Friday, February 19, 2010

Broadband Key Enablers 1 - G7

[Authors: Shendiary Aviolanda, M. Shiddiq S.H. (G7)]

Q1 : Bagaimana pengalokasian frekuensi untuk LTE pada beberapa negara, seperti negara-negara di Eropa mengapa tidak menggunakan frekuensi 700 MHz? Apakah karena frekuensi 700 06z sudah dipakai di negara-negara US? Selain itu mengapa terlihat bahwa frekuensi 2,6 GHz menjadi frekuensi favorit (banyak digunakan di beberapa negara)?

A : Pengalokasian frekuensi bergantung pada negara itu sendiri, seperti peraturan dan frekuensi mana saja yang telah digunakan. Bukan karena itu. Di Eropa, frekuensi 700 MHz sudah digunakan untuk layanan lain sehingga dipilih frekuensi lain untuk layanan LTE. Seperti di Indonesia, frekuensi 700 MHz telah digunakan untuk TV. Bila ingin menggunakan layanan lain pada frekuensi tsb, harus dibebaskan terlebih dulu, contohnya dengan menggunakan TV digital, dll. Untuk frekuensi 2,6 GHz yang banyak digunakan di negara-negara lain adalah karena frekuensi tsb masih kosong (belum digunakan untuk layanan lain) dan dengan frekuensi tinggi dan bandwidth yang tinggi, handset dapat didesain dengan ukuran kecil karena semakin tinggi frekuensi maka panjang gelombang akan semakin kecil dan pada akhirnya komponen utama yang digunakan dapat berukuran sangat kecil yang kemudian memungkinkan fitur-fitur lain untuk diaplikasikan pada ukuran yang sama.

Q2 : Apakah layanan wireline bersifat dedicated? Bila iya, untuk potensi pasar perumahan, apakah tidak boros (dari segi operator) misalnya untuk studi kasus mudik?

A : Untuk pelanggan perumahan biasanya layanan bersifat dedicated. Boros atau tidaknya dianalisis dari business case yang ada. Di Indonesia, jumlah pelanggan mobile jauh lebih besar dari pelanggan fixed (mobile = 150 jt pelanggan, fixed line = 8,7 jt pelanggan, dan speedy = 1,7 jt pelanggan). Corporate biasanya menggunakan fixed line/ wireline sebab resiko tidak mendapatkan layanan sedikit serta ARPU lebih tinggi. Studi kasus tersebut memperlihatkan bahwa layanan public kebanyakan menggunakan wireless dan layanan corporate menggunakan wireline.


Q3 : Apakah skema end to end lebih bagus?,untuk wireline,bagaimana pengaturan tata letaknya untuk kota yang sudah terlanjur cukup berantakan seperti Jakarta?

A: Agar efektif, kedua layanan dibuat seimbang sesuai kebutuhan, jadi dua-duanya jalan, baik wireless maupun wireline. Misalnya untuk daerah yang aman untuk dipasang galian baru wireline dan secara risiko kedepannya baik maka layanan pada daerah ini dapat berbentuk wireline, untuk tempat-tempat lain sisanya menggunakan layanan wireless.



Q4 : Apakah kepanjangan dari GE? Dan apakah perbedaan dari GPON dan GEPON?

A : GE adalah Gigabit Ethernet.
Perbedaan utama mengenai GPON dan GEPON antara lain :
GPON (Gigabit-capable Passive Optical Networks) merupakan standar ITU, denganefisiensi bandwidth = 93%, menggunakan teknologi TDM-TDMA, digunakan di banyak negara seperti Eropa, Amerika, Singapore.
GEPON (Gigabit-Ethernet Passive Optical Networks) merupakan standar IEEE, dengan efisiensi bandwidth downstream = 74 %, upstream 67%, teknologi Ethernet yang di-share, serta digunakan di Jepang.
Pada GPON, 1 PON terdiri atas 64 subscriber dengan 512 unit QoS yang berbeda, sedangkan pada GEPON hanya 8 QoS. Untuk itu, GPON dinilai lebih superior dan banyak digunakan.



Q5 : Bagaimana cara menjamin QoS per user per service pada IMS?

A :IMS merupakan sebuah layanan, yang masing2 servicenya memiliki signature. Signature tersebut dapat menunjukkan jenis QoS layanan dan dihubungkan pada database pelanggan, sehingga dapat diketahui seorang pelanggan berlangganan layanan apa saja. Router akan menghubungkan jaringan berdasarkan signature tersebut.


Q6 : Saat ini di Indonesia,Postel baru memiliki aturan mengenai WiMAX (IEEE 802.16 Rev-d) sedangkan di dunia sudah mulai LTE sebagai revisi dari WiMAX IEEE 802.16 m. Bagaimanakah migrasinya?

A : Untuk chipset, kemungkinan besar harus membuat baru, sebab yang sekarang ada di Indonesia adalah chipset untuk WiMAX Rev-d (2004) dan masih belum dapat menangani MIMO (Multiple Input Multiple Output). Selain itu, dari standar IEEE 802.16 Rev-d ke IEEE 802.16 e cukup sulit, sedangkan migrasi IEEE 802.16 e ke IEEE 802.16 m kemungkinan modifikasinya tidak terlalu sulit karena teknologinya tidak jauh berbeda. Selain teknologi, concern pemerintah yang lainnya adalah keadaan masyarakat, yang berarti akan berhubungan dengan harga-harga seluruhperangkat yang digunakan juga harga service sebagai akibatnya.


Opini
Untuk saat ini di Indonesia, perangkat WiMAX lebih siap dibandingkan dengan LTE. WiMAX telah dikembangkan oleh beberapa perusahaan dan sudah ada regulasinya, sedangkan LTE belum. Namun LTE yang merupakan pengembangan dari teknologi GSM dan CDMA yang diprediksi akan lebih mudah diterapkan di pasaran karena jaringan GSM dan CDMA sudah cukup luas di kota-kota.

Namun, secara segi ekonomi, upgrade dari keadaan Indonesia saat ini bagi platform LTE membutuhkan dana yang lebih besar, sehingga biaya yang akan dikenakan kepada masyarakat baik secara device maupun service akan lebih mahal dan cenderung memberatkan bagi keadaan masyarakat Indonesia sekarang. Sehingga pemerintah perlu melakukan analisis menyeluruh untuk menentukan arah perkembangan teknologi broadband negara kita agar baik secara perkembangan kita terhadap dunia dan penerapan harga kepada masyarakat keduanya optimal.

    Share | Save

    Subscribe

12 comments:

bo_im88 said...

Sesi diskusinya cukup menarik. Sayang waktunya terbatas. Kami setuju dengan jawaban2 yang diberikan oleh Pak Willy.

Dari pertanyaan2 yang diajukan, terlihat bahwa terdapat banyak skema teknologi broadband yang ada. Tiap negara memiliki skenario yang berbeda. Kita (dalam hal ini pemerintah) harus memilih dengan cerdas teknologi broadband seperti apa yang paling pas untuk diterapkan di Indonesia. Tentunya tidak mudah. Setuju dengan opini G7. Sangatlah perlu dilakukan analisis menyeluruh sebelum melakukan perombakan infrastruktur telekomunikasi secara besar2an menuju teknologi broadband. Tidak hanya dari segi ekonomi saja, bidang2 yang lain juga perlu.

Group 23:
Peter H.L Tobing (13206092)
Hefrizal S. F (13206118)

urise said...

Kelompok 22 :
Hermanto (13206151) & Yuris Mulya Saputra (13206124)

Kami setuju dengan opini yang dikemukakan G7.
Pemilihan teknologi WiMAX atau LTE dalam aplikasinya perlu beberapa pertimbangan. Dari segi kecepatan transfer data maupun jangkauan coverage, teknologi WiMAX mungkin masih sedikit di bawah teknologi LTE.

Seperti yang telah kita ketahui bersama, LTE merupakan pengembangan dari GSM yang sudah menguasai pangsa pasar dunia. Perangkatnya juga sudah siap diintegrasikan pada BTS GSM. Jadi, untuk daerah perkotaan yang densitasnya sangat tinggi akan lebih cocok menggunakan LTE, karena tidak perlu lagi memperluas jaringan LTE yang masih sangat mahal. Sedangkan untuk WiMAX mungkin akan lebih cocok untuk diterapkan pada daerah pedesaan yang jarak antar site-nya jauh dan investasi yang dikeluarkan untuk WiMAX lebih sedikit. Jadi, masing-masing teknologi tersebut akan saling mendukung dan mempunyai segmen yang jelas, yaitu WiMAX untuk daerah pedesaan dan LTE untuk daerah perkotaan.

Terima Kasih...

Irvan said...

kelompok 17
Ananto Eka P (13206008)
Irvan Supradana (13206130)

Wow...saya sangat menantikan komersialisasi dari LTE di Indonesia. Setidaknya kita bakalan bisa membandingkan kinerja dan performansi Wimax dan LTE. Tapi yang gak kalah pentingnya adalah kesiapan interoperabilitas dari vendor2 di Indonesia untuk melakukan pengujian dan pengembangan dari teknologi LTE. Kan gak banget klo kita selalu dilangkahkan oleh negara lain. Semoga suatu hari Indonesia bisa menjadi mercusuar di bidang telekomunikasi.Aminn

priambada said...

G27
Iman Firmansyah 13206133
Priambada Aryaguna 13206170

Saya salah satu dari sekian orang yang berharap LTE dapat eksis di negeri tercinta ini. Eksis bukan hanya dalam teknologi tetapi juga dari segi ekonomi dengan kehandalan yang dapat dipertanggungjawabkan (pokoknya harus lebih oye dibanding teknologi eksisting saat ini XD). Di masa mendatang, LTE bukan hanya sekedar cerita masa lalu (pada saat kuliah kapsel terutama :D) tetapi telah menjadi sebuah kemajuan telekomunikasi yang dapat dinikmati secara merata oleh masyarakat kita. Semoga..

jfkoernia said...

G12:
Jeffrey Kurniawan (13206128)
Tommy Hartanto (13206102)

kami setuju dengan pendapat teman2 di atas.
perancanaan yang matang dan komprehensif sangat diperlukan di dalam menyongsong perombakan teknologi menuju LTE. Jangan sampai, ketika LTE-nya sudah jadi, ternyata tidak efektif dan efisien.

untuk penerapan awalnya, senada dengan yang disampaikan oleh Pak Willy, LTE bisa diterapkan di perkotaan terlebih dahulu yang memiliki jumlah user dan trafik yang relatif tinggi.

kemudian, sedikit menanggapi pendapat dari G27. ketika kami membacanya, ada sesuatu yang terlintas di benak, "dapatkah suatu teknologi "mahal" dinikmati secara merata?"

terima kasih

dtha said...

G13
Ditha N (13205010)
Roy BVB (13206203)

Menanggapi pendapat saudara irvan dan ananto:

Menurut kami melangkahi negara lain lewat kesiapan interoperabilitas dari vendor2 untuk melakukan pengujian dan pengembangan dari teknologi LTE adalah suatu hal yang kurang tepat, karena:
1. Vendor2 yang berada di belakang operator2 di Indonesia sebagai pelaku utama bisnis telekomunikasi notabene didominasi oleh perusahaan asing, dengan kata lain, walaupun vendor tersebut melakukan riset/pengembangan teknologi yg hampir selalu dilakukan di negara asalnya tetap saja yang mendapatkan manfaat utama adalah negaranya sendiri. Indonesia tetap terlangkahi.


2. Vendor2 asing yang berkantor di Indonesia cenderung hanya menjalankan bisnis dan maintenance, jarang melakukan riset, dengan kata lain tidak banyak orang2 indonesia yang dibekali pengalaman riset terkait teknologi telekomunikasi saat ini yang pada dasarnya menjadi modal yang baik untuk pengembangan teknologi di dalam negeri. Lagi2 Indonesia dilangkahi.

3. Walaupun segelintir orang Indonesia berkesempatan untuk mengecap pendidikan yang lebih dan pengalaman riset di negeri orang kemudian kembali ke negara ini untuk mengaplikasikan apa yang dia telah peroleh, tetap saja kita terlangkahi, Karena di saat kita baru memulai melangkah menerapkan di negara kita apa yang dikerjakan orang2 di luar sana, orang2 di luar sana sudah memulai lagi sesuatu yang baru.


Berdasarkan kenyataan di atas, kami pesimis-bukan tidak mungkin yah- negara kita bisa melangkahi negara lain dalam hal teknologi terkait di atas. Lalu di sisi mana negara kita bisa selangkah lebih maju terkait teknologi broadband ini. Menurut kami dan salah satu dosen kita untuk mata kuliah pemrograman berorientasi objek, ada satu celah di mana kita bisa melangkahi negara lain, suatu peluang yang masih terbuka lebar untuk negara berkembang seperti kita yaitu bisnis content. Yak, dalam hal ini bisnis content yg dimaksud adalah bentuk layanan lewat media broadband, misalnya: sistem informasi transportasi, safety, pendidikan, hiburan, dll. Menurut beliau celah yang satu ini masih minim pemain. Nah, di saat negara2 maju dan tentunya sebagian dari kita sibuk bergerak di sisi sebut saja teknologi beratnya (urusan hardware,software,dkk), mengapa kita tidak mencoba bergerak di sisi contentnya?


Selain itu, tanggapan untuk opini yang diberikan oleh kelompok 7:

Menurut kami, alangkah baiknya apabila teknologi LTE yang merupakan revisi dari WiMAX dapat dikembangkan juga di Indonesia. Mengingat Indonesia adalah salah satu negara berpenduduk terbanyak di dunia, yang membuat telekomunikasi menjadi suatu kebutuhan yang vital bagi masyarakat Indonesia. Selain itu, fenomena teknologi, yang dari tahun ke tahun selalu berkembang, akan memaksa pemain di dunia teknologi telekomunikasi harus memutar otak untuk dapat segera mengembangkan teknologi LTE di Indonesia. Solusi yang dapat kami tawarkan adalah produsen telekomunikasi di Indonesia mencoba untuk mengembangkan teknologi yang lebih kompatibel dan fleksibel dari awal agar setiap perubahan dalam teknologi telekomunikasi dapat diantisipasi dengan baik. Balik lagi kepada pendapat yang telah kami utarakan di atas, hal ini seharusnya dapat menjadi bahan perenungan bagi kita semua bagaimana agar bangsa kita tidak tertinggal dalam kemajuan-kemajuan bangsa lain.

Untuk Indonesia yang lebih baik..

priambada said...

Saya ingin menanggapi tanggapan yang dikemukakan oleh G12 (kode rahasia ini nampaknya :D). Apakah teknologi mahal bisa dinikmati secara merata? Saya percaya jawabannya bisa. Bila pun tidak semua, sebagian besar kalangan dapat menikmatinya. Internet adalah salah satunya. Pada tahun 90an, internet adalah barang mahal dan sangat ekslusif. Hanya sebagian kecil kalangan yang dapat menikmatinya. Saat ini, internet menjadi salah satu teknologi yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari2 (terutama bagi kita =)). Beranjak dari situ, ada harapan bahwa LTE akan mengalami fase yang sama dengan internet. Mahal pada mulanya, tetapi menjadi murah dan dapat dinikmati pada akhirnya. Entah butuh waktu berapa lama untuk mewujudkannya. Sekian =)

debby said...

G25
Arinaldo Adma (13206056)
Debby Permata Putra (13206193)

Sedikit tambahan untuk jawaban pertanyaan Q2,menurut kami, layanan yang tidak dalam kondisi sedang digunakan, contoh kasus: mudik, bukanlah merupakan sebuah pemborosan bagi operator. Hal ini dikarenakan layanan dedicated tersebut tetap dibayar oleh user, bahkan operator diuntungkan dengan kondisi ini karena adanya pengurangan trafik.

Menambahkan opini dari G17, pengimplementasian LTE di Indonesia tidak hanya mempertimbangkan interoperabilitas antar vendor, tetapi juga kesiapan menyediakan handset yang compatible dengan harga yang terjangkau, tentu saja selain masalah regulasi yang harus diperbarui.

Menanggapi pandangan pesimis dari G13, menurut kami bukan tidak mungkin Indonesia dapat menerapkan teknologi baru yang belum diimplementasikan di negara lain, contoh : Indonesia adalah salah satu negara pertama yang mengimplementasikan teknologi 3G dan EVDO-Rev B. Hanya saja memang perlu dorongan lebih dari pemerintah agar industri telco dapat tumbuh lebih baik lagi.

fadhilahana said...

G12: Giri K. dan Fadhilah Hana

Sama seperti Irvan dan Priambada, saya pun ingin LTE cepat2 datang ke Indonesia :D

Dan menanggapi priambada mengenai fasa mahal-menjadi-murah. Saya ingin memberikan komentar:
Misalkan pada suatu saat LTE diimplementasikan di Indonesia, pasti pada awalnya harganya (sangat) mahal. Butuh waktu berapa lamakah agar biaya ini menjadi murah dan bisa dinikmati oleh semua kalangan (seperti kasus internet)

Sedangkan berdasarkan hukum yang ada, semakin lama evolusi teknologi semakin pesat. Jadi bukannya tidak mungkin, teknologi yang baru di-launch akan tergeser dengan teknologi baru.

Oleh karena itu, menurut saya agar hal ini dapat diminimalisir, diperlukan adanya perencanaan yang matang dari vendor (seperti yang Jeffrey katakan). dan terus menerus yang dikembangkan sehingga tetap dapat menyesuaikan dengan zaman.

Mohon maaf jika ada yang salah :)

frida said...

G16 - Sutinah (13206038) & Frida K (13206057)

Pada dasarnya kami sepakat dengan beberapa pendapat di atas agar LTE dapat segera diterapkan di Indonesia.

Akan tetapi berkaca dari pengalaman, cukup terdapat gambaran yang jelas bagaimana suatu teknologi diperkenalkan, diuji coba, dipasarkan dan diterima pasar di Indonesia. Dalam hal ini, kita dapat melihat bagaimana 3G berkembang di Indonesia. 3G yang sebenarnya sudah dikenalkan sejak tahun 1996, baru dapat diadopsi dengan baik di Indonesia pada tahun 2006. Terminal yang tersedia juga masih terbatas.

LTE menggunakan band frekuensi yang ada di 3 dan 5 GHz (pita UMTS atau seluler), yang berarti beririsan dengan teknologi HSDPA/HSUPA, WiMAX, EDGE dan seluler itu sendiri. Kalau operator ingin menggelarnya, dia harus mempunyai spektrum itu. Hal itu tidaklah mudah dan murah. Atau dia dapat mengganti infrastruktur yang telah ada dengan teknologi LTE tadi. Akan tetapi, jika hal ini yang dipilih, bagaimana dengan investasi infra yg sudah ada.

titotz said...

G4
Muhammad Tito S - 13206134
Anggita Hapsari G - 13206034

Antara penerapan teknologi WiMax dan LTE memang memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri.
Dan melihat trend perkembangan teknologi, harusnya skrg ini di Indonesia sudah mulai diterapakn WiMax.

Untuk menerapkan suatu teknologi dengan teknologi yang lebih baru dibutuhkan beberpa pertimbangan, diantaranya:
1. Alokasi frekuensi yang digunakan, karena frekuensi dewasa ini merupakan sumber daya yang sangat berharga dalam dunia telekomunikasi, dan alokasi frekuensi di Indonesia dari awal tidak begitu baik, masalah yang ada baru kelihatan sekarang ini.
2. Perlu diingat bahwa teknologo yang baru siftnya suplementer atau komplemnter terhadap teknologi yang lama. bila hanya suplementer tentunya tidak akan terlalu banyak aset infrastruktur-yang sudah ditanamkan untuk mendukung teknologi tersebut- yang 'dibuang'. Tapi jika sifatnya komplemnter tentu perlu dikaji lagi, apakah masyarakat sudah siap dengan migrasi ke teknologi yang baru spenuhnya..

Terimakasih.
Maaf apabila ada salah kata..

Oryza said...

G09
Nana Mulyana (13206166)
Oryza Nicodemus Tarigan (13206075)

Kami tertarik sekali dengan opini yang diutarakan oleh G13 mengenai keberadaan teknologi telekomunikasi baru yang ada seringkali tidak diimbangi oleh pusat riset di Indonesia.

Seperti yang kita ketahui bersama, vendor-vendor telekomunikasi di Indonesia kurang diimbangi dengan keberadaan pusat-pusat riset lokal yang mapan. Kebanyakan vendor yang ada sekarang lebih banyak bergerak di bidang marketing dan instalasi perangkat saja. Hal ini menurut kami sangat disayangkan karena sebenarnya keberadaan vendor-vendor ini juga dapat dimanfaatkan untuk kemajuan riset bersama-sama dengan pihak perguruan tinggi.

Kalau kami lihat saat ini, keberadaan pusat-pusat riset besar yang mapan dan aktif berinovasi terutama di bidang teknologi telekomunikasi justru berasal dari vendor-vendor terkemuka dan bukan berasal dari pusat riset dari perguruan-perguruan tinggi terutama di Indonesia.

Akan sangat baik, kalau ke depannya, teknologi apapun yang dikembangkan dapat juga melibatkan pihak perguruan tinggi Indonesia untuk ikut dalam kegiatan riset. Tampaknya sulit untuk merealisasikannya mengingat kebanyakan vendor telekomunikasi adalah perusahaan asing.

Mohon maaf kalau ada perkataan kurang berkenan. Terima kasih.