Friday, February 19, 2010

Broadband Key Enablers 1 - G8

[Authors: Rizki Primasakti, Ngakan N Gandhi (G8)]

Q1 : Mengapa alokasi frekuensi LTE di Eropa tidak menggunakan 700 Mhz?
A1 : Karena alokasi frekuensi 700 MHz sudah digunakan untuk alokasi frekuensi TV digital sehingga apabila ingin digunakan perlu dibebaskan terlebih dahulu. sehingga akhirnya diputuskan untuk menggunakan frekuensi yang kosong

Q2 : Mengapa alokasi frekuensi 2.6 Ghz menjadi favorit?
A2 : Karena banyak negara yang daerah frekuensi kosong berada pada alokasi frekuensi tersebut.

Q3 : Apakah implementasi teknologi wireline di Indonesia akan dedicated terhadap end user? bagaimana skema yang baik agar tidak terjadi pemborosan resources pada skenario pelanggan tertentu?
A3 : secara teoritis iya. tapi mengenai penerapan di suatu daerah semuanya akan merujuk kepada hasil studi kasus bisnis. untuk indonesia tampaknya akan terjadi hybrid.

Q4 : Teknologi fiber end to end akan menjamin bandwidth yang besar, namun penerapan di kota yang tata letaknya semrawut seperti di kebanyakan kota besar indonesia tampaknya tidak feasible, bagaimana komentar bapak?
A4 : Memang benar, namun seperti jawaban saya sebelumnya semuanya akan kembali merujuk ke studi kasus bisnis yang akan dilakukan sebelumnya.

Q5 : Apakah kepanjangan dari GE? tolong jelaskan perbandingan antara teknologi GPON dan GEPON?
A5 : GE adalah Gigabit Ethernet. GPON adalah standar ITU yang mempunyai 2.488 Gbit/s bandwidth downstream dan 1.244 Gbit/s bandwidth upstream, implementasinya lebih banyak dilakukan di luar Jepang. GPON menerapkan teknik multipleksing TDM/TDMA dimana 1 PON mempunyai 64 subscriber. GEPON adalah standar yang diterapkan IEEE dimana mempunyai 74 kanal downstream dan 67 kanal Upstream, diterapkan didalam negara Jepang. GEPON menggunakan skema Ethernet Sharing dimana 1 PON hanya mampu menampung 32 subscriber. untuk implementasi Blended Multimedia Service, GPON lebih superior dibandingkan GEPON

Q6 : bagaimana metoda penjaminan QoS pada IMS?
A6 : Metoda yang diterapkan adalah signaturing terhadap jenis-jenis layanan, serivce control dan profiling. Hal ini dapat dianalogikan sebagai tiket pesawat terbang dan kelas kabin. signaturing akan disimpan dalam sebuah database (bertempat di router). Alcatel Lucent mempunyai router yang dapat menyimpan hingga ribuan q (service signaturing).

Q7 : Ditjen Postel Indonesia ingin lebih fokus ke penerapan teknologi wimax. LTE sangat dekat dengan teknologi Wimax N, apakah menurut bapak hal ini bisa segera dilaksanakan?
A7 : Bisa saja, namun migrasi ke teknologi Wimax N adalah sebuah lompatan yang cukup jauh dibandingkan WiMax D (support MIMO). untuk penerapannya kemungkinan harus dibuat Chipset baru dan hal ini cukup mahal.

    Share | Save

    Subscribe

7 comments:

Rizqi said...
This comment has been removed by the author.
Rizqi said...

Kelompok 10
Rizqi Hersyandika (13206040)
Aldy Pradana (13206079)

Sesi tanya jawab pada kuliah KapSel kemarin cukup menarik. Secara keseluruhan kami setuju dengan jawaban yang dikemukakan Pak Willy.

Kami hanya ingin menambahkan beberapa perbedaan mengenai GPON dan GEPON dari segi arsiektur, yaitu:
1. Frame GPON adalah GEM (GPON Encapsulation Method) sedangkan frame GEPON adalah ethernet.

2. Link budget Optical Distribution Network (ODN)GEPON minimum 26 dB sedangkan GPON sekitar 28 dB

3. GPON sudah menstandarkan interoperability Optical Network Unit (ONU) dan Optical Line Terminal (OLT) yang berbeda sedangkan GEPON masih menggunakan proprietary interface antara ONU dan OLT.

Terima Kasih.

whyand138 said...

Kelompok 15 :
- Ni Wayan Eka A.R.D (132 06 058)
- Joice F. Yusriani (132 06 147)


*) tanggapan untuk Q&A nomor 4
Teknologi fiber end to end (misal : FTTH - Fiber To The Home) memang akan menjamin bandwidth yang besar dan memuaskan pelanggan, namun perlu dilihat bahwa infrastruktur yang telah ada di Indonesia saat ini adalah hybrid, yaitu perpaduan antara JARLOKAT (Jaringan Lokal akses tembaga) dan JARLOKAF (Jaringan lokal akses fiber).Apabila ingin dikonversi secara total menjadi berbasis fiber, maka biaya yang dibutuhkan amat besar, selain itu infrastruktur dan perangkat akses berbasis tembaga yang telah ada di Indonesia akan menjadi mubazir

*) tambahan untuk Q&A nomor 2
Trafik data pada jaringan semakin hari semakin
besar merupakan dampak dari semakin banyaknya pengguna smart phones serta aktivitas
download/upload video. Sehingga, diperlukan servis yang lebih handal dibanding teknologi 3.5G, yaitu LTE (Long Term Evolution) yang merupakan teknologi 4G. Spektrum 2.6 GHz, yang telah distandarisasi oleh ITU sebagai '3G extension band' akan menjadi frekuensi yang vital dalam layanan multimedia pada
LTE karena band 2.6 GHz adalah frekuensi yang ideal dalam meng'coverage' Mobile Broadband pada daerah rural maupun urban, selain itu band frekuensi 2.6 GHz juga dinilai paling efektif dalam transmisi sinyal.

*) tambahan untuk Q&A nomor 7
Peraturan yang dibuat oleh Dirjen Postel menetapkan bahwa alat dan perangkat subscriber station BWA, base station BWA dan antena BWA nomadic pada pita frekuensi 2.3 GHz wajib mengikuti persyaratan teknis sebagaimana tercantum dalam lampiran peraturan ini. Di samping itu juga ditetapkan, bahwa pelaksanaan sertifikasi alat dan perangkatnya wajib berpedoman pada persyaratan teknis sebagaimana dimaksud dalam ketentuan yang berlaku.
Ketiga peraturan itu adalah :
- Peraturan Dirjen Postel No. 94/DIRJEN/2008
- Peraturan Dirjen Postel No. 95/DIRJEN/2008
- Peraturan Dirjen Postel No. 96/DIRJEN/2008
Pemberlakuan ketiga peraturan tersebut telah menandai rencana penggunaan pita frekuensi 2.3 GHz mengingat Ditjen Postel saat ini telah meengalokasikan beberapa pita frekuensi seperti 1.9 GHz, 2.1 GHz, 2.3 GHz, 2.4 GHz, 2.5 GHz, 3.3 GHz, 3.5 GHz, 5.7 GHz untuk akses radio layanan pita lebar.
Namun, karena harga chipset untuk mendukung Wimax N cukup mahal, maka hingga saat ini pemerintah belum memutuskan apakah benar-benar akan bermigrasi ke teknologi Wimax N.
Berikut adalah regulasi kebijakan BWA/WIMAX
1. alokasi band frekuensi 2,3 ghz dan 3,3 ghz
2. band 2,3 ghz akan dilelang untuk operator yang berminat, 3,3 ghz untk menampung migrasi operator bwa existing
3. standar bwa/wimax untuk band 2,3 ghz sudah ditetapkan mengacu kepada standar IEEE 802.16d


* kami mohon maaf apabila ada kekurangan atau
kesalahan dalam berkomentar

febryansyah said...

Kelompok 1
febryansyah dr (13206007)
adhipta sp (13206039)

sesi diskusi kemarin sangat disayangkan terbatas oleh waktu. jadi ada beberapapertanyaan yang ingin saya sampaikan

1. kenapa GEPON lebih marak di daerah asia sedangkan di amerika yang populer adalah GPON?

2. apakah benar biaya untuk teknologi GEPON lebih murah dari teknologi GPON? kalau ya, apa yang menyebabkan prbedaan biayanya?

saya mohon maaf jika ada kesalahan, sekian dan terima kasih

habibur said...

kelompok 19

beny nugraha (13206017)
habibur muhaimin (13206131)

Menanggapi pertanyaan Q6

Q6 : bagaimana metoda penjaminan QoS pada IMS?
A6 : Metoda yang diterapkan adalah signaturing terhadap jenis-jenis layanan, serivce control dan profiling. Hal ini dapat dianalogikan sebagai tiket pesawat terbang dan kelas kabin. signaturing akan disimpan dalam sebuah database (bertempat di router). Alcatel Lucent mempunyai router yang dapat menyimpan hingga ribuan q (service signaturing).

signaturing pada proses provisioning merupakan teknis dari IMS.
ada diskusi lanjutan setelah membaca pertanyaan ini:
Karena adanya penjaminan QoS, dgn kata lain bkn berdasarkan best effort, apa IMS kembali ke karakteristik Circuit Switching dimana terdapat alokasi resources yg dedicated kepada user ?
asumsi kami adalah tidak mungkin IMS kembali ke dedicated resources tapi dengan penjaminan QoS, bagaimana IMS bisa me-manage jaringan ?

terima kasih.
salam bahagia
terlambat berarti bersiap maju dua langkah

aryo said...

Kelompok 24
Aryo Pambudi 13206053
Christ Marcel 13206167

Q and A yang cukup menarik untuk dibahas.

Kami tertarik dengan Q7
Q7 : Ditjen Postel Indonesia ingin lebih fokus ke penerapan teknologi wimax. LTE sangat dekat dengan teknologi Wimax N, apakah menurut bapak hal ini bisa segera dilaksanakan?
A7 : Bisa saja, namun migrasi ke teknologi Wimax N adalah sebuah lompatan yang cukup jauh dibandingkan WiMax D (support MIMO). untuk penerapannya kemungkinan harus dibuat Chipset baru dan hal ini cukup mahal.

Sepengetahuan kami, kecepatan yang sudah dicapai LTE lebih baik daripada Wimax CMIIW, dan sudah hampir mencapai standar 4G. Namun, mengapa di Indonesia teknologi LTE seperti kurang populer dibandingankan dengan Wimax? apakah karena pondasi dari perkembangan jaringan telekomunikasi di Indonesia sendiri kurang support untuk merealisasikan penggunaan teknologi LTE di Indonesia?

Maaf apabila ada kesalahan kata.

zahara said...

G14
Zahara Yulianti (13206018)
Nur Inayah (13206138)

Sebagai tambahan dari QA5 dan pernyataan G10, perbedaan Gepon dan Gpon yang lain yaitu pada Gepon kecepatan upstream dan downstreamnya sama (symmetrical operation) yakni 1.0 Gbps sedangkan pada Gpon asymmetrical operation (2.5/1.25 Gbps). Standar body Gepon itu IEEE sedangkan Gpon itu ITU-T.

Menanggapi pertanyaan G24 tentang kurang popularnya LTE dibanding Wimax di Indonesia, menurut kami dikarenakan teknologi Wimax memang lebih dulu lahir daripada LTE jadi secara perangkat dan dukungan vendor, handset Wimax lebih siap dibanding LTE.

Terima kasih