Saturday, February 27, 2010

Broadband Key Enablers 2 - G12

[Authors: Jeffrey Kurniawan, Tommy Hartanto (G12)]
Q1: Ketika saya melakukan Kerja Praktek (KP), saya kebetulan sempat mengurusi PABX pabrikan Alcatel. Waktu itu sedang terjadi proses migrasi dari E1 ke IP Trunk. Namun, ternyata terjadi satu masalah yaitu sistem Dial Up tidak berfungsi. Mengapa hal ini bisa terjadi?

A: Ketika itu tidak bisa melakukan Dial Up karena IP-Trunk masih bersifat best-effort. Cisco Switch 2000 sebagai IP Trunk masih belum support MPLS sehingga tidak dapat terjadi sinkronisasi. Sekarang, proses Dial Up pasti sudah teratasi karena sudah menggunakan MPLS.

Q2: POT (Packet Optical Transport) lebih mengarah ke device atau jaringan?

A: POT lebih mengarah ke network/jaringan. POT dapat dianggap sebagai sebuah jaringan yang menggabungkan SDH dengan MPLS, yaitu yang disebut T-MPLS. Kurang lebih, POT merupakan evolusi dari teknologi SDH. Jadi dalam implementasinya nanti, titik-titik (node) yang sekarang adalah SDH diganti dengan POT. POT ini masih berbicara di layer elektrikal.

Q3: Sebelumnya disebutkan Alcatel menciptakan router yang dapat difungsikan sebagai device layer 4 (NB:router adalah device layer 3 yang biasanya ditempatkan sebagai intermediete system). Nah, bukankan ini berarti bahwa router versi ini mampu membuka dan membaca informasi (header&thriller) untuk device layer 4. Padahal, menurut ketentuan OSI, layer 3 tidak boleh membuka & membaca informasi yang diperuntukkan bagi layer di atasnya (dalam hal ini, layer 4). Maka dengan adanya router yang dikembangkan Alcatel ini, apakah tidak melanggar ketentuan yang ada pada layer OSI ?

A: Sebenarnya peraturan di dalam OSI layer itu bukanlah pertanyaan benar atau salah melainkan hanya rekomendasi dari sisi praktis yang boleh diikuti atau tidak. Pada awal perkembangan jaringan (1970-1980), integrasi antara 2 layer atau lebih belum dianggap terlalu penting. Namun seiring berkembangnya waktu , orang-orang mulai sadar akan perlunya untuk mengintegrasikan fungsi-fungsi dari beberapa layer.

Kalau itu (L3, L4 dan L5) tidak disatukan, apa yang terjadi misalnya kalau kita mengakses Yahoo Messenger (YM)? Jika kita menggunakan YM hanya untuk text, maka tidak akan banyak kendala karena bandwidth-nya kecil dan delay tidak terlalu berpengaruh pada kejelasan informasi. Tapi coba misalnya jika menggunakan fasilitas call/video conference, adanya delay akan berpengaruh terhadap kejelasan informasi yang diterima. Padahal baik text maupun voice akan dilayani secara sama, karena layer 3 tidak dapat membedakan service mana yang perlu prioritas lebih besar. Dengan adanya kebutuhan yang lahir belakangan, keperluan untuk menyatukan L2, L3, L4 menjadi penting. Berangkat dari sanalah, ALU meluncurkan router yang menyatukan layer-layer tersebut. Akan tetapi, tidak semua router secara default bisa layer 4 ke atas, hanya jika dipasang card ISA-AA (Internet Service Adapter-Application Assurance) saja. Jadi begitu ada trafik masuk, bisa dianalisa jenis trafiknya sehingga bisa diberikan QoS yang sesuai.

Q4: Wireless Access Network akan berkembang menjadi WiMAX. Menurut Alcatel-Lucent (ALU) sampai manakah target implementasi dari teknologi ini? Apakah sampai ke daerah-daerah terpencil?

A: Dari sisi ALU, teknologi yang digunakan haruslah yang bisa broadband dan jarak jauh, yaitu teknologi yang mengadopsi MIMO, OFDM dan IP-based. WiMAX ada banyak revisi. Ada revisi D (2004) dan juga E. Setahu saya revisi D belum mensupport MIMO, tidak LOS, belum OFDM. Jadi menurut Alcatel-Lucent jawaban yang paling ideal dan secara komersial lebih murah adalah langsung menggunakan teknologi LTE.

Tetapi dilihat dari sisi Indonesia agak beda. Teknologi yang ada digunakan saja terlebih dahulu, karena teknologi berkembang terus. Kalau kita terus menunggu,maka kita tidak akan pernah menikmati teknologi yang ada. Indonesia sekarang menggunakan revisi 2004, itu mungkin bagus untuk menjangkau hingga kecamatan saja, tapi untuk sampai ke desa-desa/pelosok agak kurang.

Q5: Bagaimana prinsip kerja Photonic Router? Apakah arti warna-warna yang menggambarkan photonic itu?

A: Untuk photonic router, yang di-route adalah lambda. Misalnya, ada empat node: A, B, C dan D. Dari node A ke node B menggunakan lambda 1 untuk mengirim informasi. Namun, untuk segmen B ke C, ternyata lambda 1 sudah digunakan, maka oleh photonic router akan di-switch ke lambda yang kosong, misalnya lambda 2. Kemudian, untuk segmen C ke D boleh kembali lagi menggunakan lambda 1. Bedanya kalau IP router, yang di-route adalah IP packet yang mengandung header, payload, tujuan, source, dst. Jadi untuk IP router, granularitinya di level IP packet. Untuk photonic router, granularitinya di level lambda.

Warna menggambarkan panjang gelombang elektromagnetik cahaya. Berbeda lambda maka berbeda warna. Peralatan dari ALU ada yang bisa mengakomdasi hingga 96 colored WDM signal @ 50 GHz.

Q6: Apakah yang dimaksud dengan provisioning server?

A: Provisioning server bekerja antara user dengan mesin/server yang berfungsi untuk menerjemahkan perintah yang diinputkan user menjadi bahasa routing/networking. Kemudian, oleh router, perintah dari provisioning server diterjemahkan dan dilaksanakan dalam sesuatu yang disebut enforcement (QoS-nya diassign). Tanpa provisioning server, kita tidak dapat langsung mengkonfigurasi secara langsung di routernya. Contoh provisioning server adalah OSS.


OPINI

Perkembangan teknologi telekomunikasi mengarah kepada sebuah jaringan telekomunikasi yang terkonvergensi dimana nantinya berbagai jenis layanan dibawa melalui platform yang sama. Konvergensi itu mengarah ke arah jaringan yang bersifat packet-based. Karena packet-based mempunyai beberapa keunggulan seperti efisiensi bandwidth. Contoh konvergensi yang sudah terlaksana adaalah telepon internet atau VoIP, layanan suara tidak hanya bisa dilewatkan pada jaringan circuit switching saja namun bisa juga dilewatkan pada jaringan IP/packet switching. Namun, sayangnya packet switching bersifat best-effort. Artinya, trafik voice yang “diangkut” melalui paket ada kalanya mengalami delay yang cukup berpengaruh untuk merusak kejelasan informasi di sisi penerima. Dengan adanya kendala seperti itu, maka lahirlah Blended Broadband Service dimana pelanggan dapat memilih sendiri layanan-layanan mana yang akan diberikan QoS lebih besar dan mana yang tidak.

Dari sisi jaringan, arsitektur broadband end-to-end secara garis besar terdiri atas jaringan access, aggregation, edge, dan jaringan transport. Pada kuliah pada hari Selasa, 23 Februari 2010 pembahasan dikhususkan pada Key Enabling Technology pada aggregation, edge, dan jaringan transport. Teknologi yang digunakan tentunya selain secara teknis memang sudah bisa diterapkan, teknologi juga harus ekonomis/efisien. Untuk memenuhi kebutuhan itu, ALU mengimplementasikan teknologi Carrier Ethernet yang diintegrasikan dengan MPLS. Gabungan teknologi Ethernet dan MPLS selain dapat “ditumpangi” segala service, teknologi ini juga dapat menjamin QoS di level tertentu. Implementasi Carrier Ethernet menjangkau seluruh lapisan pelanggan secara end-to-end melalui media fisik apapun (radio, fiber, copper).

Jika di layer link dan network, digunakan Carrier Ethernet dan MPLS, maka di layer fisik dapat digunakan fiber maupun radio sebagai medianya (jaringan transport). Untuk jaringan fiber optik, di masa depan teknologinya akan all-packet transport dan transparent photonic networking serta kapasitas up to 100 GB. Kemudian, pada jaringan radio sudah ada teknologi yang bisa menentukan prioritas antrian berdasarkan jenis layanan (service awareness) dan untuk mengubah skema modulasi yang dipicu oleh perubahan kondisi propagasi/cuaca (service driven adaptive modulation). Kedua teknologi ini berfungsi untuk menjamin QoS yang diterima.

Seperti yang disebutkan dalam salah satu judul buku Thomas L. Friedman “The World is Flat”, tampaknya memang benar dan tidak dapat disanggah lagi bahwa dunia kita ini semakin datar dengan perkembangan teknologi telekomunikasi yang sangat pesat. Jarak dan waktu sudah tidak menjadi batasan untuk berkomunikasi satu sama lain. Diharapkan dengan semakin berkembangnya teknologi telekomunikasi, manusia pun dapat menggunakannya semakin optimal untuk meningkatkan kesejahteraannya karena itulah hakekat dari sebuah teknologi. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah teknologi harus semakin “menyentuh” seluruh lapisan masyarakat agar dapat dimanfaatkan secara merata. Kemudian, berdasarkan pengalaman salah satu dari kami yang bekerja praktek di ALU, ternyata walaupun perangkat teknologi DWDM sudah komersil, tidak semua kebutuhan cocok menggunakan teknologi tersebut. Masih banyak juga proyek-proyek jaringan berkapasitas kecil yang hanya efisien direalisasikan dengan perangkat SDH (misalnya 1660SM). Kesimpulannya adalah di dalam menerapakan suatu teknologi untuk memenuhi kebutuhan, banyak faktor-faktor yang harus dijadikan pertimbangan agar efektif dan efisien.

Sebagai tambahan informasi lebih bagi teman-teman, salah satu produk ALU yang berfitur 96 colored WDM signal @ 50 GHz adalah 1626LM. Alcatel-Lucent 1626 Light Manager merupakan platform DWDM untuk skala regional, nasional maupun jaringan pan-continental. 1626 LM memungkinkan aplikasi terrestrial dari skala Metro-Core (ratusan kilo meter) hingga Ultra Long-Haul (hingga 4500 km) dan aplikasi bawah laut tanpa repeater (400 km), dari kapasitas rata-rata untuk regional hingga kapasitas yang lebih besar untuk jaringan pan-continental. 1626 LM menyediakan kapasitas transmisi modular di atas satu buah fiber optic dengan memultipleks hingga 96 kanal, rate 10 Gbps, dengan spacing 50 GHz pada Extended C-band (1530 nm – 1568.6 nm) serta hingga 32 kanal, rate 10 Gbps, dengan spacing 100 GHz pada standard C-band (1529.55 nm – 1561.42 nm). 1626LM ini dapat dimonitor dan diprovisi melalui NMS.

Kemudian sebagai tambahan bagi pertanyaan Wayan, contoh alat yang yang mengintegrasikan fungsi dari beberapa layer adalah Deep Packet Inspection (DPI). Alat ini berfungsi untuk melihat protocol apa yang digunakan kemudian juga melakukan proses routing kembali. Dikatakan di wikipedia.org/deep packet inspection bahwa alat ini dapat melihat informasi yang berada pada layer 2-7 jika memang diperlukan.

    Share | Save

    Subscribe

8 comments:

firmanegotistic said...

G32
Firman Azhari (13206045)
Mangasi Napitupulu (13206143

Opini yang menarik dari grup di atas. Namun saya memiliki pandangan sendiri tentang platform. Konvergensi PASTI akan terjadi, tetapi tidak dengan menjadi satu platform saja. Alasannya adalah keberagaman platform lah yang selama ini memicu perkembangan teknologi yang semakin cepat. Di sisi lain, secara bisnis, perusahaan yang sudah mendunia akan bisa bersaing jika memiliki platform yang berbeda dengan perusahaan yang lain. Sehingga, secara alamiah perbedaan tersebut akan terus ada. Yang mungkin sama adalah pada konsep konvergensinya dimana seluruh layanan multimedia bisa diakomodasikan dalam satu jaringan yang sama.

Kami juga tertarik pada device DPI (deep packet inspection), mungkin lab telematika kita bisa dilengkapi dengan alat tersebut karena sepertinya sangat menarik.

Terimakasih

priambada said...

G27
Iman Firmansyah 13206133
Priambada Aryaguna 13206170

Saya ingin memberikan tanggapan berkaitan dengan Q3. Dalam konfigurasi OSI, setiap layer memiliki fungsi yang unik. Misalkan ada layer n dengan layer n+1. Layer n+1 berperan sebagai service user, layer yang meminta layanan dari layer n. Layer n sendiri berperan sebagai service provider yang memberikan layanan sesuai yang diminta oleh layer n+1. Terkait dengan pertanyaan Q3, saya kurang lebih setuju (ada kurangnya soalnya kan saya masih belajar :D), suatu layer tidak bekerja dengan cara membongkar muatan informasi dari layanan yang memang tidak diperuntukkan olehnya. Misalnya ketika layer 4 ingin berkomunikasi dengan layer 4 dari suatu sistem yang lain (anggap ada sistem A dan B), layer 4 akan meminta bantuan layer 3 dalam proses komunikasi ini. Layer 3 akan meminta bantuan ke layer 2, dan layer 2 akan meminta ke layer 1 dimana layer 1 sistem A dan B akan saling berhubungan melalui suatu protokol. Ketika paket informasi dikirim, layer 3 tidak berhak membuka informasi layer 4. Yang dilakukan layer 3 adalah menambahkan header sehingga paket tersebut dapat sampai di tujuan. Berangkat dari hal ini, yang mungkin dapat saya kira2, penggabungan ini tidak lantas menyatukan ketiga layer (sesuai soal layer 2,3,4) tetapi membentuk suatu protokol atau media untuk mengakses ketiga layer ini dan mengutilisasinya secara bersamaan. Dengan demikian, secara tak langsung, ketiganya dapat bekerja secara sinkron (meskipun kenyataannya terpisah). Demikian, terima kasih (kritik dan saran saya persilakan :D)

urise said...

G22
Yuris Mulya S (13206124)
Hermanto (13206151)

Kami setuju dengan opini dari G12 ini.
Dengan adanya blended multimedia services tampak bahwa masyarakat semakin mudah untuk menentukan pilihan dengan adanya layanan yang semakin beraneka ragam. Jaringan best effort sendiri merupakan jaringan yang tidak memiliki QoS sehingga jika ditengah jalan terdapat error maka hasil pada penerima akan mengalami distorsi. Sedangkan jaringan yang menggunakan QoS adalah jaringan DiffServ. Dengan jaringan ini, maka pengirim dapat memilih informasi berdasarkan prioritasnya di jaringan. Ada 2 pilihan yaitu Assured Forwading dengan prioritas tertinggi dan Expedited Forwading dengan prioritas yang lebih rendah sehingga wajar jika sekarang yang berkembang adalah jaringan QoS.

Zahara said...

Grup 14
Zahara Yulianti (13206018)
Nur Inayah (13206138)

Kami setuju dengan jawaban dan opini G12 diatas. Sebagai tambahan, Blended Broadband Service merupakan framework komunikasi yang cepat dan berskala penuh dengan biaya yang rendah dari sisi kepemilikan dibandingkan saluran model lama dan alternatif MPLS. Dengan Blended Broadband ini, trafik jaringan menyebar melewati tingkatan koneksi DSL untuk menjamin integritas data dan mencegah koneksi jaringan yang down.

Produk ALU berkaitan dengan platform DWDM yang disebutkan diatas sangat menarik. Terbukti bahwa perkembangan teknologi sekarang sudah sangat maju. Selain itu, adanya produk dari NSN yaitu platform DWDM berbasis hiT7300 menawarkan biaya total kepemilikan yang menarik untuk densitas lebih rendah. Keuntungan ini belum ditambah dengan upgrade dan operasional sederhana yang bisa menurunkan OPEX. Solusi ini menggabungkan fleksibilitas platform metro dengan skalabilitas transport DWDM berkinerja-tinggi. Dari sini terlihat bahwa perkembangan teknologi sangat pesat dan banyaknya produk teknologi yang semakin memajukan dunia telekomunikasi.

Terima kasih

Calculus said...

sedikit koreksi, fixed wimax (802.16d) sudah mendukung mode OFDM.

menurut kami, teknologi telekomunikasi wireless dan optik harus saling mendukung. akan sangat sulit menyediakan akses wireless yang handal tanpa didukung infrastruktur optik yang bagus. semakin banyak kita butuh wireless, berarti semakin banyak kabel optik yang harus digelar. kedua teknologi ini akan saling mendukung di masa mendatang.

standar telekomunikasi (terutama wireless) biasanya hanya mengatur sampai layer 2, dengan begitu banyak opsi yang bisa dipilih untuk implementasi. untuk itulah diperlukan badan sertifikasi untuk menyederhanakan kombinasi yang mungkin diimplementasi, dengan jaminan perangkat tersebut mampu bekerja (terutama dengan perangkat lain) dengan baik hingga ke layer aplikasi. pengguna perangkat akan merasa tenang karena ada jaminan akan investasi yang telah dikeluarkannya.

--
anugrah (23208306)
rahmat (23208346)

Calculus said...

" Setahu saya revisi D belum mensupport MIMO, tidak LOS, belum OFDM."

tambahan mengenai wimax revisi D:

MIMO: sudah ada di standar namun tidak dijabarkan secara jelas, sehingga sulit diimplementasikan. ada beberapa aspek yang kurang mendukung penggunaan MIMO di revisi D ini.

tidak LOS: tentu saja. jika ingin dikomersilkan secara luas, siapa yang mau repot menghadapkan antena wimax-nya ke bts operator wimax tanpa penghalang apapun ? sepertinya sedikit sekali yang berminat dengan pendekatan ini.

belum OFDM: sudah mendukung OFDM (seperti komentar kami diatas)

anantoep said...

Dari kuliah Pak Willy, saya melihat bahwa salah satu teknologi broadband yang akan berkembang adalah teknologi optik. Oleh karena itu, research sistem komunikasi optik di Indonesia perlu ditingkatkan, agar nantinya teknologi tersebut semakin murah, sehingga teknologi broadband dapat lebih “menyentuh” seluruh lapisan masyarakat, sesuai opini kelompok G12.

G17 - Ananto E.P. (13206008) - Irvan S. (13206130)

Arinaldo said...

G25
Arinaldo Adma (13206056)
Debby Permata Putra (13206193)

Kami sepakat dengan pernyataan G32 yang menyatakan bahwa konvergensi tidaklah serta merta diiringi dengan penyamaan platform karena hal tersebut justru mengekang perkembangan teknologi. Lebih jauh lagi, penyamaan paltform hanya akan membuat lesunya bisnis dan indsutri telekomunikasi. Akan tetapi, kami yakin bahwa arahan dan rekomendasi yang bersifat umum tetap diperlukan.

sedikit tanggapan untuk komen dari G27. Menurut kami apa yang disampaikan pak willy sudah menjawab pertanyaan yang diajukan sebelumnya. Dalam hal ini apa yang kita pelajari selama kuliah tidak selamanya bisa diterapkan dalam dunia industri apalagi model OSI "hanyalah" sebuah rekomendasi
yang tidak wajib untuk diterapkan.Walaupun tidak bisa dipungkiri, 7 layer OSI merupakan salah satu model yang membantu dalam memahami proses transfer informasi.

sekian
terima kasih