Friday, February 12, 2010

Hybrid Broadband Access: Solusi Ekonomis untuk Daerah Pedesaan



[Author: Rahmat Mulyawan] Dewasa ini akses internet broadband sudah menjadi kebutuhan bagi hampir semua kalangan, terutama di negara-negara maju. Kebutuhan untuk bersaing secara global sudah tidak dimonopoli oleh perusahaan besar saja, perusahaan kecil dan menengah (UKM) hingga ke rumah-rumah di pelosok sudah merasakan perlunya terhubung dengan dunia secara langsung. Namun hal itu masih terhambat oleh kesenjangan teknologi yang terjadi antara daerah perkotaan (urban) dan pedesaan (rural). Hal ini disebabkan oleh keterbatasan jaringan akses broadband yang ada selama ini, yaitu fiber optik, untuk menjangkau pedesaan. Tidak hanya sulit dalam instalasi, faktor harga yang cukup mahal juga membuat akses broadband sulit diwujudkan dengan teknologi ini.

Karena itu, muncul ide untuk membangun jaringan akses broadband yang menggabungkan kehandalan fiber optik, dengan fleksibilitas jaringan wireless yang mampu melayani akses broadband, yang dalam hal ini adalah Mobile WiMAX yang menjadi standar baru dalam komunikasi wireless broadband. Arsitektur ini disebut sebagai Hybrid Broadband Access (HBA). Pada HBA, BTS-BTS dari WiMAX terhubung secara point-to-point ke sentral BTS. Sentral BTS inilah yang tersambung ke jaringan backbone fiber optik. Arsitektur ini memungkinkan jangkauan yang mencapai pelosok dan tidak dibatasi oleh bentuk permukaan bumi.

Negara-negara Uni-Eropa , melalui program PROFIL telah meluncurkan proyek pengembangan HBA untuk daerah pedesaan di Eropa. Perlu diketahui bahwa saat ini lebih dari 50% populasi Eropa atau lebih dari 380 juta jiwa bertempat tinggal di daerah pedesaan. Karena itu pemerintah negara-negara Uni-Eropa sepakat untuk mengadakan program bersama dalam mengembangkan teknologi ini.

Sebagai permulaan, penelitian dilakukan di daerah pedesaan di timur laut Jerman, tepatnya di daerah Emsland, dan dilakukan oleh kerjasama antara beberapa universitas serta melibatkan vendor WiMAX dan penyedia layanan backbone optik. Tahapan penelitian meliputi demand estimation, network dimensioning dari segi link budget maupun coverage mapping, serta economical evaluation. Dari hasil penelitian tersebut dibuat profile jaringan broadband yang dibutuhkan daerah pedesaan. Secara umum, kebutuhan dasar yg dapat disupport oleh arsitektur HBA meliputi email, web browsing, video streaming, voip, dan file sharing. Sedangkan data rate minimum yang dapat dipenuhi (dedicated), untuk pengguna rumah adalah 100 Kbps, usaha kecil 384 kbps dan usaha menengah adalah 5.76 Mbps.

Dari hasil penelitian, ditemukan bahwa untuk pedesaan ada potensi untuk mengembangkan WiMAX dengan frekuensi rendah. Standar WiMAX yang ada sekarang adalah di 3.5 GHz, namun jika dijalankan pada frekuensi 700 MHz atau bahkan mungkin 450Mhz, coverage area bisa diperluas, dan hal ini sangat cocok diaplikasikan di daerah pedesaan. Hasil penelitian ini juga mengemukakan bahwa investasi terbesar yg perlu dilakukan adalah pada CPE (48%) dan BTS (23%) sedangkan investasi untuk backbone hanya 2% saja.

W. Gerok, S. Rusche, and P. Unger, "Hybrid Broadband Access with IEEE 802.16e", IEEE Mobile WiMAX Symposium, 2009

    Share | Save

    Subscribe

2 comments:

Ulil Wicaksana said...

Desa Broadband...benar-benar topik yang menarik. Baru sekedar membayangkan tinggal di dalamnya saja sudah mengasyikkan. Sayang, desa broadband yang dibahas dalam paper di atas masih belum terealisasikan di Indonesia.

Kehadiran informasi digital secara masif telah menjangkau seluruh belahan dunia (termasuk negara-negara miskin di dunia), dan mendorong lahirnya suatu revolusi di berbagai bidang, baik ekonomi, politik maupun sosial. Telepon nirkabel dan internet nirkabel, telah membebaskan desa dari isolasi, dan selanjutnya menjadi pendorong bagi pertumbuhan ekonomi, peningkatan kesejahteraan dan perubahan di desa bersangkutan. Dengan memperhatikan dampak positif kehadiran telekomunikasi di pedesaan, memang sudah selayaknya apabila seluruh desa di Indonesia memiliki akses telekomunikasi. Lebih dari sekadar memberikan benefit kepada masyarakat pedesaan, ketersediaan akses telekomunikasi di pedesaan juga akan memberikan dampak positif bagi pembangunan dan kemajuan suatu bangsa. Letak Indonesia di Asia Pasifik sangat strategis. Berada antara Benua Asia dan Australia/Oceania, serta diapit antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Sehingga, peran dan posisi Indonesia dalam pengembangan ekonomi broadband cukup signifikan di kawasan.

Hanya saja, apa yang dihadapi Indonesia juga tidak mudah. Mengingat jumlah desa di Indonesia yang belum memiliki akses telekomunikasi diperkirakan lebih dari 30 ribu. Dari sisi geografis, desa-desa yang belum memiliki akses telekomunikasi tersebar di wilayah Indonesia yang panjangnya 1/8 bentangan dunia, dengan kondisi fisik dan geografis yang beragam. Desa-desa yang dimaksud ada di wilayah perkotaan, pinggiran kota, kawasan pegunungan dan perbukitan, kawasan perairan atau berada di sebuah pulau yang berada di tengah samudera.
Sebagian besar desa di Indonesia bahkan masuk kategori tertinggal, serta tidak memiliki infrastruktur pelayanan dasar yang memadai. Infrastruktur pelayanan dasar seperti listrik dan jalan, menjadi salah satu penting dalam pengembangan infrastruktur telekomunikasi saat ini. Berbagai kendala yang ada di pedesaan tak urung juga menjadi barrier bagi pengembangan infrastruktur dan layanan telekomunikasi. Biaya investasi yang tinggi untuk membangun infrastruktur telekomunikasi di pedesaan, serta lamanya pay back period atas investasi, menyebabkan banyak operator telekomunikasi yang masih enggan mengembangkan layanan hingga ke desa-desa.

Masih ada celah untuk membangun bangsa ini bersama-sama...

Ulil Wicaksana said...

Catatan tambahan:

- Radio over Fiber (ROF)adalah proses pengiriman sinyal radio melalui kabel optik untuk menunjang pengiriman data yang lebih cepat.
ROF bekerja berdasarkan prinsip penggabungan segi kelebihan dari serat optik dan nirkabel. Tujuannya agar pengguna dapat menikmati performansi yang lebih bagus daripada nirkabel tetapi tidak semahal pada instalasi kabel serat optic. Dalam cakupan daerah area nirkabel, dapat dipasang link radio over fiber antar Radio Access Point ( RAP ) untuk memancarkan sinyal sebesar daerah sel mikro. Hal tersebut memungkinkan tercakupnya seluruh area coverage yang semestinya dapat dijangkau oleh nirkabel, dan dengan adanya link radio over fiber, maka kualitas sinyal dapat dipertanggungjawabkan dan diharapkan performasi yang diterima oleh pelanggan akan lebih baik.

Info selengkapnya, bisa diklik di sini http://en.wikipedia.org/wiki/Radio_over_Fiber

Ulil Surtia Zulpratita - 23209010

Post a Comment