercepatan teknologi dilakukan, penggunanya juga masih sedikit.

Johan said...

Kel 20 :
Johan Sunaris (13205005)
Felix Jatmiko (13206149)

Kuliah tamu kali ini sangatlah menarik. Pembukaan kuliah tamu ini berupa pemicu bagi mahasiswa-mahasiswa untuk mengembangkan mimpinya, mengenai bagaimana suatu mimpi berubah menjadi suatu inovasi dan teknologi. Adanya teknologi yang berkembang saat ini pun dapat menjadi dorongan tersendiri untuk mengembangkan inovasi-inovasi.

Selain itu, mahasiswa mendapat pengetahuan mengenai Wimax. Perkembangan Wimax di Indonesia dapat dikatakan cukup berkembang seiring dengan penelitian Mobile Broadband Technology (untuk Wimax sudah WiMAX 802.16m). Namun di Indonesia masih terdapat beberapa kendala seperti regulasi pemerintah dan keberatan operator dalam investasi perangkat-perangkat baru untuk Wimax.

zahara said...

Grup 14
Zahara Yulianti (13206018)
Nur Inayah Yusuf (13206138)

Perkembangan teknologi berawal dari mimpi-mimpi. Dengan mimpi, inovasi dan kreasi akan tercipta seiring dengan kebutuhan yang semakin meningkat dari masyarakat. Untuk mencapai mimpi tersebut, tentunya Indonesia harus mampu mengembangkan teknologi broadband salah satunya.

Kami setuju dengan opini diatas, penggunaan akses internet di Indonesia lebih banyak ke konten luar. Oleh karena itu, biaya penggunaan bandwith pun semakin besar. Padahal, sebaiknya kita bisa memaksimalkan ketersediaan jaringan untuk penggunaan internet tersebut. Semoga penggunaan teknologi internet ini bisa digunakan dengan bijak oleh semua masyarakat secara merata.

Terima kasih

dtha said...

Kelompok 13:
Ditha N (13205010)
Roy BVB (13206203)

Kami punya pendapat yang berbeda dengan G22. Justru menurut kami penerapan TKDN dalam hal ini adalah langkah yang tepat. Salah satunya adalah untuk melindungi industri infastruktur dalam negeri ini. Belajar dari perdagangan bebas asia pasifik yang terbukti menimbulkan keresahan pada industri kecil dan menengah dalam negeri ini. Ketidakmampuan bersaing dengan produk-produk luar seperti cina telah membuat beberapa industri dalam negeri gulung tikar. Sama halnya dengan kondisi di atas, tidak adanya TKDN, menurut kami akan mengancam keberlangsungan industri infrastruktur dalam negeri karena sekali lagi tidak bisa kita pungkiri industri kita belum siap bersaing dengan para pelaku bisnis infrastruktur asing. Selain itu kami juga melihat bahwa kebutuhan akan teknologi Wimax di negara ini belum terlalu mendesak apalagi bila kita bicara soal penerapan teknologi mobile broadband di Indonesia, hal tersebut masih dapat dipenuhi oleh teknologi GPRS. Jadi, sekali lagi menurut kami, untuk saat ini, melindungi industri dalam negeri jauh lebih penting dibanding tergesa-gesa mengejar negara lain dalam membangun suatu teknologi yang kenyataannya belum terlalu penting. Terima kasih...

girikuncoro said...

Kelompok 2
Giri Kuncoro (13206009)
Fadhilah Hana Lestari (13206014)

Mimpi seorang Soichiro Honda yang berhasil meraih kesuksesan dalam industri otomotifnya setelah melalui berbagai macam kegagalan merupakan kisah kesuksesan yang mirip dengan kisah yang dialami oleh Thomas Alfa Edison. Siapa yang tidak kenal Thomas Alfa Edison? Dalam hidupnya ia telah mengantongi 3000 paten penemuan melalui penelitiannya. Dan kisah penelitiannya yang paling terkenal adalah saat beliau menemukan lampu bohlam setelah melalui percobaan sebanyak 50 ribu kali. Tanpa mengenal lelah beliau mencoba bahan apa yang cocok untuk mengisi ruang hampa di bohlam sampai beliau menemukan gas argon yang paling pas.

Lelaki kelahiran Milan, Ohio, AS 11 Februari 1847 ini tinggal disebuah rumah besar dengan dikelilingi pagar besi. Para tamu yang akan masuk kedalam rumahnya harus membuka pintu gerbang besi yang amat berat, dan kemudian menutupnya kembali sampai benar-benar tertutup.

Sebagai ilmuwan produktif yang banyak membuat penemun baru, tentu ia banyak dikunjungi tamu. Apalagi ia pernah memiliki pabrik dan laboratorium dengan 3000 karyawan. Suatu ketika, seorang teman dekatnya mengeluh kepada Edison betapa ia harus menguras banyak tenaga setiap kali membuka dan menutup gerbang rumah Edison.

Dengan mengerdipkan ekor matanya, Edison lalu mengantarkan seorang temannya naik tangga menuju ruangan diatap rumahnya. Disana terdapat alat-alat mekanis rumit yang terdiri atas beberapa pengungkit besi, kerekan dan pompa-pompa. Sang teman terheran-heran, apa maksud tuan rumah mengajaknya keruangan tersebut.

“Engkau pasti tidak tahu”, ujar Edison. “Setiap kali ada orang yang membuka dan menutup pintu gerbang depan, secara otomatis akan memompa satu gallon air kedalam bak penampungan air disini.”

Wow! Itulah kelebihan seorang Thomas Alfa Edison. Benar kata Aristoteles, seorang genius dilahirkan dengan disertai insting dan respon tehadap sesuatu secara tajam.

Kisah Soichiro Honda di awal pertemuan kuliah menjadi inspirasi kami untuk memberikan komentar di mata kuliah kapitaselekta ini. Semoga perjuangan tanpa mengenal lelah Soichiro Honda dan Thomas Alfa Edison yang kami ceritakan di paragraf sebelumnya menjadi inspirasi bagi kita semua, teman-teman mahasiswa, untuk bisa berkarya dan berinovasi secara nyata. Untuk Indonesia, dengan kemajuan teknologi telekomunikasinya.

Cheers,
Giri dan Hana

Irvan said...

Kelompok 17
Ananto Eka P 13206008
Irvan Supradana 13206130

Memang suatu keberhasilan berawal dari mimpi dan keinginan yang keras dari individu itu sendiri untuk merealisasikan mimpinya tersebut. Bila dilihat dari trend yang berkembang di bangsa kita, sangat jauh sekali bila kita dikatakan bangsa yang bisa merealisasikan mimpi2nya. Kita hanya bisa meng-adopt teknologi bangsa lain.

Sebagai contoh di dunia broadband, boro2 buat menciptakan teknologinya, pemakaian kontennya saja kita masih bangga menggunakan hasil karya orang. Widihhh....gimana bisa maju bangsa Indonesia. Kalau toh rakyatnya sangat bangga memakai teknologi orang tanpa berinisiatif mengembangkannya. Semoga semakin banyak muncul sang pemimpi2 muda di Indonesia ini (tapi jangan sekedar mimpi juga lho)...amiinnn