Sunday, March 7, 2010

Broadband in Our Life - G13

[Authors: Ditha Natasia, Roy BVB Simorangkir G(13)]

Di zaman sekarang ini, rasanya tidak berlebihan apabila kita merasa ada yang kurang jika dalam sehari saja kita tidak bersentuhan dengan internet. Mulai dari kegiatan yang membutuhkan beberapa byte data seperti chatting, email, atau hanya sekedar mengganti status di facebook, hingga kegiatan yang membutuhkan beratus-ratus bahkan bermega-mega byte data seperti download lagu terbaru, nonton streaming, browsing, ngobrol lewat skype, dll. Tuntutan atas padatnya aktivitas, efisiensi waktu, perbedaan jarak, dan efektivitas telah menjadikan broadband sebagai teknologi pilihan yang dapat menjawab beberapa kebutuhan manusia saat ini.

Pertambahan jumlah pengguna broadband yang signifikan dari ke hari membuat teknologi broadband terus dikembangkan secara mendunia. Tidak heran jika PBB secara khusus mendelegasikan ITU sebagai badan yang bertanggung jawab untuk mengatur pengembangan teknologi broadband. Bagaimana ITU memandang teknologi ini tercermin dengan jelas dari salah satu gambar di website resmi ITU yang berbunyi "The social and economic development of every country on earth will depend on BROADBAND". Akan tetapi, dampak yang dapat dirasakan dari pengembangan broadband tidak hanya akan dirasakan pada sisi sosial dan ekonomi saja, melainkan juga dalam berbagai aspek kehidupan manusia lainnya. Seperti visi yang ingin dicapai oleh ITU: “Build on Broadband and the rest will follow” yang memberikan makna bahwa dunia broadband memiliki korelasi yang erat dengan berbagai aspek kehidupan manusia seperti bidang kesehatan, lingkungan, edukasi, transportasi, dll.

Tidak hanya ITU, 30 negara yang tergabung dalam OECD juga tertarik mengembangkan teknologi broadband untuk memajukan secara khusus pada aspek sosioekonomi negara anggota OECD tersebut.

Mencoba menilik negara tetangga kita, Singapura, yang sedang mengembangkan program Singapore iN2015 yaitu masterplan 10 tahun ke depan negara ini untuk mencapai "Singapore: An Intelligent Nation, A Global City, Powered By Infocomm". Dapat dilihat dengan jelas salah satu strategi yang dijalankan Singapura untuk mencapai tujuan Singapore iN2015 adalah:

Pembangunan infrastrusktur jaringan bersifat broadband yang bahkan dicanangkan akan memenuhi kebutuhan broadband untuk penggunaan di rumah hingga mencapai angka 90%. Fakta ini menunjukkan bagaimana negara sekelas Singapura memandang telekomunikasi sebagai sesuatu yang penting bahkan sebagai salah satu kunci sukses dalam pembangunan suatu negara di masa kini. Kebutuhan ini dapat dijawab dengan teknologi broadband.

Jika dari tadi kita telah melihat pandangan negara-negara di dunia terhadap teknologi, sekarang pertanyaannya adalah bagaimana dengan negara kita? Ternyata kebutuhan akan broadband juga sudah sangat dirasakan oleh bangsa ini. Pentingnya broadband tercermin dengan gerakan-gerakan para pelaku bisnis telekomunikasi seperti para operator yang mulai gencar menjadikan broadband sebagai daya tarik bisnisnya. Namun, cukupkah sampai di situ? Sampai sekarang negara kita tampaknya belum memiliki roadmap khusus untuk menanggapi pesan pentingnya telekomunikasi dalam mendukung kemajuan bangsa ini. Hal ini tercermin dari masih banyaknya proyek-proyek di bidang telekomunikasi yang bisa dikatakan terlantar, seperti Proyek palapa Ring, Wimax RI, Desa Berdering, Desa Pinter, dll. Padahal apabila program-program tersebut dapat direalisasikan, hal di atas berpeluang besar untuk membantu memajukan bangsa ini ataukah, memang bagian kita hanya untuk mengagumi kemajuan bangsa lain?

Opini

Mencoba mengutip dari "Life Without Broadband", kumpulan testimoni yang dikirim oleh penduduk North Carolina ke MAIN (Mountain Area Information Network), salah satu nonprofit internet service provider setempat.

"I work full time and recently went back to school to earn my BA in special education. Many of the classes are now on-line. Without high-speed Internet access, I cannot successfully complete my college courses." ~ Bryony Smith Burnsville, NC

“Our tailgate and farmers markets send out regular notices to our customers of availability at the markets, special promotions, etc. Because many of our customers don’t have high speed, we are very careful to limit the size of our messages. It would be great to be able to include photos of our markets and/or produce. "~[Name Withheld]Black Mountain, NC

"A representative republic can hardly work if the electorate faces undue burden in making contact with the elected. Email, blogs, and websites are crucial to obtaining position information as well as being avenues for contact with the official or candidate…The Internet provides a space for geographically disparate constituencies to come together."~ [Name Withheld] Buncombe County, NC

"I have become increasingly frustrated with the dial up service because I can wait for up to 45 minutes to receive pictures from my grand and great grandchildren.—I sometimes need to contact loved ones in the western part of the US and if the dial up is down and phone service is out I am stuck!”[Name Withheld] Yancey County, NC

Membaca beberapa testimoni di atas ditambah dengan penjelasan yang diberikan oleh Pak Willy sangat membuka wacana kami tentang bagaimana broadband bisa menjawab berbagai aspek kebutuhan manusia sekarang ini.

Oleh karena itu, melihat betapa bermanfaatnya teknologi ini, kami sangat berharap negara kita jangan sampai ketinggalan dalam mengembangkan teknologi broadband. Apalagi melihat segi geografis Indonesia, teknologi broadband menjadi salah satu kunci kesuksesan dalam membangun bangsa yang terpisah jarak antara pulau yang satu dengan yang lain ini. Pembangunan di bidang telekomunikasi perlu terus digalakkan. Beberapa proyek yang telah direncanakan dengan baik perlu direalisasikan dengan baik pula, sebagai contoh: Proyek Desa Pinter yang mencanangkan internet masuk desa, benar-benar perlu diwujudkan hingga ke pelosok-pelosok desa di nusantara ini karena menurut kami dapat menjawab beberapa permasalahan seperti pemerataan pembangunan, peningkatan kualitas pendidikan, ekonomi, sosial bangsa, dll.

    Share | Save

    Subscribe

13 comments:

Pras said...

Kelompok B-1
Prasetiyono Hari Mukti (232 08 302)
Nur Ibrahim (232 09 007)


Pembahasan mengenai perkembangan teknologi broadband secara menyeluruh, baik dari aspek teknologi maupun sosial, memang menjadi sesautu hal yang sangat menarik.

Mengutip visi yang dimiliki oleh ITU yaitu "The social and economic development of every country on earth will depend on BROADBAND", dan program Singapore iN2015 yaitu masterplan 10 tahun ke depan negara ini untuk mencapai "Singapore: An Intelligent Nation, A Global City, Powered By Infocomm" terlihat bahwa tujuan pengembangan broadband adalah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan sosial. Implikasinya adalah tentu saja pertumbuhan broadband ini akan diupayakan merambah pada daerah pelosok.

Secara pengembangan di atas kertas, memang tidak masalah. Hanya terkadang ada hal yang terlupakan yaitu mengenai social culture. Seringkali banyak terjadi shock-culture ketika berkembangnnya sebuah teknologi. Dan ini luput dari perhatiannya. Memang menjadi polemik, di satu sisi kita ingin mengembangkan broadband untuk mendukug pertumbuhan ekonomi, namun di sisi lain, ketika kondisi sosial budaya masyarakat setempat belum siap maka akan menjadi bumerang. Maka akan menjadi "PR" tersendiri untuk mengatur agar semua skenario itu dapat berjalan dengan baik. Dan tidak muncul masalah baru.

Pras said...

Kelompok B-1
Prasetiyono Hari Mukti (232 08 302)
Nur Ibrahim (232 09 007)


Pembahasan mengenai perkembangan teknologi broadband secara menyeluruh, baik dari aspek teknologi maupun sosial, memang menjadi sesautu hal yang sangat menarik.

Mengutip visi yang dimiliki oleh ITU yaitu "The social and economic development of every country on earth will depend on BROADBAND", dan program Singapore iN2015 yaitu masterplan 10 tahun ke depan negara ini untuk mencapai "Singapore: An Intelligent Nation, A Global City, Powered By Infocomm" terlihat bahwa tujuan pengembangan broadband adalah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan sosial. Implikasinya adalah tentu saja pertumbuhan broadband ini akan diupayakan merambah pada daerah pelosok.

Secara pengembangan di atas kertas, memang tidak masalah. Hanya terkadang ada hal yang terlupakan yaitu mengenai social culture. Seringkali banyak terjadi shock-culture ketika berkembangnnya sebuah teknologi. Dan ini luput dari perhatiannya. Memang menjadi polemik, di satu sisi kita ingin mengembangkan broadband untuk mendukug pertumbuhan ekonomi, namun di sisi lain, ketika kondisi sosial budaya masyarakat setempat belum siap maka akan menjadi bumerang. Maka akan menjadi "PR" tersendiri untuk mengatur agar semua skenario itu dapat berjalan dengan baik. Dan tidak muncul masalah baru.

arief said...

Menurut kami, dukungan pemerintah terhadap perkembangan teknologi broadband merupakan hal yg sangat penting. Contohnya, seperti yg telah dipaparkan oleh Pak Willy dan disebutkan oleh Roy, adalah Singapura. Bagaimana masa depan teknologi broadband di negara tersebut sudah tergambar dengan jelas pada program Singapore iN2015, sehingga penerapannya dengan jelas akan mengacu ke program tersebut. Lain halnya dengan Indonesia, sampai saat rasanya saya belum mendengar suatu visi yg jelas dari pemerintah mengenai bidang teknologi ke depannya. Program-program memang sudah ada, namun penerapannya sepertinya masih jalan di tempat. Ada baiknya jika visi pemerintah tersebut dipublikasikan agar semua pihak yg berkepentingan dapat merencanakan dengan jelas apa yg akan dilakukan untuk mengembangkan teknologi tersebut.
CMIIW

Kelompok 11
Arief Saksono 13206022
Aryo Wicaksono 13206115

aginta said...

= GB5 =
Aginta (23208355)
Ulil (23209010)

Mengutip dari website ristek.co.id, "Pemerintah telah berupaya memberikan perhatian yang lebih serius dalam pengembangan BWA ini, dimana dimulai mencanangkan konsep kebijakkan untuk dapat menerapkan BWA. Kebijakan yang dikeluarkan diantaranya melalui upaya untuk meletakan fondasi hukum melalui persyaratan tingkat kandungan dalam negeri terhadap perangkap yang akan digunakan di Indonesia. Kebijakan tersebut meliputi ukuran spectrum minimum 30MHz per operator, lisensi di seluruh Indonesia dan netralitas teknologi. Kebijakan dan kerangka kerja regulator yang efektif yang dapat menstimulasi investasi dan kompetisi dalam pembangunan infrastruktur broadband, perlu segera dikeluarkan. Agar dapat dipastikan jaringan dan jasa broadband menjangkau seluruh wilayah RI". Kutipan diatas menunjukkan keseriusan pemerintah Indonesia dalam menghadapi perkembangan teknologi global, yaitu broadband. Namun ketidakmerataan infrastruktur TIK antara bagian barat dan timur Indonesia merupakan kendala utama dalam perkembangan teknologi ini di Indonesia. Untuk itu, masyarakat perlu diberdayakan dalam pemanfaatan layanan broadband serta meningkatkan pengetahuan penggunaan TIK untuk memperbaiki kehidupan dan meningkatkan kesejahteraan. Jika tidak, maklum saja jika Indonesia akan tertinggal pada era ekonomi broadband yang mengglobal.

urise said...

Group 22 :
Hermanto (13206151)
Yuris Mulya Saputra (13206124)


Apa yang dipaparkan oleh G13 cukup menarik. Sebagai tambahan, menurut kami perkembangan Broadband di Indonesia terhambat oleh minimnya ketersediaan jaringan. Hal ini menyebabkan tingkat penetrasi inovasi Broadband masih rendah, yakni sekitar 1 persen dari total populasi. Infrastruktur untuk mengakses internet di Indonesia masih belum semuanya merata, sehingga wilayah yang memiliki infrastruktur lengkap akan lebih murah mengakses Broadband, sedangkan di daerah yang tidak lengkap infrastrukturnya akan mahal mengakses Broadband.

Untuk mengatasi keterbatasan infrastruktur Broadband, pemerintah telah menyediakan dua jalan keluar alternatif, yaitu mempercepat pembangunan Palapa Ring dan segera menggelar tender Broadband wireless Access (BWA).

Agar mempercepat akses broadband di Indonesia,diperlukan keseriusan pemerintah untuk menanamkan investasi.Sebagai perbandingan, di negara lain pemerintahnya berani menanamkan dana hingga dua miliar dollar AS per tahun untuk mengembangkan broadband di negaranya, karena pemerintah di sana sadar bahwa broadband dapat meningkatkan pendapatan kotor negaranya.

sinung said...

B4
Nana Sutisna 23209054
Sinung Tegar P 23209021

Broadband Internet berkecepatan tinggi memungkinkan berbagai jenis layanan jasa dan innovasi yang dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas nasional, seperti videoconference bermutu tinggi, sehingga menghemat waktu, biaya
transportasi, penyewaan ruang kantor, dan biaya pertemuan lainnya.
Penduduk Indonesia yang dewasa ini sudah dapat menikmati layanan Broadband Internet diperkirakan mencapai sekitar lebih dari 1 juta orang, baik melalui jaringan serat optik, ADSL, kabel coaxial, jaringan microwave, WiFi, maupun jaringan seluler FWA, CDMA-EVDO dan GSM HSDPA. Kelemahannya ada di mutu layanan dan kecepatan transmisi yang masih rendah, sering terputus-putus.
Pemerintah sendiri sudah menyadari bahwa broadband sebagai salah satu prasyarat bagi konvergensi dan mendorong pertumbuhan ekonomi dan peningkatan daya saing, hal ini terbukti dengan diadakannya seminar pada akhir tahun 2009 yang lalu oleh Direktorat Energi, Telekomunikasi dan Informatika dari Kementrian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (DETI Bappenas),bertajuk ‘Kebijakan Pembangunan Komunikasi dan Informatika di Era Konvergensi (Pembangunan Broadband di Indonesia)’. Lewat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014, DETI memang ingin meningkatkan kesejahteraan rakyat dan daya saing dengan mengurangi kesenjangan digital dan wilayah blank spot, meningkatkan kualitas penyediaan dan pemanfaatan informasi serta penggunaan TIK secara efektif dan bijak dalam seluruh aspek kehidupan. Untuk itu, sasaran RPJMN 2010-2014 meliputi tersedianya sarana dan prasarana serta layanan informasi dan komunikasi di seluruh desa, daerah perbatasan, pulau terluar, daerah terpencil dan wilayah nonkomersial lain. DETI juga menargetkan tersedianya informasi dan layanan publik yang dapat diakses secara online. Selain itu, di bidang infrastruktur meliputi telekomumunikasi, Pemerintah berencana menuntaskan pembangunan jaringan serat optik di Indonesia bagian timur sebelum 2013 dan memaksimalkan tersedianya akses komunikasi data dan suara bagi seluruh rakyat Indonesia. Semoga segala perencanaan ini benar-benar dapat direalisasikan dan bukan hanya sekedar wacana saja.

dbuz2006 said...

Sepertinya penerapan teknologi broadband di Indonesia sehingga didapat akses yang merata dan juga menawarkan kualitas layanan yang reliable di seluruh daerah di Indonesia cukup sulit untuk diraih dalam waktu dekat ini. Untuk teknologi WiMAX saja sampai saat ini belum ada penerapannya untuk digunakan oleh masyarakat umum.
Untuk teknologi 3G memang jangkauannya sudah cukup luas dan cukup merata di Indonesia, namun dengan kualitas koneksi yang hanya memakai sistem "best effort" dan juga pengguna layanan 3G yang semakin banyak menjadikan kualitas layanan ini menurun. Keuntungan dari 3G adalah semakin banyak dan terjangkaunya harga mobile station yang menggunakan teknologi ini. Layanan yang disediakan provider pun cukup bervariasi sehingga user bisa memilih provider mana yang menawarkan layanan yang paling sesuai dengan kebutuhan user.
Jenis layanan broadband yang sedang "booming" akhir-akhir ini adalah layanan Blackberry. Dengan menggunakan koneksi GPRS hingga 3G layanan Blackberry menawarkan koneksi jaringan internet setiap saat. Hal ini menguntungkan user yang membutuhkan konekesi internet kapanpun dan dimanapun, namun dengan harga yang tidak terjangkau untuk semua kalangan tidak semua orang bisa menikmati layanan ini.
Saran saya untuk pemerintah mungkin dengan menetapkan regulasi yang membangun dan menguntungkan masyarakat Indonesia, dengan meminimalisir kerugian untuk pihak-pihak lain, serta mendukung penerapan teknologi-teknologi baru untuk layanan broadband di Indonesia.Amin.

grup 29
Susiana Ekasari 13206042
Muhamad Nur Hidayat 13206059

angelofairwalk said...

Grup 21
Angelia Hermawan 13206076
Dito Anggodo 13206109

Artikel "Life Without Broadband" menggambarkan secara nyata bagaimana broadband sudah menjadi bagian penting dalam berbagai aspek kebutuhan manusia modern. Broadband memberikan efisiensi kerja yang lebih baik, yang berkorelasi dengan kesejahteraan masyarakat. Sebagaimana kita ketahui juga, negara-negara lain juga mengembangkan teknologi broadband dengan baik dan pembangunan ekonominya maju hebat.

Kami setuju dengan opini kelompok 13 bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia tertunya akan terbantu sekali dengan penerapan teknologi broadband di bidang sosial ekonomi. Teknologi ini memfasilitasi pergeseran produksi berbasis tenaga ke produksi berbasis otak atau dikenal dengan ICT-nomic (pembangunan ekonomi berbasis TIK).

Di Indonesia bisa kita lihat, bagaimana populernya handphone dengan koneksi internet via GPRS, atau Blackberry dan sebagainya. Indonesia dengan potensi pasar yang menarik seharusnya bisa dimanfaatkan oleh para operator. Peran operator dalam membantu perkembangan broadband juga besar, sebagai penyedia jaringan. Broadband juga bisa menjadi sumber pemasukan utama baru bagi operator, jika layanan suara dan sms nantinya menurun.

Operator seperti Telkomsel misalnya, sudah mempersiapkan broadband sebagai bisnis masa depan dengan menjalankan Long Term Evolution (LTE) di perkotaan dan Orthogonal Frequency-Division Multiplexing (OFDM) di pedesaan. Serta untuk kendala infrastruktur dengan menambah sumber daya frekuensi untuk penambahan kapasitas.

Namun, tugas operator hanyalah sebagai penyedia jaringan. Pemerintah juga harus memperhatikan kendala yang mungkin terjadi, misalnya perang tarif antar operator seperti yang terjadi beberapa tahun lalu pada layanan suara dan sms. Pemerintah harus membuat regulasi yang jelas, yang membantu operator berkembang juga membantu masyarakat tertarik dengan teknologi ini.

Penggunaan teknologi ini juga sebaiknya diutamakan untuk pembangunan ekonomi negara, dengan e-commerce; atau untuk edukasi dengan e-learning; dsb. Jangan sampai penggunaan teknologi broadband memang tinggi tetapi hanya didominasi oleh berbagai kalagan untuk mengakses situs sosial saja. Hal demikian memboroskan kapasitas bandwidth dan mengalirkan devisa negara ke luar negri. Oleh karena itu, broadband juga harusnya disertai dengan kemajuan situs-situs lokal.

Seandainya pembangunan broadband ini terealisasi dengan baik, seharusnya setiap pertumbuhan pengguna broadband berbanding lurus dengan pertumbuhan domestik bruto negara.

Hal ini harus dilakukan dengan kerja sama yang baik oleh operator sebagai penyedia jaringan, pemerintah sebagai regulator, dan masyarakat sebagai konsumen. Untuk Indonesia yang lebih baik.

Terima kasih.

Oryza said...

Secara umum, kami setuju dengan opini yang disampaikan oleh kelompok 13. Namun demikian, ada beberapa hal yang ingin kami tambahkan berhubungan dengan implementasi broadband terutama di Indonesia sebagai berikut.

Utilitas

Perkembangan broadband di Indonesia termasuk di atas rata-rata untuk ukuran Asia. Tentu saja hal ini cukup menmbanggakan. Akan tetapi, apakah perkembangan broadband di Indonesia ini sejalan positif dengan peningkatan produktivitas?

Berdasarkan data dari Depkominfo, mayoritas penggunaan ICT di Indoenesia berkisar pada chatting, social networking, game, download bajakan, email, dan pornografi. Ini lebih menekankan pada aspek hiburan dan komunikasi. Sementara itu, waktu yang digunakan untuk mengakses internet ini bukan saja waktu uang, tetapi juga memakan waktu kerja. Ini tentu saja tidak produktif.

Oleh karena itu harus ada shifting paradigm dalam penggunaan ICT ini. Hal ini tentu saja agar rasio waktu yang digunakan dengan produktivitas kerja tercapai. Penggunakan ICT ini haruslah mendukung peran-peran hidup dalam rangka mengejar kesejahteraan seperti bisnis dan pendidikan. Hal ini penting dilakukan karena pada dasarnya teknologi dibuat untuk memudahkan hidup menusia, yang pada ujungnya adalah untuk kesejahteraan hidup manusia.

Adaptasi dengan budaya

Menilik fungsi IT sebagai pendorong socio-economic development, maka pengembangan ICT ini tidak dapat lepas dari budaya tempat ICT dikembangkan. Kita tidak dapat meniru 100% pengembangan ICT di negara lain karena tiap negara memiliki kekhasan budaya, karakteristik, dan tujuan penggunaan ICT masing-masing.

Misalnya, di negera maju, fokus pengembangan ICTnya pada kecanggihan dan kemudahan penggunaan ICT. Sementara itu, di Indonesia, saat ini masih berkutat pada upaya pemerataan infrastruktur ICT. Indonesia masih berjuang agar seluruh masyarakat di seantero nusantara mendapatkan kesempatan akses yang sama terhadap ICT ini. Ini tentu saja berbeda.

Selain itu, hal ini juga penting agar kearifan lokal bangsa kita tidak hilang tergerus arus globalisasi. Hal ini dapat dilakukan dengan menggenerate content aplikasi yang bernuansa lokal sebanyak-banyaknya. Lebih jauh lagi, ini juga dapat dijadikan sebagai komoditas utama persaingan global. Negeri kita memiliki banyak keunikan lokal yang dapat “dijual” dalam persaingan global ini.

Narasi besar ICT Indonesia, MII 2015

Jika Singapura memiliki visi ICT “Intellegent Nation 2015”, Indonesia juga memiliki “MII 2015”. MII 2015 adalah visi ICT Indonesia yang berbunyi :

Terwujudnya masyarakat informasi yang sejahtera melalui penyelenggaraan komunikasi dan informatika yang efektif dan efisien dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
(sumberhttp://www.depkominfo.go.id/profil/visi-dan-misi/)

Ada perbedaan antara vsi ICT Indonesia dengan Singapura. Jika singapura mengedepankan kecanggihan teknologinya, maka Indonesia lebih menekankan kesejahteraan dan pemerataan akses. Untuk Singapura yang besarnya sedikit lebih besar dari P.Batam, infrastruktur tidak lagi menjadi kendala. Mereka sudah selangkah lebih maju. Ini berbeda dengan indoensia yang masih bekutat pada masalah infrastrukutur. Maka dari itu, pemerintah lebih menekankan pada pembangunan masyarakat informasi yang lebih cocok dengan budaya bangsa yang gotong royong, tumbuh dan berkembang bersama.

Terima kasih.

Kelompok 09:
Nana Mulyana (13206166)
Oryza Nicodemus Tarigan (13206075)

Felix Kristian said...

Kelompok 20
Johana Sunaris (13205005)
Felix K Jatmiko (13206149)

Perkembangan broadband terbukti banyak mengubah peradaban manusia. Banyak yang diuntungkan dengan adanya akses broadband. Roda ekonomi berputar cepat dan mempengaruhi kesejahteraan masyarakat. Menarik jika ada studi yang secara detail membahas besar pengaruh broadband terhadap peningkatan GDP, peningkatan lapangan kerja, dan akhirnya kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat secara merata. Namun di sisi lain akses broadband memiliki dampak buruk.

Dari situs detikcom dikatakan bahwa menurut hasil survei yang dilakukan di Inggris, 70% pengguna internet kini habis kesabarannya jika mereka harus menunggu lebih dari satu menit untuk membuka sebuah situs. Survei yang dilakukan perusahaan layanan internet TalkTalk tersebut mengungkap bahwa semakin tingginya kecepatan broadband di Inggris membuat ekspektasi juga kian tinggi. Ini membuat kesabaran user menipis jika menjumpai akses lemot.

“Kecepatan dunia online membuat kita semakin tidak siap menunggu sesuatu terlalu lama di dunia nyata. Seiring akses internet yang kian ngebut, kita juga berharap apa yang terjadi di dunia nyata makin cepat juga,” kata Mark Schmid, Communication Director TalkTalk.

Hasil survey tersebut setidaknya dapat menjadi perhatian bagi pengguna internet yang berangan-angan memiliki akses internet ngebut.

andre said...

Kelompok 30
Andre Muslim Dubari (13205081)
Heru Wijanarko (13205149)

seiring meningkatnya pengguna broadband access di Indonesia, dewasa ini pelayanan yang diberikan malah cenderung tidak mampu memenuhi meningkatnya permintaan akan penyediaan layanan akses broadband. Mudah-mudah dengan begitu banyak pasar potensial di Indonesia, persaingan atas penawaran produk broadband akan terus meningkat dan ikut memerhatikan kualitas dari produk yang ditawarkan.
Harapan saya juga akses broadband dengan kabel, seperti instalasi infrastruktur fiber optik ke rumah-rumah juga bisa diimplementasi, minimal di kota besar untuk memenuhi keinginan akan akses data yang cepat dan berkualitas

Yudha said...

kelompok 28
Ikhsan Abdusyakur (13206088)
Yudha Indrawan (13205004)

Sebagai tambahan, kami ingin membandingkan kondisi dunia broadband Indonesia dengan luar negeri. Kecepatan akses internet rata-rata di Indonesia sebesar 256 kbps. Nilai ini masih jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan kecepatan rata-rata akses internet Korea Selatan yang sebesar 14,6 Mbps, atau Jepang yang sebesar 7,9 Mbps. Atau berarti biaya akses internet Indonesia yang sebesar Rp 585.000/Mbps/bulan yang masih lebih mahal dibandingkan dengan Jepang yang sebesar Rp 33.000/Mbps/bulan.

Fakta ini seharusnya memacu pemerintah, korporat, serta pihak-pihak lain yang terlibat dengan dunia akses pita lebar di indonesia untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas infrastruktur jaringan broadband di Indonesia.

Selain itu pula, perlu adanya edukasi terhadap masyarakat Indonesia dan penyedia jasa internet agar bisa memanfaatkan fasilitas tersebut secara produktif.

risyad17 said...

G5:
Arya Zaenal Risyad (13206054)
Fikri Ramadhan (13206191)

Menurut kami perkembangan teknologi broadband di Indonesia terhambat oleh minimnya ketersedian jaringan. Infrastruktur di Indonesia belum semuanya merata mampu mengakses broadband. Ini membuat harga akses internet dengan teknologi tersebut tidak merata di semua wilayah. Jika di wilayah yang memiliki infrastruktur lumayan lengkap, maka harga broadband bisa lebih murah, sedangkan hal sebaliknya terjadi di area yang tidak lengkap infrastrukturnya. Hal ini jelas berbeda dengan singapura yang infrastruktur telah merata hampir di seluruh wilayahnya. Mungkin ini juga dikarenakan wilayah Indonesia yang sangat luas dan memiliki banyak pulau.

Selain itu peran pemerintah juga sangat penting dalam perkembangan broadband. Seperti yang dikatakan arief, program - program yang sudah dicanangkan selama ini tentang pengembangan teknologi broadband hendaknya diikuti dengan visi yang jelas sehingga mencapai hasil yang maksimal.

Terima kasih