Sunday, March 28, 2010

Development of Mobile Broadband - G21

[Authors: Dito Prihastomo, Angelia Hermawan(G21)]
Diawali dengan ilustrasi kisah Soichiro Honda, pendiri kerajaan bisnis Honda, digambarkan bagaimana mimpi dapat menghasilkan suatu inovasi yang luar biasa. Demikian pula dalam bidang telekomunikasi. Inovasi demi inovasi teknologi berkembang pesat dekade terakhir ini, terutama teknologi Mobile Broadband (MBB).

Ada mahasiswa yang menggambarkan bahwa di masa depan broadband akan diterapkan di jam tangan untuk berbagai keperluan transaksi, bahkan menampilkan layar hologram. Ada juga yang membayangkan petani dapat menggunakannya untuk mengetahui perkiraan cuaca, nelayan menggunakannya untuk mengetahui posisi ikan. Atau aplikasinya di bangku perkuliahan, untuk aplikasi kuliah jarak jauh dengan video conference.

Sebenarnya bagaimana kondisi mobile broadband itu sendiri saat ini?

Saat ini sering dibahas dampak positif broadband sebagai pemicu peningkatan GDP (Gross Domestic Product). Menurut McKinsey, GDP berbagai negara bertumbuh rata-rata 0.6 sampai 0.7% per 10% penetrasi broadband.

Dari segi kesempatan bisnis, broadband pun cukup meyakinkan. Menurut Informa, pada tahun 2009 pengguna broadband baru mencapai 500 juta dari 6,75 miliar penduduk dunia. Trend peningkatan pengguna broadband menunjukan laju yang cukup tinggi sampai tahun 2010. It's going broadband. Dan dari laju pengguna trafik mobile data terlihat trend peningkatan seperti trafik fixed data, amat meningkat tiap tahunnya. So, it's going mobile broadband!

Terdapat 4 komponen yang berperan dalam pertumbuhan pengguna mobile broadband :
  1. Aplikasi dan konten : Berbagai aplikasi telah siap, seperti : Web 2.0, WoA, Widget, Instant Bid.
  2. Terminal : Berbagai gadget seperti desktop, laptop, smart phone, terminal HSPA yang semakin banyak produksinya. Segi terminal juga sudah memberi jalan untuk pertumbuhan mobile broadband.
  3. Harga : Para operator harus membuat stategi harga yang menarik. Dan jangan sampai terjadi perang tarif lagi. Pemerintah pun harus membantu membuat regulasi yang jelas.
  4. Jaringan : Jaringa mobile broadband belum seluas fixed broadband.

Tantangan untuk mobile broadband, diantaranya :
  1. Kapasitas jaringan dan biaya : kapasitas jaringan mobile data yang ada masih kurang 1/10 kali jaringan fixed data, sedangkan untuk jaringan mobile data biayanya 10 kali lebih besar dibanding jaringan fixed data.
  2. Kapasitas transmisi dan biaya : untuk transmisi membutuhkan kapasitas yang 50 kali lebih besar, dan biaya transmisi meningkat 10 kali.
  3. Operasi dan perawatan jaringan : untuk transmisi, penyebaran, dan civil works.

Bagaimana perkembangan mobile broadband di Indonesia?

Indonesia dengan 237 juta jiwa penduduk (data tahun 2010) merupakan target pasar yang menarik untuk bisnis mobile broadband. Sebanyak 36,1 juta orang diantaranya adalah pengguna internet. Atau dengan kata lain Indonesia berada di peringkat 15 dalam jumlah pengguna internet terbesar di dunia. Tetapi anehnya hanya kurang dari 1% untuk penetrasi broadband.

Indonesia memiliki 11 operator seluler yang 6 diantaranya menyediakan jasa layanan mobile broadband. Jumlah yang cukup banyak untuk total operator di suatu negara. Namun nyatanya perkembangan broadband di Indonesia masih jauh tertinggal dibanding negara lain.

WiMAX belum terealisasi di Indonesia karena adanya kendala di sisi regulasi. Spesifikasi WiMAX dan standarisasi pemerintah berbeda. Ada rumor yang mengatakan bahwa di Indonesia, dana yang dikeluarkan operator untuk 3G saja belum balik modal, sehingga tentunya tidak mungkin operator sudah invest lagi untuk teknologi yang lebih canggih.

Pengguna internet di Indonesia memang tinggi, target pasar juga menjanjikan, penetrasi broadband rendah, penyebaran perkembangan teknologi tidak merata, apakah broadband benar mampu meningkatkan GDP Indonesia?

OPINI

Di awal tulisan sudah dijelaskan bagaimana penetrasi broadband membawa dampak peningkatan GDP berbagai negara. Tetapi penetrasi broadband di Indonesia malah sedemikian rendah. Tentunya pemerintah harus memperhatikan hal ini.

Untungnya, di Portal Nasional Republik Indonesia : www.indonesia.go.id, pada tanggal 5 maret Dekominfo sudah menyatakan pihaknya akan bekerjasama dengan Investor Group Againts Digital Divide (IGADD) untuk mendukung percepatan penetrasi broadband atau akes internet pita lebar di Indonesia sampai 20% per individu atau sekitar 50 juta orang, dan institusi juga dapat memanfaatkan konektivitas internet berkecepatan tinggi pada 2012. Upaya ini dinyatakan bukan hanya untuk percepatan penetrasi saja, tetapi terkait pula dengan tarif yang terjangkau dan pemerataan akses.

Menkominfo Muhammad Nuh mengatakan kerjasama ini mempertimbangkan infrastruktur dan aplikasi yang digunakan bersama dengan teknologi broadband agar bermanfaat secara optimal bagi masyarakat Indonesia.

Menkominfo juga menambahkan akan ada satu sampel di daerah yang akan diuji coba untuk membuktikan dari aspek teknis dan dampak sosial dan ekonomi dari penggunaan broadband, sehingga dapat menjadi contoh bagi daerah lain. Untuk tahap awal, akan dilakukan uji coba penggunaan internet broadband kepada publik, sehingga dengan contoh yang nyata akan terbentuk replikasi dan modifikasi, melalui keragaman dan varibael teknologi yang ada di Indonesia.

Dalam kerjasama kedua pihak juga terdapat pengadaan riset dan laporan yang mempertimbangkan inovasi teknologi, finansial dan kebijakan publik yang mampu menarik minat investor untuk tercapainya target oleh The Habibie Center (THC).

Dari pernyataan pemerintah di atas, sudah terlihat langkah konkrit dari pemerintah untuk memanfaatkan ICT demi peningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dalam hal ini harus berperan adalah pemerintah, operator dan masyarakat, terutama kita sebagai kalangan akademik bidang telekomunikasi. Apa yang dapat kita bantu? Menurut kelompok kami, mungkin bantuan kita lebih ke bidang teknologinya. FYI, ITB pun ikut sebagai program pemerintah ini.

Diharapkan memang penggunaan internet di Indonesia yang sedemikian tinggi, bukan hanya untuk keperluan browsing, social networking, dsb. Tetapi untuk peningkatan ekonomi negara secara keseluruhan. Harusnya teknologi broadband yang ada sekarang ini pun sudah dikenal secara meluas oleh masyarakat sampai masyarakat daerah khususnya.

    Share | Save

    Subscribe

8 comments:

Haryo said...

Teknologi-teknologi canggih yang ada sekarang memang terlahir dari sebuah mimpi dan inovasi. Dua hal ini, yaitu mimpi dan inovasi merupakan faktor yang saling melengkapi dalam perannya melahirkan teknologi mutakhir masa kini. COntoh paling mudah yang bisa kita lihat, yaitu dalam film James Bond yang terdahulu. Siapa sangka handphone ultratipis dan jam tangan berfitur GPS benar-benar bisa tercipta dan digunakan sekarang ini :D

Pertumbuhan mobile broadband di Indonesia jika dilihat dari segi ketertarikan user cukup baik. Hal tersebut merangsang para operator penyedia jaringan memberikan layanan terbaik dengan harga bersaing dan kaya akan berbagai pilihan konten yang menarik. Satu hal yang mungkin dirasa masih kurang, yaitu kemerataan infrastruktur jaringan mobile broadband di Indonesia. Kami rasa pemerintah perlu lebih tegas terhadap para pemenang tender pengada infrastruktur jaringan mobile broadband untuk segera "menggelar" jaringan yang telah disepakati sebelumnya agar Indonesia tidak ketinggalan dalam mencicipi kemajuan teknologi informasi dan komunikasi level dunia, seperti WiMax.

Sebagai informasi tambahan, sudah ditetapkan para pemenang tender wimax, diantaranya PT Berca Hardaya Perkasa, PT First Media Tbk, PT Indosat Mega Media, PT Telkom, PT Jasnita Telekomindo, PT Internux, Konsorsium PT Comtronics Systems dan PT Adiwarta Perdania, serta Konsorsium WiMax Indonesia. Tiga perusahaan di antara mereka terancam batal gelar wimax, yakni PT Internux, Konsorsium PT Comtronics Systems, serta Konsorsium WiMax Indonesia disebabkan ketidakmampuan mereka membayar lisensi frekuensi dari batas waktu yang ditetapkan. Anehnya, pemerintah belum memberikan keputusan ataupun sanksi yang jelas pada mereka karena ada beberapa "excuses".

Harapannya tentunya kita dapat segera mendapatkan pengalaman menggunakan teknologi wimax ini untuk kemudahan mengakses layanan broadband, walaupun baru standar wimax 16.d (yg terbaru udah sampai 16.m dan Indonesia katanya bisa 16.e). Ayo, Indonesia Kita pasti bisa!!

-- Beberapa info di atas didapat dari link berikut:
http://www.detikinet.com/read/2010/03/29/154656/1327883/328/tiga-perusahaan-terancam-batal-gelar-wimax
http://www.detikinet.com/read/2010/03/29/142358/1327765/328/kominfo-bersih-bersih-frekuensi-wimax-23-ghz
--

Haryo said...

G31

Haryo Septoria P. (13206033)
Wibisana Jaka S. (13206089)

===============================

*maaf sebelumnya kalau double post,,lupa header grup* hehe


Teknologi-teknologi canggih yang ada sekarang memang terlahir dari sebuah mimpi dan inovasi. Dua hal ini, yaitu mimpi dan inovasi merupakan faktor yang saling melengkapi dalam perannya melahirkan teknologi mutakhir masa kini. COntoh paling mudah yang bisa kita lihat, yaitu dalam film James Bond yang terdahulu. Siapa sangka handphone ultratipis dan jam tangan berfitur GPS benar-benar bisa tercipta dan digunakan sekarang ini :D

Pertumbuhan mobile broadband di Indonesia jika dilihat dari segi ketertarikan user cukup baik. Hal tersebut merangsang para operator penyedia jaringan memberikan layanan terbaik dengan harga bersaing dan kaya akan berbagai pilihan konten yang menarik. Satu hal yang mungkin dirasa masih kurang, yaitu kemerataan infrastruktur jaringan mobile broadband di Indonesia. Kami rasa pemerintah perlu lebih tegas terhadap para pemenang tender pengada infrastruktur jaringan mobile broadband untuk segera "menggelar" jaringan yang telah disepakati sebelumnya agar Indonesia tidak ketinggalan dalam mencicipi kemajuan teknologi informasi dan komunikasi level dunia, seperti WiMax.

Sebagai informasi tambahan, sudah ditetapkan para pemenang tender wimax, diantaranya PT Berca Hardaya Perkasa, PT First Media Tbk, PT Indosat Mega Media, PT Telkom, PT Jasnita Telekomindo, PT Internux, Konsorsium PT Comtronics Systems dan PT Adiwarta Perdania, serta Konsorsium WiMax Indonesia. Tiga perusahaan di antara mereka terancam batal gelar wimax, yakni PT Internux, Konsorsium PT Comtronics Systems, serta Konsorsium WiMax Indonesia disebabkan ketidakmampuan mereka membayar lisensi frekuensi dari batas waktu yang ditetapkan. Anehnya, pemerintah belum memberikan keputusan ataupun sanksi yang jelas pada mereka karena ada beberapa "excuses".

Harapannya tentunya kita dapat segera mendapatkan pengalaman menggunakan teknologi wimax ini untuk kemudahan mengakses layanan broadband, walaupun baru standar wimax 16.d (yg terbaru udah sampai 16.m dan Indonesia katanya bisa 16.e). Ayo, Indonesia Kita pasti bisa!!

--
Beberapa info di atas didapat dari link berikut:
http://www.detikinet.com/read/2010/03/29/154656/1327883/328/tiga-perusahaan-terancam-batal-gelar-wimax
http://www.detikinet.com/read/2010/03/29/142358/1327765/328/kominfo-bersih-bersih-frekuensi-wimax-23-ghz
--

christ said...

G24
Christ Marcel
Aryo Pambudi

Menurut kami, bagaimana pembicara meminta peserta kuliah untuk membayangkan teknologi komunikasi di masa depan sangat baik. Disini peserta diminta untuk berkreasi kira-kira bagaimana perkembangan komunikasi dilihat dari keadaan teknologi itu sendiri dimasa kini, dan memang tidak bisa dipungkiri bahwa semua teknologi yang ada kini dulu diawali dari sebuah mimpi.

Broadband dimasa sekarang sudah sangat terasa kegunaannya. Walaupun teknologi ini masih sangat perlu dikembangkan kedepannya. Dengan adanya broadband, user menjadi jauh lebih "mobile". Dimana mereka tidak perlu mencari koneksi-koneksi internet, seperti WiFi atau yang lainnya. Mungkin untuk sekarang ini memang masih sangat kurang masyarakat yang tertarik dengan teknologi ini. Saya sendiri awalnya tidak tertarik untuk menggunakan mobile broadband, karena beberapa pertimbangan. Diantaranya kecepatan downlink dan uplink yang kurang dan saya awalnya berpikir bahwa akan sangat sulit untuk mendapatkan sinyal. Namun setelah melihat salah seorang teman saya yang menggunakan mobile broadband, saya jadi tertarik untuk mencobanya, dan sampai sekarang saya cukup puas untuk kinerjanya. Bukan tidak mungkin nantinya ada banyak orang yang awalnya berpikiran seperti saya akan menjadi tertarik menggunakan mobile broadband ini.

Gandhi said...

Kelompok 8

Rizki Primasakti 13206068
Ngakan N Gandhi 13206072

secara umum tulisan dan pandangan saudara-saudara kami Dito dan Angel sudah memuaskan. dalam dunia telekomunikasi, apapun teknologinya memang diperlukan kesinkronisasian "ring of fire" dari dunia telekomunikasi ini yaitu operator, konsumen dan pemerintah. opini dari kelompok kami hanya akan(kembali) melihat dari sisi budaya konsumerisme di Indonesia yang mempunyai hubungan berbanding terbalik dengan kepemilikan sumber daya teknologi dan klasifikasi taraf hidup masyarakat.

pertama-tama dari kalimat ini -> "Atau dengan kata lain Indonesia berada di peringkat 15 dalam jumlah pengguna internet terbesar di dunia. Tetapi anehnya hanya kurang dari 1% untuk penetrasi broadband". Dari kalimat ini kami menyimpulkan bahwa masyarakat Indonesia adalah gabungan dari 1)golongan masyarakat yang senang terhadap perkembangan teknologi informasi dan 2)golongan yang mengikuti perkembangan tren gaya hidup. artinya begini, golongan 1 adalah orang-orang yang berperan dalam penyediaan informasi pada masyarakat di "generic level" dimana golongan 2 adalah orang-orang yang merespon informasi dari orang-orang di golongan 1 dan kemudian yang berperan dalam penciptaan pasar. oleh karena itu sangat mudah dimengerti kenapa penetrasi teknologi broadband hanya mencakup 1%. karena orang-orang golongan ke 2 biasanya adalah orang dalam klasifikasi taraf hidup menengah keatas yang mempunyai akses lebih terhadap teknologi (golongan ini pada umumnya hanya umum ditemukan di kota-kota besar di pulau Jawa)

disisi lain, operator adalah pihak yang mempunyai kepentingan dari segi pasar. melihat bahwa penetrasi tren teknologi di Indonesia begitu cepatnya, mau tak mau Operator pun harus bergerak cepat agar ladang bisnis yang ada tidak tersia-siakan. sikap operator yang ini cenderung bersifat terburu-buru, sisi buruknya adalah. ketika operator telah berani mengeluarkan janji-janji jasa ke customer, penguasaan sisi teknologi mereka belum begitu siap. oleh karena itu (pada awal peluncurannya) seringkali terjadi kasus komplain jaringan 3G oleh BlackBerry user kepada pihak operator. ketika "janji" dan "kenyataan" tidak berjalan secara sinkron maka "spike-spike" komplain akan terus bermunculan dan hal ini dapat sangat mengganggu operator. oleh karena itu, kami pikir inilah salah satu alasan bawa penetrasi teknologi broadband di Indonesia belum begitu maju. harapan dari kami adalah bahwa kita-kita ini akan bisa menjadi titik tengah atau "fondasi kompor" dari "ring of fire" dunia telekomunikasi, demi Indonesia yang lebih baik

sedikit koreksi, menkominfo kabinet Indonesia Bersatu Jilid II adalah Tifatul Sembiring, bukan Muhammad Nuh

salam
-kelompok 8-

andre said...

Andre M D (13205081)
Heru Wijanarko (13205149)

Peningkatan permintaan broadband mobile di Indonesia memang sangat membanggakan dan memanjakan para penyedia produk serupa.
Namun melihat penetrasi mobile broadband yang masih sangat kecil harusnya pemerintah dapat menyegerakan penyelesaian perurusan regulasi berkaitan dengan isu ini.

Harapannya dengan segera selesai ny regulasi mengenai hal ini dapat segera merangsang berdirinya infrastruktur penunjang. Dan berbagai produk akan dapat membanjiri pasar dengan harga bersaing.

damar said...

Kelompok 26
Tubagus Damar Aryudika (132 06 036)
Sepanya Pasaribu (132 06 150)

Kami sangat setuju dengan pendapat kelompok 8 mengenai budaya konsumtif yang dianut masyarakat Indonesia. Selain perhatian yang diberikan pada implementasi infrastruktur dan pembuatan regulasi, perlu juga diperhatikan perilaku masyarakat sebagai internet user. Survey yang diselenggarakan oleh Yahoo!-TNS pada tahun lalu menjelaskan bahwa dari seluruh aktivitas penggunaan internet di Indonesia, persentase penggunaan internet banking dan transaksi online berturut-turut hanya sebesar 5% dan 3%.

Menurut Nokia Siemens Network, yang juga mengadakan survey mengenai internet user behaviour di Indonesia pada Desember lalu, penggunaan internet oleh masyarakat masih berkisar di e-mail, download dan upload data, video streaming, browsing, serta online game. Dari data yang menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia masih menggunakan internet untuk urusan personal ini, Nokia Siemens Network menyimpulkan bahwa internet user di Indonesia tidak produktif.

Sekali lagi, ini menjadi persoalan yang perlu diperhatikan. Jika budaya konsumtif ini tidak bisa diubah, penetrasi jaringan Broadband di Indonesia dapat dijamin tidak akan berbanding lurus terhadap peningkatan angka Gross Domestic Products negara. Seperti halnya masalah implementasi jaringan Broadband di Indonesia, usaha untuk mengubah perilaku para internet user ini juga butuh kerja sama dari tiga pihak terkait, yaitu pemerintah, industri, dan masyarakat.

shendiary said...

Kelompok 7
Shendiary Aviolanda (13206050)
M. Shiddiq S.H. (13206074)

Secara umum, kami setuju dengan paparan dari Bapak Dani dan opini dari Dito dan Angel.
Memang betul, sebuah inovasi pasti berawal dari sebuah mimpi dan harapan. Mimpi dan harapan itu pula yang akan mendorong kita sbg mahasiswa untuk terus berkarya untuk mewujudkan telekomunikasi Indonesia yang dapat bersaing, serta penetrasi dan persebaran yang merata. Selain itu, diharapkan pula karya kita dapat mendukung kebijakan2 pemerintah, salah satunya kebijakan mengenai TKDN yang telah ditetapkan (60%-40%). Kami setuju dgn kebijakan ini, karena dapat meningkatkan/memacu kemandirian Indonesia dlm menyelenggarakan komunikasi (tidak seterusnya bergantung dgn negara2 lain).

Terima kasih. :)

anan said...

Kelompo 9 :
Oriza N. Tarigan (13206075)
Nana Mulyana (13206166)

Terkait dengan mobile broadband, sebenarnya ada teknologi lain selain wimax, yaitu wifi mesh atau wireless mesh network.Wifi mesh merupakan sebuah jaringan telekomunikasi nirkabel yang memanfaatkan gelombang radio dengan topologi mesh. Komunikasi antara dua user dialirkan melalui beberapa node yang fungsinya sebagai information relay dari satu titik ke titik yang lain. Dengan wifi mesh kita bisa menghubungkan tiap node wifi sehingga coverage menjadi lebih luas. Tentu saja ada device wifi khusus untuk diimplementasikan pada wifi mesh ini. Teknologi ini telah diaplikasikan di bebrapa negara untuk kepentingan militer, video surveilance dll.

Berikut beberapa kelebihan wifi mesh dengan wimax :
- Telah ada 500 juta chip wifi di pasar. Wifi merupakant teknologi yang sudah “matang”, sementara itu wimax masih butuh waktu untuk berkembang. Tentu saja mengembangkan yang sudah ada tidak sesulit membangun yang baru
- Wimax CPE masih terbilang mahal. Ini berbeda dengan wifi CPE. Wifi CPE sudah terpasang secara otomatis di peralatan-peralatan mobile seperti laptop dan handphone. Dengan demikian wifi mesh tidak akan memberatkan konsumen secara ekonomi.
- Pada wimax, operator harus memiliki lisensi penggunaan frekuensi. Biaya untuk ini sangat mahal. Karena ini pula, beberapa operator wimax mundur. Untuk wifi, tidak perlu biaya lisensi frekuensi, alias gratis. Jika dibandingkan dalam masalah biaya set up, wifi mesh lebih murah daripada wimax.

Dengan demikian, wifi mesh dapat digunakan sebagai teknologi alternatif untuk mobile broadband sambil menunggu sampai wimax benar-benar siap. Setelah wimax siap, keduanya dapat dikolaborasikan sehingga memberikan kemanfaatan yang sebesar-besarnya untuk menunjang kebutuhan komunikasi masyarakat.