Sunday, March 7, 2010

Broadband in Our Life - G16

[Authors: Sutinah, Frida Kurniasih (G16)]

Q1: Pada saat ini, teknologi FTTH yang sudah diimplementasikan di Korea adalah 1-GEPON. Untuk perkembangan lebih lanjut, teknologi mana yang akan dipilih; 10 GEPON atau XGPON? Apa perbedaan antara kedua teknologi tersebut? Bagaimana tingkat kesulitan implementasinya?
A: Perkembangan teknologi tersebut di Korea sebenarnya mirip dengan di Jepang, yaitu menggunakan GEPON. Akan tetapi pada perkembangannya, Korea juga akan beralih menggunakan GPON. GEPON menggunakan standar IEEE dan mempunyai karakteristik 71% untuk upstream, serta 73% untuk downstream. Teknologi GEPON ini akan berkembang menajdi 10 GEPON. Sedangkan GPON menggunakan standar FSAN-ITU. GPON mempunyai karakteristik 93% upstream dan 94 % downstream. GPON akan berkembang menjadi 10 GPON atau WDM PON. Teknologi 10 GPON ini telah berhasil didemokan dalam aplikasi mobile backhole. XGPON mungkin merupakan salah satu dari 10 GPON atau WDM PON. Korea mungkin akan mengimplementasikan kedua teknologi di atas: 10 GEPON dan XGPON. Hal ini seperti yang terjadi di Indonesia dalam penggunaan GSM maupun CDMA.

Q2: Bagaimana perkembangan broadband di Indonesia dalam bidang kesehatan ?
A: Penggunaan broadband di Indonesia dalam bidang kesehatan masih sebagai sarana pendukung, di antaranya adalah sebagai media promosi dan data online. Dalam hal e-health care maupun e-medical, Indonesia belum mampu untuk mengembangkannya. Hal ini karena e-health care dan e-medical menggunakan aplikasi video dan image yang memerlukan bandwidth yang cukup besar sehingga membutuhkan biaya yang besar.

Q3: Siapa saja yang melakukan riset broadband di Indonesia ?
A: Untuk chipset WiMAX, satu-satunya perusahaan yang meneliti adalah XIRKA. Sedangkan untuk device, ada empat perusahaan yang ikut dalam riset, di antaranya adalah TLG.

Opini

Kuliah tamu sesi ke-4 oleh Pak Willy yang membicarakan tentang user dari teknologi broadband sungguh menarik sekali. Kuliah tamu ini membuat kami menyadari akan pentingnya peran pemerintah. Kami sangat salut dengan pemerintah Singapura yang sepenuhnya mendukung industri telekomunikasi di negaranya dengan mencanangkan program iN2015. Walau program tersebut belum terealisasi pada saat ini, tapi kami yakin program tersebut akan membawa perubahan yang sungguh besar dan tentunya mengarah ke hal-hal positif yang akan sangat berguna bagi masyarakat Singapura.

Alangkah bagusnya kalau pemerintah Indonesia bisa belajar dari negara tetangga kita itu. Dengan demikian, Negara kita pasti akan semakin maju. Sebenarnya kita juga punya beberapa program yang positif, di antaranya adalah Palapa Ring. Palapa Ring merupakan proyek pembangunan jaringan serat optik yang akan menghubungkan akses telekomunikasi seluruh wilayah Indonesia. Jika program ini terwujud, maka tidak akan terjadi jurang lebar dari sisi layanan komunikasi antara satu daerah dengan daerah lain terutama di wilayah terpencil, akibat dari perbedaan kemudahan akses di kota besar dan daerah terpencil yang sangat besar.Proyek ini telah dimulai pada November 2009 untuk wilayah timur Indonesia walau sebelumnya sempat terkendala karena persoalan teknis mulai dari diferensiasi nilai investasi akibat perubahan nilai mata uang hingga berbelitnya persoalan bahan baku. Agar proyek Palapa Ring ini dapat terealisasi dengan baik, maka diperlukan dukungan sepenuhnya dari pemerintah dalam mengatasi kendala-kendala yang ada.

Selain itu, peran serta pihak-pihak lain seperti operator dan masyarakat juga sangat penting. Salah satu penyebab terhambatnya proyek Palapa Ring sebelumnya adalah mundurnya beberapa operator telekomunikasi swasta sebagai investor dan pelaksana. Jika investor semakin banyak, maka proyek ini tentu akan berjalan dengan lebih baik mengingat biaya pembangunan dan pengoperasiannya yang tidak murah. Peran serta masyarakat, terutama kita sebagai Sarjana Telekomunikasi (sebentar lagi) juga sangat penting. Dalam proyek ini, Indonesia akan menggandeng negara Jepang karena Jepang memiliki pengalaman yang banyak dalam hal ICT dan SDM dari Jepang lebih maju, seperti yang dikatakan oleh Menkominfo. Memang kerjasama dengan Jepang itu bertujuan baik, tapi hal tersebut secara tidak langsung menyatakan bahwa SDM di negara kita itu tidak kompeten. Mungkin itu suatu kenyataan pada saat ini, tapi apakah kita mau terus mempertahankan kenyataan tersebut? Nasib bangsa Indonesia di masa mendatang berada di tangan kita semua. Ini merupakan TUBES (tugas besar) bagi kita sebagai calon Sarjana Telekomunikasi. Mari kita berusaha untuk Indonesia yang lebih baik.

    Share | Save

    Subscribe

8 comments:

anantoep said...

Kalau menurut saya, bukannya SDM kita kurang kompeten. Lihat saja, pemenang olimpiade sains tingkat internasional banyak orang Indonesia. Di Jepang sendiri juga ada kan orang Indonesia yang berprestasi di bidang telekomunikasi (kalo nggak salah yang megang paten OFDM, CMIIW). Sebenarnya yang bermasalah bukan SDM-nya tetapi pemerintah kita nampaknya lebih menghargai tenaga asing dan kurang memperhatikan SDM-SDM yang potensial di Indonesia, sehingga mereka memilih untuk mengembangkan keilmuannya di luar negeri. Tanya kenapa?

G17 - Ananto Eka P (13206008) & Irvan Supradana (13206130)

wibisana jaka said...

-G31-

Haryo Septoria P. (13206033)
Wibisana Jaka Sembada (132060
=================================

Saya tertarik dengan pertanyaan kedua mengenai perkembangan broadband access dalam bidang kesehatan di Indonesia. Menurut saya, jika penggunaan broadband di Indonesia sudah berkembang, akan sangat banyak keuntungan yang bisa dperoleh. Seperti project MOSES (Malaria Observation System & Endemic Surveillance) dari tim Big Bang pada perlombaan Imagine Cup yang lalu akan dapat meningkatkan kualitas kesehatan di Indonesia. Dengan adanya project ini dan dengan didukung oleh koneksi yang memadai, maka tercapainya tujuan dari project ini akan maksimal. Project ini dapat mengidentifikasi penyakit malaria dengan gejala-gejala yang ada dan dapat memberikan informasi mengenai data epidemiologi malaria.

Selain itu, jika bidang kesehatan sudah dapat memanfaatkan broadband dengan maksimal, menurut saya akan muncul project-project lain sejenis MOSES yang akan membantu masyarakat Indonesia untuk meningkatkan kualitas kesehatan.

dimas said...

saya rasa, untuk menuju ke teknologi yang dimiliki oleh negara2 yang telah disebutkan di atas, masih jauh dari kata siap.
Terlebih dahulu, kita lihat kondisi geografis negara kita yang terdiri dari pulau2 dan dipisahkan oleh perairan yang sangat luas.
Akan sangat penting jika kita mengedepankan pemerataan pembangunan (terutama dalam hal penikmatan layanan telekomunikasi).
Hal itu dapat diwujudkan dengan pembangunan palapa ring, dengan palapa ring ini, seluruh pulau2 dapat terhubung, dengan demikian. Informasi yang ada tidak melulu berada/terpusat di pulau jawa saja. Saya yakin, kalau pulau/daerah yang lain diberikan fasilitas yang kurang lebih sama. Niscaya, pembangunan juga akan semakin meningkat.
Dengan pembangungan yang meningkat ini diharapkan dorongan untuk menuju teknologi yang dimiliki oleh negara2 maju juga dapat dinikmati oleh masyarakat indonesia seluruhnya dan seutuhnya.

Semoga Palapa Ring berjaya !

posted by Group 6

Rizqi said...

Kelompok 10
Rizqi Hersyandika (13206040)
Aldy Pradana (13206079)
_____________________________________________
Menanggapi Q&A 2 mengenai broadband dalam bidang kesehatan, menurut kami Indonesia perlu lebih mengembangkan layanan broadband dalam bidang kesehatan. Layanan broadband yang marak dikembangkan saat ini adalah e-health, yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi serta efektivitas dari proses medis yang melibatkan organisasi pelayanan medis (rumah sakit/klinik), dokter, laboratorium, apotek, asuransi, maupun pasien.
Salah satu aplikasinya adalah telemedicine, yang berbasis multicommunication links yang meliputi satelit maupun internet. Teknologi ini memungkinkan adanya tele-consultation dan tele-diagnostic, sehingga pasien dapat berkonsulatsi tanpa harus datang ke rumah sakit/klinik, khususnya untuk pasien pada remote area. Selain itu, dengan adanya telemedicine ini, rumah sakit/klinik dapat bertukar informasi mengenai data pasien, penyakit, dan obat. Bahkan jika sudah sangat maju, hal ini memungkinkan tim medis untuk melakukan/membantu operasi dari jarak jauh.

Oleh karena itu, potensi layanan broadband pada bidang kesehatan di Indonesia masih sangat besar dan masih harus dikembangkan.

adhipta said...

G1
Adhipta Semidang Putra (13206039)
Febriansyah DR (13206007)

Kami ingin memberikan opini terhadap Q&A mengenai siapa yang melakukan riset WiMax. Saya sebenarnya agak miris mendengar hanya ada beberapa perusahaan yang rela menginvestasikan dana nya untuk melakukan riset WiMax.

Pemerintah semestinya bisa mengatur pemain-pemain indutri telco di tanah air agar bisa lebih concern terhadap kemajuan teknologi, bukan cuma jadi consumer yang menadaptasi negara benua seberang.

Semua lembaga yang dibentuk pemerintah harus memiliki kekuatan penuh dan idealisme, mau dibawa kemana industri telco tanah air, jangan cuma jadi penonton dan pengadaptasi teknologi orang lain. RRC yang semakin muncul ke permukaan merupakan contoh betapa serius nya pemerintah mereka dalam bersikap, memang ada yang harus dibayar untuk itu, seperti return of investment yang tidak instan, namun sisi positif lain yang bisa digali adalah sisi pendidikan budaya bangsa agar bergeser tidak lagi menjadi bangsa pengamat.

Pemerintah juga mestinya giat merangkul universitas2 dalam negeri untuk terus mengembangkan industri telco ini, tentunya dengan grants yang diberikan misalnya untuk research WiMax.

angelofairwalk said...

Grup 21
Angelia Hermawan 13206076
Dito Anggodo 13206109

Kelompok kami juga tertarik dengan pertanyaan nomor 2. Suatu hal yang nyata bahwa tingkat kesehatan di Indonesia cukup rendah, terutama di daerah, hal ini sering dikaitkan dengan alasan tingkat ekonomi masyarakat yang rendah pula.

Seperti yang kita ketahui, teknologi broadband menawarkan pembangunan ekonomi yang lebih baik, dan banyak segi lain yang ikut berdampak positif juga, salah satunya kesehatan.

Menurut kelompok kami, pembangunan broadband tidak perlu dibatasi dengan kendala belum ratanya pembangunan di seluruh Indonesia. Perkembangan teknologinya sendiri dan pemerataan pembangunan harus berjalan sekaligus dan cepat. Karena menurut kami, sering kali banyak proyek-proyek bagus di Indonesia, namun pelaksanaannya lama sekali. Tentunya hal ini sangat merugikan. Tidak ada kata santai untuk pembangunan.

Dalam teknologi broadband, bukan saja penambahan kapasitas, tetapi mungkin dapat dikembangkan bagaimana pengaturan QoS, perkembangan layanan konten, dll yang membuat pemakaian teknologi broadband ini lebih efektif dan efisien.

Ya, kami juga setuju bahwa sebagai lulusan Teknik Telekomunikasi tentunya diharapkan kita berkontribusi. Pemerintah Indonesia sebagai pemimpin pembangunan juga harus mendukung penuh demi kemajuan bangsa. Selain itu, operator juga berperan tidak kalah penting. Pembangunan ini harus dijalankan oleh berbagai pihak sesuai peran masing-masing dengan tanggung jawab, untuk Indonesia yang lebih baik.

Terima kasih.

shendiary said...

Group 7 :
Shendiary Aviolanda (13206050)
M. Shiddiq S.H. (13206074)

Kami setuju dengan paparan jawaban dari Pak Willy di atas.

Kami sgt tertarik pada pertanyaan nomor 2 mengenai perkembangan broadband di Indonesia dalam bidang kesehatan. Teknologi komunikasi broadband yang sedang dikembangkan sepatutnya dapat mendukung bidang penting dalam masyarakat, seperti untuk mengatasi rendahnya tingkat kesehatan di Indonesia. E-health atau e-medicine (yg didukung oleh teknologi broadband)sebaiknya lebih byk dikembangkan agar dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas pelayanan kesehatan, baik di desa maupun kota. Selain itu, bidang penting lainnya yang harus diperhatikan juga adalah pendidikan. Dengan salah satu program pemerintah contohnya, Desa Pintar, diharapkan dari internet masuk desa tsb, para warga dapat memperoleh wawasan dan pengetahuan lebih sehingga dapat membantu segi pendidikan.

Terima kasih :)

Susiana said...

Kelompok 29
Susiana Ekasari 13206042
M. Nur Hidayat 13206059

Menanggapi pertanyaan kedua, menurut kami sebenarnya mahasiswa Indonesia sudah mampu mengembangkan aplikasi-aplikasi berbasis broadband dalam bidang kesehatan. Seperti project MOSES yang disebutkan Haryo dan Wibi. Dan juga project DHC (yang juga sedang dikerjakan oleh teman-teman labtek seberang) yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan sistem informasi rumah sakit, dikembangkan dengan fokus utama pada aplikasi mobile cleint rumah sakit.

Jadi jika dilihat capability-nya, SDM Indonesia sudah mampu untuk melakukannya. Sayangnya, kemampuan mereka ini kurang tereksplor dengan baik, sehingga menciptakan mindset di masyarakat bahwa Indonesia belum mampu membuat teknologi yang canggih dan modern seperti itu. Padahal kendala utamanya bukan terletak pada SDM-nya melainkan pada pembangunan infrastruktur.

Seharusnya pemerintah lebih agresif dalam mendorong penetrasi teknologi broadband di Indonesia, terutama dalam menentukan regulasi dan kebijakan. Dengan demikian, teknologi broadband tidak hanya diaplikasikan di bidang teknologi telekomunikasi dan IT saja, tapi juga di berbagai bidang lain dalam kehidupan sehingga nilai hidup masyarakat Indonesia akan semakin tinggi dan memperkecil jurang ketertinggalan dengan negara-negara tetangga yang sudah lebih maju.