Sunday, March 7, 2010

Broadband in Our Life - G15

[Authors: Ni Wayan Eka A, Joice F Yusriani (G15)]

Q1:Bagaimana perkembangan lebih lanjut mengenai implementasi FTTH di Korea. Apakah Korea menggunakan XGPON atau 10GPON? Apa perbedaan kedua implementasi ini dan bagaimana implementasi dalam bidang teknologi ?
A: Implementasi PON di Korea mirip dengan implementasi di Jepang yang dominan menerapkan GEPON. Salah satu operator di Jepang, Hanaru Telcom memutuskan untuk pindah ke GPON. Perbedaan antara GPON dan GEPON adalah sebagai berikut: GEPON: Distandarisasi oleh IEEE dan perkembangannya sekarang mengarah ke 10GEPON. 10GEPON inilah yang hendak dikembangkan di Korea. GPON: Distandarisasi oleh FSAN. GPON perkembangannya mengarah ke dua teknologi PON 10GPON dan WDMPON. Pada bulan September 2009, Broadband World Forum menetapkan penggunaan 10GPON.


Q2: Bagaimana perkembangan broadband access dalam bidang kesehatan di Indonesia?
A: Broadband dalam bidang kesehatan masih sebatas sarana pendukung. Contohnya seperti akses ke website suatu Rumah Sakit yang mempromosikan serta memberikan informasi mengenai Rumah Sakit tersebut. Implementasi seperti E-Healthcare dan E-Medical masih belum dapat diterapkan di Indonesia karena data yang ditransfer dalam penerapan implementasi ini biasanya berupa video dan image. Kedua jenis data ini membutuhkan resolusi tinggi sehingga membutuhkan bandwidth yang lebar. Untuk mendapatkan kondisi yang handal, jaminan QoS di Indonesia masih mahal. Oleh sebab itu, implementasi ini masih sulit diterapkan di Indonesia

Q3: Pihak mana saja yang berpartisipasi dalam pengembangan riset Wimax di Indonesia?
A: Riset Wimax dibagi menjadi dua bagian. Pertama adalah chipset. Di Indonesia, pihak yang mengembangkan chipset untuk proyek Wimax adalah Xirka. Yang kedua adalah device dan modem untuk Wimax yang dikembangkan oleh tiga atau empat perusahaan. Salah satunya ialah TRG.

Closing Remarks p. Willy
Diharapkan agar para mahasiswa tidak hanya berfokus pada sisi teknologi, tetapi juga membuka wawasan dari sisi arsitektural. Indonesia membutuhkan engineer yang mampu mengaplikasikan teknologi sesuai dengan kebutuhan dan kondisi Indonesia, misalnya mengenai jenis layanan apa yang cocok diterapkan di Indonesia. Kedepannya diharapkan agar para engineer teknologi lulusan dalam negeri mampu menjadi arsitek ICT di Indonesia.

    Share | Save

    Subscribe

8 comments:

priambada said...

G27
Iman Firmansyah 13206133
Priambada Aryaguna 13206170

Hmm hmmm... Terus terang setelah kuliah keempat dari Pak Willy ini saya iri melihat pesatnya kemajuan yang dicapai banyak negara lain di dunia. Indonesia boleh berbangga hati dengan pesatnya perkembangan pada bidang telekomunikasi. Namun, banyak negara lain yang jauh lebih unggul dan pesat berkembang. Singapore salah satunya, memiliki visi yang benar2 cocok dengan kuliah keempat, "broadband in our life" dan sangat cocok seandainya dikembangkan menjadi "broadband is our life". Tetangganya Singapore (ermm kita maksudnya) memiliki visi pertelekomunikasian yang sepertinya kok mbulet dan membingungkan.. Apa memang sengaja dibuat kompleks dan rumit karena lebih banyak yang ingin dicapai atau supaya masyarakat kita jadi lebih kritis menyikapi problematika yang ada?

Seandainya pun Indonesia sudah bisa menjadi Broadbanded Country (negara yang sudah berbasis broadband maksudnya XD), kita balik lagi ke persoalan sejak dulu, ekonomi. Saya memang berharap banyaknya penurunan2 (harga) disertai penaikan2 (kualitas dari servis) pada broadband. Lho kok banyak berharap? Ya karena memang saya saat ini, sebagai konsumen dari berbagai fasilitas telekomunikasi yang ada, merasa masih banyak yang harus diharapkan. Bukan bermaksud mengingkari kemajuan yang ada, tetapi memang Indonesia masih perlu membangun (dari zaman saya SD sampai kuliah skr Indonesia masih masa pembangunan :D).

Terakhir, untuk Pak Willy, terima kasih banyak Pak sudah mau berbagi pengetahuan. Saya merasa dapat banyak stok ilmu. Semoga Pak Willy nda bosen2 main k ITB lagi (kuliah kapsel adik kelas kami). Maaf kalo di teletrafik saya banyak komplain Pak.

=D

ikhsan said...

g28
ikhsan abdusyakur 13206088
yudha irawan 13205004

kami sependapat dengan "closing remarks" dari pak willy sabri tentang mahasiswa tidak hanya berfokus pada sisi teknologi, tetapi juga membuka wawasan dari sisi arsitektural.

realita yang terjadi saat ini, banyak mahasiswa yang tidak sadar bahwa makna fundamental dari setiap profesi bukanlah hanya sebagai pemenuhan kebutuhan sendiri tetapi juga sebuah pemenuhan kebuthan orang lain, atau kebaikan untuk oranglain pula

sangat disayangkan memang jika kita tidak peka dan jeli seharusnya apa masalah sebenarnya dari negara kepulauan Indonesia ini,
bukan berarti kita harus canggih dalam implementassi teknologi telekomunikasi di Indonesia, tetapi harus tepat sasaran dan tepat guna pada permasalahan permasalahan yang ada di negeri kepulauan ini

adalah hal yang percuma ketika teknologi kita mampu menyaingi singapura atau amerika sekalipun tetapi itu hanya dirasakan oleh segelintir masyarakat Indonesia (warga kota)

terakhir dari kami terima kasih banyak kami sampaikan kepada Bapak Willy Sabri
satu hal yang saya banggakan adalah tidak hanya sangat berkompeten pada broadband tetapi jiwa kemanusiaan pak Willy mampu menginspirasi kami semua
terima kasih sekali lagi

urise said...

G22
Yuris Mulya S (13206124)
Hermanto (13206151)

Kami sependapat dengan jawaban Pak Willy mengenai broadband access kesehatan yang ada di Indonesia. Untuk saat ini memang secara nyata terlihat bahwa broadband access yang digunakan di Indonesia masih sebatas website rumah sakit. Namun sebenarnya hal tersebut masih dapat dikembangkan di klinik-klinik kesehatan maupun puskesmas sehingga masyarakat yang mungkin letakknya jauh dari rumah sakit dapat mengakses website klinik maupun puskesmas terdekat sehingga paling tidak info akses untuk bidang keehatan tidak sebatas di kota-kota besar saja namun sudah dapat merambah kota-kota kabupaten.

Sebenarnya ilmu tentang pengiriman image melalui boradband access dapat menggabungkan ilmu telekomunikasi dan ilmu biomedika. Hendaknya untuk saat ini, mahasiswa telekomunikasi dan biomedika ITB dapat mulai mengembangkan penelitian mengenai penelitian broadband access untuk pengiriman data kesehatan sehingga suatu saat Indonesia dapat mengembangkan teknologi tersebut tidak kalah dengan negara lain.

Mangasi said...

G32
Firman Azhari (13206045)
Mangasi Napitupulu (13206143

dari pertanyaan dan jawaban yang telah dirangkum diatas, menurut saya untuk pengaplikasian teknologi broadband di Indonesia perlu diperhatikan beberapa hal yaitu layanan yang disediakan harus cermat secara isi dan kemasan serta hemat dalam penggunaan bandwidth.

hal ini sangat penting karena melihat kecenderungan dari penggunaan internet oleh sebagian besar penduduk indonesia hanya masih berkisar pada hiburan dan pendidikan, sedangkan untuk pemanfaatan lainnya masih sangat minim (misalnya, layanan kesehatan online, dsb). kecenderungan ini membuat layanan yang bersifat interaktif/multimedia akan sangan berpengaruh terhadap sifat penggunaan internet masyarakat indonesia. tetapi, layanan multimedia akan membutuhkan bandwidth yang cukup lebar dan biaya infrastruktur yang cukup mahal.

salah satu cara untuk mengatasi hal ini adalah dengan memberikan edukasi tentang penggunaan internet yang lebih dalam dan bermanfaat bagi berbagai lapisan masyarakat indonesia.

Beny said...

G19
Beny Nugraha 13206017
Habibur Muhaimin 13206131

Menurut kami sudah saatnya Indonesia memasuki dunia E-"something", seperti misalnya yang dicontohkan di atas yaitu E-Healthcare dan E-Medical. memang kedua terknologi tersebut membutuhkan membutuhkan QoS yang bagus, namun apabila diimplementasikan akan sangat membantu dunia kesehatan.

Kami setuju dengan "closing remarks" dari pak willy. Hanya sekedar berbasiskan kehebatan suatu teknologi baru bukan berarti teknologi tersebut cocok diaplikasikan di Indonesia. Seperti contoh teknologi 3G (Video Call), pertama kali diperkenalkan dengan heboh, namun nyatanya hingga sekarang hanya segelintir orang yang menggunakan fasilitas 3G dengan maksimal. Jadi Indonesia membutuhkan engineer yang mampu mengaplikasikan teknologi sesuai dengan kebutuhan dan kondisi Indonesia.

fadhila said...

G2: Fadhilah Hana dan Giri Kuncoro

Jika saya boleh merangkum pendapat teman-teman di atas, saya menyimpulkan bahwa karakter masyarakat Indonesia yang cenderung menggunakan teknologi broadband 'masih' sekedar untuk sarana hiburan.

Padahal begitu banyak aspek penting lainnya seperti edukasi, kesehatan, bisnis, dan lainnya yang dapat kita manfaatkan melalui teknologi broadband.

Percuma saja kita memiliki engineer-engineer yang mampu dengan hebatnya membangun infrastruktur dan aplikasi layanan teknologi jika tidak disesuaikan dengan kultur masyarakat Indonesia.

jadi saya setuju dengan Beny, kita perlu memikirkan hingga ke 'dalam', yaitu bagaimana teknologi yang sedang kita coba bangun ini lebih berguna untuk masyarakat dan negara dalam hal esensi dan produktivitasnya.

terima kasih :)

hmuslims said...

G3
Helmy M.S. 13206026
Joko A.W. 13206205

Setuju dengan G19 dan G2, teknologi bukan hanya untuk teknologi, akan tetapi teknologi untuk kesejahteraan masyarakat luas, dan jangan diartikan sejahtera apabila pemanfaatkan teknologi hanya untuk hiburan.

Sejahtera yang dimaksud adalah bahwa teknologi broadband ini memiliki value yang dapat digunakan untuk aspek-aspek lain yang memang secara nyata dan mendesak dibutuhkan masyarakat, pendidikan misalnya.

Sebagai penutup, kami berharap jiwa-jiwa teknopreneur di Indonesia didukung oleh pemerintah, mampu memberikan solusi alternatif dan adaptif dalam perkembangan industri ICT dalam negeri.

Terima kasih, maaf bila terdapat kesalahan.

risyad17 said...

G5:
Arya Zaenal Risyad (13206054)
Fikri Ramadhan (13206191)

Menanggapi Closing Remarks dari Pak Willy, kami setuju dengan pendapat beliau. Memang seharusnya para researcher (khususnya mahasiswa) tidak hanya melihat aspek teknologi dalam berinovasi, tetapi juga harus melihat aspek ekonomi, sosial, dll (hal ini terkait kebutuhan dan kondisi Indonesia), selain itu wawasan mengenai arsitektural dan bisnis juga sudah sepatutnya dimiliki para researcher Indonesia.

Karena pada kenyataannya, hanya teknologi yang dapat menjawab tantangan bisnislah yang pada akhirnya dapat diaplikasikan secara real. Jika sebaliknya (teknologi tidak didukung arsitektural dan mahal dalam pengaplikasiannya), maka teknologi tersebut tidak mungkin diaplikasikan oleh para provider.

Terima kasih.