Friday, February 26, 2010

Broadband Key Enablers 2 - G9

[Authors: Nana Mulyana, Oryza Nicodemus Tarigan (G9)]

Pendahuluan

  • Pada dasarnya pembahasan kuliah menuju kepada blended multimedia service yang mengarah pada kapasitas transmisi yang semakin besar
  • Underline technology on aggregation, edge, and transport network --> cirinya: high bandwidth (kapasitas besar) --> fiber technology and wireless technology (pada pertemuan sebelumnya, sudah dibahas key enabling technology lebih banyak dari sisi teknologi aksesnya)
  • Underline technology: IP/MPLS and Optical Technology
  • Hal yang akan dibahas adalah update teknologi optik terakhir dan juga teknologi IP/MPLS

Underline Technology

Secara umum, underline technology yang dibahas mencakup hal-hal berikut.
  • akses ---> aggregasi ---> edge ---> core
Pada pertemuan sebelumnya, sudah dibahas mengenai teknologi yang mencakup teknologi akses. Pada pertemuan ini, dibahas teknologi dari jaringan aggregasi, edge, dan transport secara holistik end-to-end.

Beberapa pemahaman dasar: Pada Layer OSI, yang disebut sebagai layer Network adalah layer-1 sampai layer-3; Jika dilihat secara Layer OSI maka:
  • CPE (Customer Premises Equipment)/Resident Gateway --> bicara sampai layer-3
  • Operator --> bicara layer-2
  • End user --> bicara layer-2
  • Edge --> bicara layer-2, 3 – 7
  • Core --> bicara maksimal layer-4
  • Transport --> bicara layer-4
  • Backbone --> bicara layer-1, maksimal layer-2
  • PON/GPON --> bicara layer-1


Pilihan Teknologi

Protokol Layer-1

Dulu lebih ke TDM, sekarang TDM dan paket saling melengkapi (ko-eksis).
PDH, SDH, WDM (SDH : Nilai ekonomis mentok di 10Gb/STM-64 secara komersial walaupun sebenarnya teknologi STM-256/40Gb sudah dapat dilakukan secara teknis)

Sebenarnya, teknologi PDH dan SDH merupakan teknologi elektronik-digital sedangkan DWDM adalah teknologi fotonik-analog. Dengan demikian, sebenarnya, teknologi DWDM tidak dapat dikendalikan secara jarak jauh dengan suatu NMS (Network Management System). Namun demikian, saat ini sudah ada teknologi baru yang memungkinkan hal tersebut, yaitu Zero Touch Photonic.

Protokol Layer-2/Layer-3

Perbandingan pilihan teknologi yang dimaksud adalah sebagai berikut.



IP/MPLS

Nilai ekonomis teknologi ATM secara komersial mentok di kapasitas 622Mbps atau setara STM-4.

Suatu teknologi pasti dibangun berdasarkan dua pertimbangan utama: (1) secara teknis dapat direalisasikan; dan (2) secara ekonomis cocok.

Dalam keadaan nyata, kebanyakan cost teknologi telekomunikasi naik secara eksponensial positif seiring dengan kapasitas transmisi yang dibutuhkan user sedangkan pendapatan dari pihak penyedia layanan telekomunikasi naik secara eksponensial negatif. Contoh sederhananya dapat dilihat dari perbandingan biaya yang harus dikeluarkan user saat menggunakan SMS dengan biaya yang dikeluarkan saat mengakses internet dengan ponselnya. Saat ini, tarif SMS rata-rata berkisar Rp100/halaman SMS dengan pembatasan satu halaman SMS sekitar 134bytes sedangkan untuk akses internet sekitar Rp1000/1Mb. Dilihat dari biaya per byte-nya, justru layanan SMS lebih mahal dibandingkan dengan layanan internet padahal teknologi internet merupakan teknologi yang jauh lebih maju dibanding SMS. Hal inilah yang menggambarkan bahwa baik teknologi maupun pendapatan memang naik secara eksponensial, bedanya teknologi naik secara positif sedangkan pendapatan secara negatif.

Hal yang diharapkan adalah cost teknologi dapat naik secara eksponensial negatif seiring dengan pendapatan. Teknologi Ethernet dianggap paling mungkin untuk menekan cost dari sisi teknologinya.

Awalnya, Ethernet belum memiliki jaminan QoS. Namun pada perkembangannya, Ethernet berkembang sehingga memiliki banyak atribut seperti jaminan QoS yang ditambahkan dan intelejensia jaringan seperti routing dan lainnya. Namun demikian, pada tahapan ini, Ethernet belum memiliki “pipa” yang cukup sehingga belum bisa menampung banyak subscriber. Dengan demikian, blended multimedia services belum dapat diakomodasi.

Pada perkembangan selanjutnya, terjadi dua perpaduan kebaikan dari dua teknologi yaitu Ethernet dan MPLS. Ethernet berperan sebagai medium transport yang ekonomis, sudah tersebar pemakaiannya (sudah umum dimiliki dari tingkat perusahaan sampai pribadi), dan memiliki skalabilitas yang baik. MPLS menambahkan tingkat kemampuan pembawa (carrier) Ethernet dengan cara menambahkan logical virtual pipe lain sehingga dapat menambah jumlah subscriber. Pada tahapan ini, blended multimedia services sudah dapat diakomodasi. Kuncinya terletak pada kemampuan menampung antrian (queue) yang besar.

Kalau dilihat dari sudut pandang Layer OSI, Ethernet bekerja di layer-2 sedangkan MPLS bekerja di antara layer-2 dan layer-3 sehingga sering disebut dengan protokol 2,5.

Beberapa faktor kunci dan aplikasi yang dapat membuat perpaduan teknologi Ethernet (IP) dengan MPLS sukses diaplikasikan adalah sebagai berikut.
  • Memiliki ketersediaan jaringan yang tinggi, memiliki waktu untuk pulih dari failure yang relatif cepat (kurang dr 50ms), dan mampu memberikan jaminan QoS yang diharapkan.
  • Efisien dalam manajemen end-to-end dan OAM (Operation, Administration, and Maintenance) untuk kebutuhan distribusi secara cepat dan massal.
  • Memiliki skalabilitas yang baik dalam arti mampu menampung banyak end-point atau user dengan logical virtual pipe atau pseudowire yang multi-segmen dan mampu diatur switching-nya baik secara statis maupun dinamis.
Dari keunggulan tersebut, IP/MPLS dapat diaplikasikan untuk blended multimedia service dan aplikasi VPN.

VPN (Virtual Private Network) sendiri terdiri dari dua kelompok besar: VPN Layer-2 dan VPN Layer-3.

VPN Layer-2 terdiri dari dua jenis: Virtual Leased Line (VLL) yang bekerja point-to-point dengan pseudowire dan Virtual Private LAN Service (VPLS) yang bekerja multipoint. Pada VPN Layer-2, penyedia jasa jaringan (operator misalnya) hanya menyediakan jasa sampai pengaturan ke Layer-2 sedangkan konfigurasi Layer-3 (routing dan lainnya), dilakukan oleh pengguna jasa (misalnya perusahaan yang memakai jasa VPN).

VPN Layer-3 atau Layer-3 IP-VPN bekerja secara multipoint. Pada VPN Layer-3, operator melakukan konfigurasi sampai ke Layer-3. VPN tipe ini biasanya dipakai oleh perusahaan yang tidak memiliki staff IT di dalamnya.

Pada perkembangannya kemudian, muncul istilah T-MPLS yang dicanangkan oleh ITU-T yang merupakan standar ITU mengenai teknologi MPLS. IETF yang merasa istilah IP/MPLS adalah miliknya kemudian bertemu dengan ITU-T dan mengeluarkan suatu standar bersama yang dikenal dengan MPLS-TP (MPLS-Transport Profile). MPLS-TP mengadopsi mekanisme transmisi SDH-ring dengan paket IP.


Optik dan Microwave

Pembahasan optik di sini lebih ke teknologi optik sebagai medium transport pada bagian backbone (pembahasan teknologi optik sebagai akses telah dibahas pada kuliah sebelumnya).

Evolusi jaringan optik adalah sebagai berikut.
  • Past: WDM, p-t-p
  • Today: WDM, ring
  • Future: ION
Intinya, pada perkembangan ke depannya, inovasi transport memegang peranan penting dalam menjawab masalah keterbatasan bandwidth, batasan daya, kesederhanaan pemeliharaan dan arsitektur, biaya per bit informasi yang ditransmisikan, dan masalah keandalan dan keamanan jaringan. Inovasi ini mencakup seluruh media transport baik optik maupun radio yang menuju ke basis paket data. Beberapa inovasi yang ditemukan dalam perkembangan jaringan transport adalah sebagai berikut.
  • ION (Intelegence Optical Network) merupakan teknologi pasangan DWDM yang sudah bicara sampai sub-lambda. Teknologi ini mampu melakukan konfigurasi otomatis untuk mengatur resilience dan bandwidth yang dinamis.
  • Kalau dulu, setiap akan dilakukan konfigurasi jaringan berbasis fotonik (optikal) harus datang langsung ke site yang bersangkutan. Saat ini, sudah muncul teknologi Zero-Touch Photonic, yaitu suatu bentuk teknologi yang memungkinkan melakukan konfigurasi perangkat fotonik analog melalui suatu sistem manajemen jaringan atau NMS (Network Management System) yang biasa dilakukan pada kontrol digital.
  • Packet Opical Transport adalah teknologi paket optik. Istilah ini digunakan oleh Alcatel-Lucent. Istilah lain yang dipakai misalnya adalah Packet Transport Network (Huawei). Teknologi ini yang menjadi basis IP/MPLS untuk Layer-2 ke bawah. Teknologi T-MPLS atau MPLS-TP termasuk di dalamnya.
  • Microwave Packet Radio adalah teknologi transport radio yang mengoptimalkan penggunaan bandwidth berdasarkan jenis layanan yang diberikan. Konsep kerjanya adalah dengan membuat modulasi tidak konstan tapi disesuaikan dengan keadaan. Cuaca yang terjadi di kanal udara bebas akan sangat mempengaruhi sinyal yang bermodulasi konstan. Misalnya, saat cuaca cerah, sinyal bermodulasi QAM-4, QAM-16, dan QAM-256 akan berada dalam kondisi prima, tetapi pada saat hujan deras, sinyal bermodulasi QAM-256 cenderung banyak terputus-putus jika dibandingkan modulasi lain. Teknologi Microwave Packet Radio ini mampu membuat modulasi sinyal tidak konstan menyesuaikan dengan cuaca sehingga menjamin layanan yang baik.
Opini

Teknologi-teknologi telekomunikasi (dari tingkat access network sampai tingkat core network) yang dipelajari dari dua kuliah terakhir sebenarnya menuju pada implementasi blended multimedia services yang bercirikan empat hal utama: kapasitas besar, QoS untuk berbagai layanan, kebijakan per user per aplikasi, dan ketersediaan elemen jaringan menyangkut masalah keandalan dan keamanan.

Untuk ke depannya, inovasi di bidang industri telekomunikasi akan terus berkembang pesat di sisi teknologi akses yang mengharapkan akses mobile namun dengan kapasitas broadband. Masa depan teknologi telekomunikasi akan menuju ke arah mobile broadband. Dari sisi core network, teknologi yang dikembangkan akan lebih kepada bagaimana memberikan kapasitas besar, cepat, namun dengan QoS yang tinggi.

Satu hal menarik yang kami perhatikan adalah perkembangan teknologi telekomunikasi dari sisi teknologi optiknya. Sebenarnya, dengan kemajuan pesat di bidang optik, bidang telekomunikasi juga mengalami perluasan tidak hanya berkaitan dengan bidang-bidang yang berhubungan dengan komponen-komponen elektronika saja. Banyak sifat-sifat sistem komunikasi optik yang menjadi keunggulan bidang optik dibanding bidang elektronik. Contoh sederhananya saja pada konsep amplifikasi sinyal optik dengan metode Raman Amplification.

    Share | Save

    Subscribe

10 comments:

urise said...

G22
Yuris MS (13206124)
Hermanto (13206151)

Kami tertarik dengan penjelasan G9 mengenai teknologi MPLS. Teknologi ini memiliki banyak kelebihan. Sebenarnya jaringan IP over ATM dapat digantikan oleh sebuah jaringan MPLS. Traffic engineering pada MPLS memperhitungkan sepenuhnya karakter fisik IP yang melewatinya. Keuntungan lain dari MPLS adalah tidak diperlukannya kerumitan teknis seperti enkapsulasi ke dalam AAL dan pembentukan sel-sel ATM, yang masing-masing menambah delay, menambah header, dan memperbesar kebutuhan bandwidth.

Namun, kendala terbesar pada teknologi MPLS ini adalah sampai saat ini belum terbentuk dukungan untuk trafik non IP. Skema-skema seperti Ethernet over MPLS, ATM over MPLS, dan FR over MPLS masih dalam tahapan riset dan belum masuk ke tahap pengembangan secara komersial.

Yang cukup memberikan harapan akan penggunaan teknologi MPLS adalah banyaknya alternatif konversi berbagai jenis trafik ke dalam IP, sehingga trafik itu dapat pula diangkut melalui jaringan MPLS. Selain itu, proposal-proposal teknologi GMPLS (Generalized MPLS) sedang memasuki tahap standarisasi, jadi ada harapan berbagai jenis teknologi dari layer 3 hingga layer 0 dapat dikonvergensikan dalam skema GMPLS.


Terima Kasih

joicesayangkamu said...

G15
I Wayan Eka A (132 06 058)
Joice F Yusriani (132 06 147)
Kami cukup tertarik mengenai prinsip kerja MPLS yang bekerja di antara layer-2 dan layer-3 sehingga sering disebut dengan protokol 2,5.
MPLS dikatakan bekerja di antara layer-2 dan layer-3 karena MPLS menggabungkan kecepatan switching pada layer 2 dengan kemampuan routing dan skalabilitas pada layer 3. MPLS bekerja dengan cara menyelipkan label di antara header layer 2 dan layer 3 pada paket yang diteruskan. Label dihasilkan oleh Label-Switching Router yang bertindak sebagai penghubung jaringan MPLS dengan jaringan luar. Label berisi informasi tujuan node selanjutnya kemana paket harus dikirim. Kemudian paket diteruskan ke node berikutnya, di node ini label paket akan dilepas dan diberi label yang baru yang berisi tujuan berikutnya.

Kebutuhan high speed untuk transfer data saat ini menyebabkan perlunya kolaborasi antar device layer n dengan device layer n+1 untuk mengoptimalkan kinerja. Oleh sebab itu, MPLS berkolaborasi pada layer 2 dan layer 3.

MPLS,salah satu protocol WAN digunakan untuk sebagai penghubung antar LAN. Keuntungannya banyak sekali, antara lain harganya cukup kompetitif dan topologi default yaitu full-mesh.Oleh sebab itu, besar peluang MPLS akan berkembang cukup pesat di masa yang akan datang.

Di indonesia, MPLS yang disediakan oleh perusahaan network provider umumnya bekerja di layer 3 (network Layer).

Irvan said...

G17
Ananto Eka P (13206008)
Irvan Supradana (13206130)

Saya pribadi sangat tertarik dengan perkembangan teknologi IP/MPLS khususnya aplikasi VPN. Tapi setelah saya baca artikel dari G9 ada beberapa pertanyaan yang baru muncul (kenapa juga gak di kelas pas ada pak Willy).

Seperti diungkapkan teknologi ini kan menggabungkan layer 2 dan 3 atau tepatnya MPLS bekerja dilayer 2.5. Nah kalo untuk kebutuhan monitoring jaringan itu prosedurnya gimana ya.
Setau saya monitoring itu dilakukan agent atau entitas yang bekerja di layer 3. Apa tools seperti MRTG masih bisa digunakan yaa???

hefri said...

G23
Peter Hamonangan L Tobing (13206092)
Hefrizal S Ferdinand (13206118)
-----------------------------------------------
Kami ingin memberikan sedikit pandangan terhadap teknologi MPLS. Teknologi MPLS ini memiliki tujuan membawa teknologi IP yang memiliki sistem connectionless ke dalam sebuah teknologi IP yang memiliki sistem connection oriented dengan memanfaatkan teknik switching yang terdapat dalam teknologi ATM (Asynchronous Transfer Mode). Nah, dengan kemampuannya tersebut, MPLS dijadikan sebagai suatu cara yang efektif untuk menggabungkan teknologi IP dan teknologi ATM ke dalam sebuah jaringan backbone.

Dalam pengaplikasiannya,teknologi MPLS ini mampu mengurangi banyaknya proses pengolahan yang terjadi di IP routers, serta memperbaiki kinerja pengiriman suatu paket data. Selain itu, MPLS juga dapat menyediakan QoS dalam jaringan backbone.

Kami juga ingin menambahkan bahwa dengan menggunakan metoda MPLS kelemahan-kelemahan yang ada di jaringan IP tradisional akan dibuka dan dihilangkan sehingga jaringan akan lebih efisien bekerja.

Agar teknik MPLS ini dapat lebih berkembang lebih baik lagi, maka diperlukan suatu standarisasi teknologi MPLS di Indonesia, sehingga keseragaman penggunaan teknologi MPLS untuk jaringan backbone bagi setiap service provider dapat tercapai. Semoga dapat terwujud :D

joko said...

G3
Helmy Muslim Sutarto / 13206024
Joko Ari Wibowo / 13206205


Kami hanya ingin menambahkan opini-opini yang belum dibahas oleh artikel diatas. Dengan adanya solusi meng-konvergen-kan jaringan backbone, vendor-vendor termasuk ALU menawarkan pengoptimalan core transport pada trafik jaringan yang dari tahun ke tahun mengalami peningkatan secara signifikan (ekponensial positif). Kekurangan teknologi-teknologi sebelumnya di bagian data plane, control plane dan management plane dapat diperbaiki dengan teknologi yang baru ini, bahkan dilakukan secara terintegrasi.

Penggunaan teknologi optic atau microwave radio masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan. Keduanya saling melengkapi. Untuk backbone lebih cocok digunakan teknologi optic sedangkan akses ke pelanggan, kami lebih condong berpendapat menggunakan microwave radio, khususnya di Indonesia yang kondisi geografisnya terpisah-pisah.

shendiary said...

Kelompok 7
Shendiary Aviolanda (13206050)
M. Shiddiq (13206074)


Dari teknologi-teknologi yang dipaparkan oleh Bp. Willy, kami berdua tertarik pada teknologi Zero Touch Photonic, yang baru kami ketahui pada kesempatan kuliah kemarin.

Menariknya, dengan teknologi yang dikembangkan oleh Alcatel Lucent ini, jaringan modern dapat beradaptasi dengan kebutuhan layanan yang dinamis dengan mudah. Zero Touch Photonics merupakan lanjutan teknologi WDM dengan colourless dan remote tuneable transponder, sehingga memudahkan manajemen dan pengaturan. Selain itu, teknologi ini memiliki performansi jaringan yang lebih baik (dari sisi waktu time to service, kesederhanaan, dan cost).

Semoga ke depannya, teknologi ini dapat dikembangkan lagi dan dapat mendukung telekomunikasi broadband di Indonesia.

Terima kasih.
Shendi dan Shiddiq.

dtha said...

G13
Ditha N (13205010)
Roy BVB (13206203)


Kami sangat tertarik dengan penjelasan Pak Willy seputar teknologi microwave packet radio. Belakangan ini sistem wireless backhaul semakin berkembang pesat baik untuk teknologi fixed maupun mobile. Namun, sistem wireless memiliki kendala yakni sangat tergantung pada kondisi cuaca. Bila penanganannya tidak tepat maka akan mengancam kualitas service yang diperoleh. Salah satu solusi yang dapat digunakan adalah dengan "Dynamic Adaptive modulation" yakni suatu teknologi yang menyesuaikan jenis modulasi yang digunakan dengan kondisi cuaca mulai dari QPSK, QAM-4, QAM-16, dan QAM-256. Semakin tinggi jenis modulasinya maka semakin besar throughput dan efisiensi spektralnya. Namun, konsekuensinya nilai minimum SNR yang dibutuhkan untuk mencapai BER yang diizinkan pun akan semakin meningkat. Itulah sebabnya pada metoda "Dynamic Adaptive Modulation", sistem akan menurunkan tingkat modulasi yang digunakan seiring dengan semakin buruknya cuaca saat itu. Akan lebih baik lagi jika sistem mampu menyesuaikan alokasi bandwidth link dengan tipe layanan dari paket yang sedang dikirimkan. Paket seperti voice diberikan prioritas yang lebih tinggi dibanding data. Dan teryata semua kebutuhan itu dimiliki oleh salah satu produk microwave Alcatel Lucent yakni MPR 9500. MPR 9500 diperkenalkan sebagai teknologi pertama platform transportasi sinyal elektromagnetik berbasis IP yang dikembangkan oleh Alcatel-Lucent. Teknologi MPR 9500 ini merupakan bagian dari Mobile Evolution Transport Architecture (META) Alcatel-Lucent. Dengan metoda yang telah dijelaskan di atas, MPR 9500 akan memberikan layanan berkapasitas besar, efisiensi tinggi, dan mengurangi biaya operasi bagi operator. Sebagai masukan mungkin alangkah baiknya apabila penyajian materi disertai dengan menampilkan contoh tools/demo dari teknologi yang bersangkutan, mengingat selama di kampus kita tidak diperlengkapi pengetahuan seputar teknologi secara riil yang sedang hangat di dunia pertelekomunikasian saat ini. Terima kasih...

deeto_88 said...

G21
Dito Anggodo Prihastomo (13206109)
Angelia Hermawan (13206076)

Kami tertarik dengan pembahasan dari G9 yang menyoroti mengenai perkembangan teknologi telekomunikasi dewasa ini, terutama dengan keberadaan optik.

Telecommunication engineering pada masa-masa sebelumnya cukup banyak terkonsentrasi seputar pengembangan sektor elektronik, terutama saat dunia telekomunikasi masih mengandalkan kabel tembaga ataupun memanfaatkan komunikasi radio untuk meneruskan informasi dari satu lokasi ke lokasi lainnya.

Penemuan teknologi sistem komunikasi optik membawa perubahan yang cukup signifikan terhadap dunia telekomunikasi. Dengan keberadaan teknologi baru ini, dunia telekomunikasi dapat semakin maju.

Salah satu contoh nyata yang terbayang oleh kami adalah untuk komunikasi yang membutuhkan penggelaran kabel bawah laut antar pulau. Apabila kita menggunakan kabel tembaga, maka untuk jangkauan yang sangat jauh, akan diperoleh kendala apabila membutuhkan repeater di tengah laut yang membutuhkan akses listrik besar. Menarik kabel power dari daratan ke tengah laut untuk tenaga repeater tentunya sangatlah tidak ekonomis dan efisien. Dengan keberadaan teknologi komunikasi optik, dengan memanfaatkan amplifikasi metode Raman. Melalui metode amplifikasi ini, hanya diperlukan sinyal optik tertentu yang dikirimkan dari kedua sisi user, kemudian hasil pertemuan kedua sinyal di repeater bawah laut dengan beberapa sifat khususnya akan menghasilkan keluaran sinyal optik dari repeater yang telah diperkuat dari sinyal masukannya. Hal ini merupakan salah satu wujud keuntungan nyata yang bisa didapatkan dengan penggunaan teknologi komunikasi optik untuk menunjang kemajuan dunia telekomunikasi.

Sekian tanggapan kami, mohon maaf apabila masih terdapat kekurangan dalam tulisan kami ini. Terimakasih.

ikhsan said...

g28
132O6088 ikhsan abdusyakur
13205004 yudha irawan

Kami setuju dengan pendapat

"Hal yang diharapkan adalah cost teknologi dapat naik secara eksponensial negatif seiring dengan pendapatan. Teknologi Ethernet dianggap paling mungkin untuk menekan cost dari sisi teknologinya."

telekomunikasi sebagai salah satu infrastruktur, pelayanan kesejahteraan masyarakat indonesia tentunya mampu mengakselerasi pertumbuhan ekonomi di Indonesia

salah satu perwujudannya adalah apa yang telah disampaikan selama ini oleh Bapak Willy Sabri,
dengan perkembangan mobile broadband besar harapannya akses informasi yang semakin mudah dapat menjadi faktor penunjang perekonomian di Indonesia

"blended multimedia services yang bercirikan empat hal utama: kapasitas besar, QoS untuk berbagai layanan, kebijakan per user per aplikasi, dan ketersediaan elemen jaringan menyangkut masalah keandalan dan keamanan."

adalah sebuah jaminan, bagi infrastruktur telekomunikasi indonesia kedepannya

damar said...

K26
Tubagus Damar Aryudika (132 06 036)
Sepanya Pasaribu (132 06 150)

Kami tertarik dengan fenomena pergeseran teknik transmisi pada jaringan backbone ke arah teknologi optik dan perkembangan dari optical network untuk mengatasi dinamika trafik yang tinggi.

Bertumbuhnya trafik secara eksponensial pada beberapa tahun terakhir ini menuntut teknologi transmisi yang memiliki kapasitas besar, dan pembangunan Optical Network Technology dirasakan sebagai solusi yang tepat. Bagaimanapun, intervensi manual oleh operator untuk menyesuaikan jaringan terhadap berbagai perubahan pola trafik membutuhkan waktu yang sangat lama, sehingga dikembangkanlah Intelligent Optical Network (ION) yang pada kuliah dijelaskan sebagai masa depan teknologi optik.

Semoga teknologi optik ini terus berkembang dan dapat mengatasi berbagai kekurangan yang timbul dalam teknik transmisi berbasis elektronik.