Friday, February 19, 2010

Broadband Key Enablers 1 - G6

[Authors: Dimas Triwicaksono, Rifqy Hakimi (G6)] Sekilas tentang sejarah singkat telekomunikasi yaitu diawali oleh era telephony oleh Graham Bell pada tahun 1876, kemudian sejak tahun 1988 muncullah era internet dan cell yang ditandai dengan boomingnya internet, seluler, notebook, dll. Sejak tahun 2007, dimulailah era multimedia yang didominasi oleh Blackberry seperti saat sekarang ini. Evolusi telekomunkasi sekarang ini lebih mengarah ke Blended Multimedia Service, dimana service diberikan melalui jaringan akses wireless dan wireline. Intinya, evolusi telekomunikasi abad 21 ini, lebih ditekankan ke jaringan multimedia dan komunikasi, yang terdiri dari 3 aspek, yaitu: ...

End to End Network

Elemen-elemennya terdiri dari CPE/CLE, BSAN, BSA, BSR, dan Optik. CPE contohnya modem yang terdapat di rumah-rumah, atau handset. CPE merupakan end user. BSAN ata Broadband Service Access Node berfungsi sebagai node antara BSA(Broadband Service Aggregator) dengan end user baik secara wireline maupun wireless. BSR berfungsi sebagai router. Sedangkan optical transport berfungsi menghubungkan antara BSAN dengan BSA. Beberapa key attribute pada jaringan broadband antara lain kapasitas, QoS seperti bandwidth dan delay, ketersediaan elemen jaringan, dll.

Prinsip dari telekomunikasi adalah menyampaikan informasi. Di masa lalu, informasi itu dibedakan dalam dua jenis, yaitu voice dan data. Keduanya ditransmisikan dengan cara berbeda. Voice dengan circuit switching dan data dengan paket switching. Circuit sitching bersifat connection oriented, dan sangat cocok unutk trafik jaringan hirarki. Paket siwtching bersifat connectionless, dimana setiap resource yang kosong langsung digunakan untuk mendeliver trafik. Paket switching ini cocok untuk jaringan statistical multiplexing dan sharing. Meskipun teknologi circuit switching masih mendominasi, paket switching pun sedang dalam proses berkembang. Sekarang, kedua jenis informasi baik voice maupun data akan dan sedang dikonvergensi. Sehingga, di masa depan kita berharap, konvergensi ini akan semakin memudahkan telekomunikasi mendatang.

Wireless Access

Evolusi dari jaringan mobile baik CDMA, W-CDMA, maupun WiMAX seluruhnya mengarah ke LTE. Jika dilihat dari aspek service yang diberikan yaitu dimulai dengan voice, SMS, lalu bermigrasi ke web browsing, berikutnya media streaming, VoIP, hingga real time multimedia. Jika dilihat dari aspek RAN Transport yang diawali dengan TDM hingga sekarang yaitu IP/Ethernet. IP merupakan fondasi dari layanan multimedia terbaru dan multiservice transport. Arsitektur jaringan sekarang yang bersifat hirarki, diprediksi di masa yang akan datang adalah all- IP.

Arsitektur UMTS yang 3G terdapat dua jenis yaitu R99 dan R4. Pada R99 layanan data dengan voicenya terpisah. Voice masuk ke MSC dan diteruskan ke PSTN bersifat TDM backbone. Data masuk ke SGSN, diteruskan ke CGSN bersifati IP best effort BB. Pada R4, layanan voice dan data sama-sama IP backbone.

LTE merupakan singkatan dari Long Term Evolution. Teknologi ini diprediksi sanagt efisien. Seluruh teknologi sebelumnya seperti GSM, CDMA, WiMAX pun akan bermigrasi ke LTE. LTE sendiri dikenalkan sebagai teknologi 4G.

Wireline Access

Kalau LTE merupakan solusi broadband. Maka, untuk wiredline, tren kedepannya bakal digunakan fiber optik untuk hubungan dari end-user ke provider termasuk backhaul dan backbonenya.

Siapa saja yang dapat menggunakan hubungan fiber optik ini antara lain :

  1. untuk Home
  2. Small/medium businnes
  3. MDU (multi dwelling unit)
  4. Large enterprise

Kenapa Digunakan Fiber Optik?

Dengan adanya fiber optik tentunya total througput yang akan dihasilkan jauh lebih besar dibandingkan dengan jarigan kabel biasa. Kelebihan-kelabihan itu yang membuat pertumbuhan jaringan optik semakin meningkat.

Adanya kecenderungan, bahwa di masa mendatang layanan dan konten yang ada akan menuju ke Triple Play (voice, data, video) yang membutuhkan bandwith dan keandalan yang lebih tinggi.

Dari tiap-tiap pelanggan itu, kebutuhan akan jaringan wiredline juga berbeda-beda.

Misalnya untuk pelanggan rumah, tentu berbeda dengan pelanggan Enterprise. Dari segi biaya dan kehandalan jaringan.

Untuk home, misalnya. Solusi FTTH (fiber to the home) dapat diterapka dengan menggelar fiber optik sampai titik tertentu, kemudian dilakukan splicing menggunakan passive splicing.

Passive splicing ini memiliki beberapa keuntungan, tidak diperlukannya suplai listrik membuat splicing jenis ini bebas perawatan, akibatnya total cost untuk fiber ini jadi lebih murah. Akan tetapi ada kekurangannya, jumlah maksimum usernya jadi terbatas.

Dari fiber yang diteruskan ke rumah ini, dapat disambungkan kepada wireless AP untuk kebutuhan mobile di rumah, misanya laptop.

Teknologi yang lain memerlukan suply listrik untuk melakukan splicing. Hal ini mengakibatkan perlunya perawatan, akan tetapi menawarkan kehandalah yang dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan.

Fiber optik juga dapat digunakan sebagai backhaul maupun backbone. Dari end-point fiber, dapat diteruskan melalui kabel koaksial ataupu kabel UTP ke rumah-rumah.

Menurut kami, untuk sekarang, penggunaan fiber optik di Indonesia belum sampai pada taraf fiber to the end user.Biasanya provider-provider yang menggunakan fiber optik untuk menghubungkan antar BTS, dan perusahaan perusahaan yang khusus menyewa jaringan fiber untuk layanan data mereka.

Kedepannya diharapkan agar pertumbuhan fiber optik di Indonesia lebih maju, seiring dengan pembangunan infrastruktur yang memadai dan harga fiber optik serta perlengkapannya yang semakin murah.

    Share | Save

    Subscribe

6 comments:

Eueung Mulyana said...

Dari GB5 (Untuk KapSel, kelompok B hanya wajib mengerjakan Tugas-3 saja; kecuali memang yg memang ingin tayang-yg demikian please explisit sebutkan di email-)
---

Teknologi akses dapat dibedakan atas teknologi berbasis wireline dan wireless. Evolusi teknologi akses wireline diawali dari PSTN (Public Switched Telephone Network), berkembang ke ISDN (Integrated Service Digital Network), lalu menuju ke DSL (Digital Subscriber Line) hingga FTTX (Fiber To The X). Teknologi wireless berevolusi dari generasi pertama (1G) yang analog, ke 2G yang dijital dengan sistem yang terkenalnya Global System for Mobile communication (GSM) berkembang ke GPRS (General Packet Radio Service). Lalu berkembang ke 3G dengan teknologi yang dikenal sebagai Universal Mobile Telecommunication System (UMTS), lalu ke High Speed Downlink Packet Access (HSDPA) dan Long Term Evolution (LTE). Bila pada GSM teknologinya berbasis TDMA yang masih narrow-band maka pada 3G dan seterusnya berbasis Wideband Code Division Multiple Access (WCDMA) yang broadband.

Teknologi akses untuk data juga berkembang diawali dari Wireless Fidelity (Wi-Fi) dengan jangkauan untuk terbatas yang dikenal sebagai WLAN, dan teknologi Broadband Wireless Access (BWA) terkini adalah Worldwide Interoperability For Microwave Access (WiMAX) yang memiliki jangkauan luas dan kapasitas besar. WiMAX adalah teknologi broadband yang sangat menjanjikan dimasa kini dan mendatang. Wi-Fi berdasar pada standar IEEE 802.11, dan WiMAX berdasar pada standar IEEE 802.16. Perkembangan internet juga mengalami kemajuan yang sangat luar biasa yang semula untuk e-mail dan FTP, kini mampu untuk chatting, web based application,portal serta kini telah mampu untuk mendukung VoIP dan IPTV.

Opini

Dalam era konvergensi dan layanan multi-play seperti sekarang, baik wireless dan wireline broadband harus dilihat sebagai teknologi yang saling melengkapi yang menawarkan pelanggan berbagai blended multimedia service. Meski mobile broadband memiliki throughput yang lebih rendah dari fixed access, namun layanan ini menyediakan kenyamanan konektivitas ‘on-the-go’ bagi pelanggannya. Sehingga ke depannya, kedua layanan ini akan berjalan beriringan dan bukannya bersaing saling mencaplok pasar.

GB5
Aghintha Pradewi, Ulil S. Zulpratita

tendyzheng said...

Opini

Yg saya tangkap dari presentasi pak Willy adalah perkembangan teknologi menuju 'smart network' which can distinguish which service should get better QoS (delay sensitive) for example VoIP and which doesn't. So, a mere blended multimedia service isn't sufficient.

Btw, saya kurang setuju ama term 'LTE. Soalnya sbrp advanced pun teknologi telekomunikasi, maka LTE tdk akan pernah tercapai. Atau memang sengaja dibuat begitu.. :p

dtha said...

G13
Ditha N (13205010)
Roy BVB (13206203)


Diversitas kebutuhan manusia dalam teknologi komunikasi memicu pesatnya perkembangan teknologi dalam dunia telekomunikasi saat ini. Sedikit saja kita terlelap, maka kita akan sangat jauh tertinggal. Hal ini secara tidak langsung memicu persaingan di antara produsen teknologi terutama di negeri kita, Indonesia.
Harapan dari kelompok kami adalah pelaku bisnis telekomunikasi dapat Lebih bijak dalam melihat teknologi mana yang benar2 sesuai dan dibutuhkan oleh keadaan masyarakat di Indonesia. Jadi bukan dillihat dari modern atau tidaknya suatu teknologi, tapi lebih ke efektif tidaknya teknologi tersebut untuk diimplementasikan.

Andromeda said...

G18
Niki Adytia Putra (13206077)
Deon Arinaldo (13206199)

Menurut opini kami, teknologi komunikasi akses di Indonesia akan lebih efektif jika memanfaatkan akses wireless. Alasannya untuk saat ini pemerataan jaringan akses belum optimal. Arah perkembangan teknologi saat ini yang mengarah ke WiMax menurut kami telah cukup tepat. Hal ini disebabkan pemerataan jaringan akses dengan wireless akan lebih mudah&murah dibanding menggunakan jaringan wireline melihat keadaan infrastuktur daerah2 di indonesia.

hmuslims said...

wiredline atau wireless?
Fiber, LTE, atau Wimax?

Menurut pandangan kami, pilihan-pilihan di atas berhubungan dengan nilai ekonomi, performansi dan kebutuhan akan akses informasi oleh pengguna. Seperti pada grafik perbandingan antara mobility dan transfer rate, transfer rate yang lebih tinggi didapat dengan mengorbankan mobilitas, begitu pula sebaliknya, mobility yang lebih tinggi mengorbankan transfer rate, dengan kata lain trade-off.

Namun demikian, kasus LTE dan Wimax sangat menarik. Keduanya menawarkan mobility yang dibarengi dengan transfer rate tinggi (downlink >100MB). Tapi tetap saja, untuk fixed network, penggunaan fiber optik yang menawarkan kecepatan sampai 40 Gbps, belum ada pesaingnya. Untuk itu, kami sepakat dengan pendapat yang mengatakan bahwa Wiredline dan wireless sampai saat ini akan terus saling melengkapi, sampai suatu waktu ketika komunikasi wireless memberikan transfer rate lebih besar daripada wiredline yang kemudian memunculkan pertanyaan, mungkinkah hal tersebut terjadi?

Terkait peranan pemerintah Indonesia, menurut kami memang penting melindungi pasar Wimax dalam negeri terutama dalam hal fabrikasi. Namun demikian, pemerintah hendaknya bersifat fair dalam menyikapi perkembangan LTE yang nantinya ada di Indonesia, walaupun memang penyedia handset dan infrastrukturnya sebagaian besar-kalo tidak mau dikatakan semua-adalah vendor luar negeri (Eric****, NS*, dsb). Wajar memang jika vendor-vendor tersebut merasa pemerintah terlalu memihak wimax. Menurut kami, mereka merasa bahwa, seperti yang dikatakan Prof. Suhono Supangkat dalam suatu seminar, keuntungan (revenue) mereka dengan adanya Wimax nantinya harus dibagi dengan penyedia layanan Wimax (walaupun dengan embel-embel penjelasan teknis). Akan tetapi, kenyataan tersebut hendaknya tidak digunakan sebagai justifikasi, karena nantinya konsumenlah yang menentukan apa yang mereka inginkan. Karenanya adalah tugas pemerintah untuk menjamin terjadinya persaingan yang sehat antar vendor ataupun operator LTE dan Wimax.

Apapun yang terjadi, jika nantinya persaingan berlangsung dengan fair, kita tentu berharap hasilnya tetap menguntungkan konsumen dengan banyaknya pilihan yang ada dan harga layanan yang bersaing .

Terima kasih.
Mohon maaf jika terdapat kesalahan.

~~Helmy M. S. 13206026~~
~~Joko A. W. 13206205~~

dbuz2006 said...

Grup 29
Muhamad Nur Hidayat 13206059
Susiana Ekasari 13206042

Pada dasarnya kami cenderung setuju dengan pendapat teman-teman sebelumnya. Namun yang perlu diperhatikan adalah fakta bahwa perkembangan teknologi di Indonesia belum sepesat di negara-negara maju lainnya. Kita belum bisa membandingkan ataupun mengambil kesimpulan mengenai teknologi mana yang lebih baik, apakah WiMAX atau LTE karena sampai sekarang praktis masih belum digunakan. Yang selama ini kita tahu adalah kelebihan atau kekurangannya di atas kertas ataupun berdasarkan penerapan yang sudah dilakukan di negara lain.
Kita juga tidak bisa mengharapkan kedua teknologi tersebut segera diterapkan di Indonesia walaupun rencana kesana sudah ada. Seperti yang kita ketahui, penerapan teknologi (terutama) oleh tiga operator besar saat ini baru sampai pada upgrade teknologi HSDPA menuju HSPA+. Bahkan pihak TELKOMSEL sendiri menegaskan mereka tidak akan terburu-buru dalam menerapkan teknologi LTE. Semuanya dilakukan secara bertahap. HSPA+ ini merupakan tahap menuju LTE. Karena penerapan LTE itu harus beda frekuensi dan bandwidthnya. Baik itu networknya , radionya ,akses ke pelanggannya termasuk terminalnya mengingat peralatan opendukung LTE cenderung masih mahal.
Meski demikian, kami berpendapat tentunya Indonesia akan membutuhkan LTE di masa depan. Apalagi jika menilik pada layanan mobile broadband yang meningkat secara eksponensial selama tahun kemarin. Namun, masyarakat Indonesia kini masih dalamn tahap edukasi tentang kegunaan dari broadband. Hal itu bisa dilihat pada kecenderungan mengakses situs jejaring sosial dan semacamnya.
Kami pikir, ini adalah hal yang biasa dalam tahap awal pengenalan teknologi. Setelah itu akan muncul kreatifitas untuk mengembangkan aplikasi. Ketika aplikasi ini berkembang nantinya, dibutuhkan mobile broadband dengan kapasitas yang lebih tinggi. Pada titik ini, LTE akan menjadi jawaban dari kebutuhan itu nantinya. Karena biar bagaimanapun, salah satu aspek yang memengaruhi perkembangan teknologi dan menjadi bahan pertimbangan operator adalah pasar itu sendiri.