Friday, February 12, 2010

Broadband Overview Q&A - G4

[Authors: Anggita Hapsari, M. Tito Septiarto (G4)]
Q1: Blended Multimedia Sevices apakah merupakan istilah generik atau lebih ke brand yg dipakai oleh Alcatel Lucent?
A : Blended Multimedia Services merupakan istilah general yang diakui dan biasa digunakan. Selain istilah tersebuat ada juga beberapa istilah lain, salah satu diantaranya adalah Real Time Multimedia Services. Jadi, Blended Multimedia Services bukan merupakan merk dagang dari Alcatel Lucent, kami hanya terbiasa menyebut dengan istilah tersebut.

Q2 : Tadi dijelaskan tentang Blended Multimedia Sevices merupakan layanan dimana bandwidth yang disediakan (dedicated) untuk tiap aplikasinya berbeda-beda tergantung QoS dari aplikasi tersebut. Apakah hal tersebut dapat diaplikasikan sendiri oleh user rumahan?
A : Ada bbrp kemungkinan:
  1. Kita bertindak sebagai penjual layanan tersebut ke end user, dalam hal ini kita memanage Bandwidth yang dibeli dari Telkom untuk dijual ke end user. Hal ini dapat dilakukan, tapi mahal karena harus menggunakan VPN untuk aksesnya, sehingga kurang feasible dengan kondisi pasar sekarang. Biasanya yang menggunakan layanan ini adalah peanggan koorporat
  2. Bila yang dimaksud adalah kita sebagai user yang memanage sendiri (membeli retail dari Telkom), hal tersebut sulit dilakukan karena belum ada toolsnya untuk melakukan hal tersebut. Alat yang dipasang tidak hanya harus dipasang dirumah tapi juga di tujuan. Jadi kesimpulannya, untuk kondisi di indonesia pada saat ini hal tersebut belum bisa dilaksanakan. Pelanggan rumahan belum dapat menikmati layanan tersebut.

Q3 : Standar protokol Broadband Multimedia Services apakah masih pake TCP/IP?
A : TCP banyak digunakan untuk memfasilitasi layanan yang membutuhkan sifat connection oriented, tapi TCP tidak unik, dalam artian tidak berdiri sendiri,masih terdapat protokol lain yang digunakan, seperti FTP untuk file transfer dan VoIP yang menggunakan UDP. Jadi kesemuanya menjalankan tugas sesuai proporsinya. Layanan ini menggunakan underline technology optic dan IP internet.

Q4 : Negara mana saja yang udah mengaplikasikan Broadband Multimedia Services?
A: Jepang udah mulai duluan menerapkan Broadband Multimedia Services, kemudia USA, di Singapura udah, tapi layanannya belum di blended, contoh: VoIP pake Skype, sekarang Malaysia sedang mencoba membuat.

Q5 : Kapan layanan tersebut dapat dinikmati di Indonesia?
A : Di Indonesia belum bisa dipastikan kapan, karena banyak variabelnya, karena ada faktor pemerintah yang begitu mendominasi,tapi perkiraan, awal 2011 udah mulai dibangun, dan 2012 udah mulai bisa dinikmati walaupun baru sebatas di kota besar terlebih dahulu.


Q7 : Tadi dijelaskan bahwa terjadi kejar-kejaran antara teknologi device dengan layanannya? Apakah kenyataannya memang seperti itu? Bukankah seharusnya tidak bisa seperti itu?
A : Kuncinya ada di 4 key driver yang tadi udah dibahas, masalahnya adalah terletak pada, tiap elemen di 4 key driver tersebut tidak saling berkomunikasi satu sama lain, sehingga tidak sinkron antara keempatnya. Selain itu juga dipengaruhi karakteristik dari keduanya, untuk device, jika sudah invent device baru bisa langsung di launching ke masyarakat, sedangkan layanan (jaringan) harus mempertimbangkan banyak hal seperti regulasi, izin, dll. Untuk device sendiri, mereka cenderung melihat dari segi bisnis, jika biaya produksi suatu teknologi lama dengan baru tidak begitu jauh, maka mereka akan memproduksi teknologi baru tersebut. Contoh: mereka memilih untuk memproduksi TV full HD daripada TV HD ready, walaupun layanan HDTV belum berkembang di Indonesia karena biaya produksi tidak begitu jauh. Prinsip mereka adalah menjual latest technology. Jadi menurut saya, hal tersebut (kejar-kejaran device dan layanan) sangat mungkin terjadi.

Q8 : Bayangan inovasi Telekomunikasi ke depan seperti apa?
A : Yang namanya inovasi tergantung dari kreativitas manusia. Contoh kulkas yang saya sebutkan tadi contoh kecilnya, selain itu layanan otorisasi kartu kredit dari yang asalnya menggunakan cable network (kecepatan akses lambat) sekarang udah beralih ke GPRS. Untuk Alcatel sendiri, kami sedang mengembangkan teknologi untuk menghemat energi mikroprosesor 1000x dalam rangka green ecosystem. Hal ini dilakukan karena saat ini 5% polusi berasal dari telekomunikasi dan diperkiraan akan terus bertambah setiap tahunnya.

Q9 : Di Singapura, ada provider yang hanya memanage layanan ke end user, sedangkan BW dia beli dari wholeseller, di Indonesia memungkinkan seperti itu tidak? Bagaimana proses migrasinya?
A : Di Singapura, ada program namanya, IN2015, visinya menjadikan Singapura negara terbaik di bidang IT Services. Ya sebenarnya tujuan akhirnya adalah untuk memberikan layanan dan keuntungan yang sebesar-besarnya untuk konsumen, dengan cara membuat kompetisi makin keras antara satu provider dengan provider lainnya, jadi konsumen tinggal menikmati enaknya saja. Di Indonesia sulit ditentukan kapan, karena tergantung pemerintah saat ini. Selain itu fokus pertelekomunikasian di Indonesia belum kearah sana. Tapi hal tersebut memungkinkan untuk diaplikasikan di kota-kota besar.      

    Share | Save

    Subscribe

14 comments:

rara1607 said...

Dari berbagai pertanyaan dan jawaban diatas, kami setuju bahwa inovasi telekomunikasi akan selalu berkembang. Layanan broadband multimedia services juga bisa dinikmati oleh masyarakat Indonesia jika peran pemerintah Indonesia bisa mendukung pelayanan ini.

Zahara Yulianti (13206018) dan Nur Inayah (13206138) - Grup 14

Rizqi said...

Grup 10
Rizqi Hersyandika (13206040)
Aldy Pradana (13206079)

Setuju dengan komentar2 dari narasumber di atas.

Negara-negara dengan penetrasi tinggi layanan broadband seperti Korea Selatan, Jepang dan Kanada, semuanya mengimplementasikan kebijakan (policy) yang sistematis untuk mendukung pertumbuhan broadband di negaranya.
Kebijakan-kebijakan itu diantaranya adalah penurunan harga untuk menghapus hambatan berlangganan (entry barier), target yang jelas dari Kementrian terkait untuk percepatan penggelaran jaringan, pemberian insentif pada usaha-usaha pengembangan konten lokal dan bisnis online (E-Commerce), mempermurah harga dan pajak perangkat peralatan yang digunakan pelanggan, pada akhirnya membuat terjangkaunya harga layanan secara total.

Sedangkan, Indonesia belum menerapkan kebijakan-kebijakan tersebut secara menyeluruh, sehingga layanan ini masih sulit dijangkau seluruh rakyat Indonesia.

shendiary said...

Kelompok 7:
Shendiary Aviolanda (13206050)
M. Shiddiq S.H. (13206074)

Pada dasarnya, kami setuju dengan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas. Kami hanya ingin sedikit menambahkan mengenai implemantasi broadbad di Indonesia.

Salah satu yang penting utk diperhatikan adalah kesiapan Indonesia sendiri, baik dari segi peraturan, maupun infrastruktur yang menddukung telekomunikasi broadband.

Sesuai dengan pernyataan Bapak Tulus Rahardjo, Direktur Pengelolaan Spektrum Frekuensi Radio Ditjen Postel Depkominfo, untuk mendukung pembangunan broadband, pemerintah sedang membuat kebijakan dan strategi pemanfaatan spektrum frekuensi radio dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2010-2014 Depkominfo.

Salah satu poin penting dari RPJM tersebut adalah pengembangan infrastruktur broadband, yang juga digunakan untuk melakukan Universal Service Obligation (USO) pada desa/daerah terpencil.

Terima kasih.

totz said...

Opini Kelompok 4:
Anggita Hapsari Grisatya 13206034
Muhammad Tito Septiarto 13206134

Dengan melihat fakta bahwa dengan diimplementasikannya Broadband Multimedia Services dapat meningkatkan mutu layanan pertelekomunikasian di Indonesa maka cukup disayangkan teknologi broadband ini belum berkembang di Indonesia.

Kemudian, ada baiknya jika ke 4 key driver yang ada (computing, storage, communication, dan application) dapat saling berkomunikasi satu sama lain agar tidak terjadi lagi kejar-kejaran diantara device dan teknologi, sehingga kedepannya tercipta suatu iklim yang kondusif untuk mengembangkan teknologi secara sinergis dan harmonis satu sama lain.

Kemudian, Inovasi teknologi sendiri bergantung pada mimpi dan kreativitas manusia. Oleh karena itu sebagai mahasiswa kita harus berani bermimpi dan berkreasi demi pertelomunikasian yang lebih baik. "Mimpi besar yang ingin diraih, dimulai dengan langkah kecil yang dilakukan hari ini".

Terimakasih..

urise said...

Kelompok : 22
Yuris Mulya S (13206124)& Hermanto (13206151)

Kami setuju dengan sebagian besar jawaban-jawaban yang telah diberikan oleh Bapak Willy.

Memang secara umum masyarakat pasti pernah mendengar istilah broadband, tidak hanya pada lingkungan ALU namun juga lingkungan masyarakat sebagian besar pasti mengetahui istilah broadband karena sekarang sedang marak dengan modem-modem portable yang tidak asing lagi di telinga kita.

Selain itu, mengenai blended multimedia services di Indonesia, dari grafik yang ada pada kuliah Broadband Overview memang tampak bahwa Indonesia berada di level rendah sehingga kemungkinan Indonesia mendapat layanan tersebut untuk jangka waktu pendek belum dapat dipastikan, sangat tergantung dengan kreativitas dan riset-riset para engineer Indonesia untuk dapat mengejar ketertinggalan negara kita.

angelofairwalk said...

Grup 21 :
* Angelia Hermawan (13206076)
* Dito Anggodo Prihastomo (13206109)

Dari sesi tanya jawab terlihat bagaimana teknologi telekomunikasi yang sekarang sudah demikian canggih. Dan Pak Willy sudah memberi jawaban yang cukup jelas bagi kami.

Kelompok kami menaruh atensi lebih pada jawaban Pak Willy yang terakhir, bagaimana negara kecil seperti Singapura sudah berkembang sedemikian hebat. Indonesia pun memiliki sumber daya manusia yang baik, kiranya dapat dimanfaatkan dan didukung oleh pemerintah.

Terima kasih.

Irvan said...

Group 17
Ananto Eka P (13206008)
Irvan Supradana (13206130)

Secara keseluruhan saya setuju dengan apa yang diutarakan oleh Bapak Willy

Tapi ada satu kekhawatiran yang saya rasa. Dengan berkembangnya dunia Telekomunikasi khususnya broadband di Indonesia, bangsa kita tidak bisa melihat kesempatan yang ada. Mengapa demikian? Selama ini internet kebanyakan hanya digunakan untuk tujuan entertain dibanding dengan edukasi ataupun bisnis. Bangsa kita yang merupakan salah satu pengguna Internet terbanyak mengira kita sudah hi-tech. Padahal hi-tech kita hanya sebatas konsumtif tanpa ada embel2 produktif

Untuk itulah harus ada concern dari pemerintah bagaimana pesatnya perkembangan teknologi ini tidak menjerumuskan bangsa kita jauh ke lubang kebobrokan dan bisa lebih inovatif dan mensiasati kesempatan yang ada.

Beny said...

Beny Nugraha (13206017)
Habibur Muhaimin (13206131)

Dari pertanyaa & jawaban di atas bisa dimengerti kenapa Indonesia tertinggal oleh Singapure dalam penerapan broadband. Hal ini karena wilayah Indonesia yang sangat luas sehingga pengimplementasiannyapun susah, lama, dan mahal.

Namun seharusnya pemerintah juga mulai menaruh perhatian besar terhadap perkembangan teknologi broadband ini sehinggga kita tidak terlalu tertinggal dari negara2 lain.

Kami berharap suatu saat nanti Blended Multimedia Service dapat diaplikasikan di rumah2.

Terima Kasih

djepri said...

G12:
Jeffrey Kurniawan (13206128)
Tommy Hartanto (13206102)

kami setuju dengan pendapat G17.

negara kita mungkin lebih dikenal sebagai negara pengguna saja selama ini.

mungkin training-training seperti teknopreneur harus lebih digiatkan lagi supaya masyarakat lebih dapat menggunakan internet sebagai tool untuk merintis usaha.

terima kasih

firmanegotistic said...

G32:
Firman Azhari (13206045)
Mangasi Napitupulu (13206143)

Jawaban yang cukup membuka wawasan tentang urgensi layanan broadband. Berikut tanggapan kami:

Singapura, bukan negara yang memproduksi alat2 elektronik secara besar2an, tetapi memiliki ratusan kantor headquarter perusahaan-perusahaan multinasional. Artinya ada sesuatu yang unik, menurut kami adalah VISI. Singapura dalam hal ini pemerintahnya memiliki visi yang cerdas untuk membangun negaranya. WiMax yang sedang digembargemborkan pemerintah kita ternyata tidak dikembangkan disana. Mengapa? Karena teknologi ini dianggap telah "basi" jika dikembangkan sekarang. Fakta ini kami peroleh dari seorang rekan kami yang bekerja di Yahoo di Singapura. Intinya, pemerintah kita dalam hal ini DepKominfo semestinya memiliki visi tentang dunia telekomunikasi di negara ini untuk 4-5 tahun mendatang. Jika diibaratkan dengan bisnis, leader adalah yang menciptakan market, bukan yang mengikuti trend market.

Terkait dengan topik kejar2an teknologi. Hal ini menurut kami hanya pemikiran negara kita saja karena memang kita bukan produsen teknologi. Sah-sah saja para produsen latest teknologi mengeluarkan produknya karena memang sudah compatible di beberapa negara maju. Masuknya produk mereka ke negara kita mungkin karena besarnya besarnya potensi pasar yang bisa dimanfaatkan. (coba lihat kembali bagaimana perilaku masyarakat Indonesia dalam bergonta-ganti HP padahal layanan yang digunakan itu2 saja). Jadi hal ini bukan merupakan masalah, tetapi justru menjadi tantangan untuk membangun infrastruktur yang lebih baik.

MOBILE broadband Jepang sudah sampai 3mbps, singapura approximately 15mbps, bayangkan kecepatan fix nya. Riset sudah banyak, SDM melimpah, tinggal pemerintah mensupport itu semua. Bayangkan di Singapura, untuk startup company senilai 1M benar2 dibantu oleh pemerintahnya jika memang tepat dan pantas. Support pada local company ditambah dengan visi yang cerdas dapat melahirkan pertelekomunikasian yang lebih baik.

Terimakasih.

dbuz2006 said...

Grup 29
Susiana Ekasari 13206042
Muhamad Nur Hidayat 13206059

Kami setuju dengan jawaban mas Willy.Rangkuman grup juga sudah bagus.

Sekedar memberikan harapan, smoga pemerintah Indonesia ke depannya bisa lebih cerdas dalam mendukung perkembangan teknologi di sektor ini.

Calculus said...

grup B-1:
nur ibrahim (23209007)
Prasetiyono Hari Mukti (23208302)

begitu banyak faktor yang perlu diperhatikan dalam dunia Broadband, khususnya untuk pengimplementasian di Indonesia.

untuk mengambil langkah selanjutnya, sebagai mahasiswa teknik telekomunikasi (yang mengetahui dan paham tentang Broadband), terlebih dahulu kita harus menentukan tujuan dan posisi kita di dunia telekomunikasi. apakah akan bermain di service provider, atau di hardware, atau di regulasi?

setelah itu, kita dapat berbagi peran dan bekerja sama untuk mewujudkan layanan telekomunikasi yang baik di indonesia.

aginta said...

Grup B-5
Aghintha Pradewi (23208355)
Ulil Surtia Zulpratita (23209010)

Pengembangan akses teknologi broadband di Indonesia perlu dibarengi dengan pengembangan infrastruktur telekomunikasi, dimana regulator memiliki peran penting untuk merealisasikannya. Indonesia bisa terbilang sebagai negara yang 'telat' dalam mengadopsi broadband. Penilaian ini didasarkan pada kriteria penetrasi broadband, keterjangkauan broadband, penetrasi telepon selular, penetrasi PC, penetrasi hostspot Wi-Fi, penetrasi internet, keamanan internet, dan identitas elektronik. Rendahnya ranking Indonesia di dunia ini antara lain disebabkan oleh minimnya infrastruktur teknologi dan konektivitas, pandangan dan kebijakan pemerintah, lingkungan hukum yang tidak memadai, lingkungan bisnis yang tidak sehat, serta adopsi bisnis dan konsumer yang masih rendah. Meski begitu, kami yakin dan optimis, ketika infratruktur telekomunikasi dan aksesnya dapat menjangkau mayoritas masyarakat Indonesia, maka negara kita tidak akan lagi berlabel 'telat' dalam mengadopsi teknologi broadband.

aryo said...

Kelompok 24

Aryo Pambudi (13206053)
Christ Marcel (13206167)

Dari tanya jawab di atas saya ingin menambahkan pendapat saya mengenai kejar-kejaran antara teknologi device dengan layanannya, saya setuju dengan dengan jawaban mas Willy, selain itu juga menurut saya kejar-kejaran kedua teknologi ini pun disebabkan oleh konsumen yang mementingkan gengsi.
Banyak konsumen yang menganggap bahwa memiliki latest gadget adalah sesuatu yang keren dan bahkan wajib untuk dilakukan, walaupun saya yakin tidak semua fitur2 yang terbenam didalamnya akan dipergunakan secara full oleh konsumen tersebut.
Fenomena ini terutama sangat saya rasakan di Indonesia dimana layanan teknologi jauh tertinggal dari teknologi device/gadget yang tersedia karena yang seperti mas Willy sebutkan dimana untuk penyediaan layanan teknolgi jauh lebih repot dan sulit dibandingkan dengan device.
Apalagi pendistribusian teknologi device mudah disebarkan secara luas ke seluruh dunia, lepas dari sudah siap atau belumnya layanan teknologi yang bersangkutan