Friday, February 19, 2010

Broadband Key Enablers 1 - G5

[Authors: Arya Zaenal Risyad, Fikri Ramadhan (G5)] Pengembangan teknologi broadband ke depannya mengarah kepada storage area network dan disaster recovery. Hal ini didorong oleh beberapa tuntutan, seperti tipe informasi, dulu tipe informasi hanya dua yaitu voice dan data, sedangkan sekarang lebih beragam, lalu tipe switching, dulu Circuit Switching (CS) sudah sanggup menangani trafik dari layanan, sedangkan sekarang Packet Switching (PS) lebih dibutuhkan.

Packet Switching dipandang sebagai teknologi yang dapat memenuhi kebutuhan telco dengan lebih ekonomis dibanding Circuit Switching karena topologi CS memiliki model hierarki, jika dianalogikan sebagai birokrasi, tiap node-nya harus dilewati secara terurut dan tidak dapat dilompati. Disamping itu, resource sharing dalam CS lebih sedikit karena sifatnya dedicated, trafik yang sudah sampai di RNC tidak boleh langsung kembali lagi.

Berbeda jika dibandingin dengan PS. Pada PS, trafik tidak hierarki, tipe switching ini memiliki sistem inteligence yang terdistribusi di tiap node. Efeknya, kalau ada resource yang kosong di suatu node, resource itu dapat digunakan dan paket yang dikirim dapat langsung dikirim ke destinasi. Lain halnya dengan CS yang di dalamnya ada mekanisme acknowledge. (Kalau mau ke tujuan, harus lapor dulu ke node terdekat, setelah itu itu di route ke node yang lain, dst).

Jadi, mana yang lebih bagus sebenarnya? Connection or connectionless? Tentunya keduanya memiliki kelebihan masing-masing, tergantung peruntukannya.

End to end networks

Salah satu komponennya CPE/CLE. Kalo CPE biasanya dipakai end user (handset, dll). Klo CLE berupa equipment yang tetap dimiliki operator. Key attribute untuk jaringan broadband :
  1. Capacity : 1 Mbps, 10, 100, 256, dst.
  2. QoS for multi service delivery : biasanya memengaruhi delay. Jika bandwidth kurang, delay-nya akan lebihtinggi.
  3. Per user and per app. policies : kalau lagi pake voice, QoS per user akan dijamin tinggi. Kebijakan digunakan untuk melakukan extend QoS per user atau per app.
  4. Highly available NE : biasanya atribut ini tidak berhubungan langsung degan user, contoh kasusnya sewaktu gempa di padang misalnya, hanya ada satu operator yang jaringanny tidak mati. Hal ini terkait degan infrastruktur jaringan yang dipakai.

Wireless Access dan Wireline Access

Dalam mewujudkan blended multimedia services, layanan akan sampai ke user menggunakan dua teknologi yaitu wireless access dan wireline access. Teknologi wireless access terdiri dari fixed access (Wimax & Wifi) dan mobile access ( HSPA dan LTE).Sedangkan teknologi wireline access menggunakan fiber optic.

Perkembangan wireless access pada saat sekarang, yang telah umum dipakai adalah wifi. Selanjutnya yang sedang dikembangkan adalah Wimax. Wimax 802.16m mempunyai kecepatan downlink 100 Mbps dan uplink 100 Mbps. Evolusi selanjutnya dari teknologi wireless access adalah LTE (Long Term Evolution). Dibandingkan dengan Wimax, LTE mempunyai throughput yang jauh lebih besar. Wimax mempunyai throughput 36 Mbps sedangkan LTE MIMO 2 x 2 (Multiple In Multiple On) mempunyai throughput 173 Mbps. MIMO disini berarti sinyal yang dapat masuk dan keluar berjumlah 2 sinyal. Sebenarnya terdapat tipe LTE yang memilki throughput lebih tinggi yaitu LTE MIMO 4 x 4. Tipe LTE ini mempunyai throughput 326 Mbps. Walaupun LTE tipe ini mempunyai MIMO dan throughput yang lebih besar, tetapi pada prakteknya tipe LTE yang lebih banyak digunakan adalah LTE MIMO 2 x 2. Hal ini disebabkan semakin tinggi MIMO maka semakin mahal chip yang harus digunakan sehingga handset yang mensupport teknologi ini semakin mahal pula.

Wireline access memiliki beberapa outside distribution yaitu antara lain FTTH (Fiber To The Home), FTTC (Fiber To The Curb), UTP, dan HFC. Dari beberapa distribusi yang dapat dilakukan untuk aplikasi wireline access, yang paling efisien adalah dengan menggunakan fiber. Teknologi fiber saat ini dibagi menjadi 2 yaitu PON (Passive Optical Network) dan Active Ethernet. Perbedaannya PON menggunakan point to multipoint system yang lebih ditujukan untuk jaringan publik sedangkan active Ethernet menggunakan point to point system yang lebih ditujukan untuk jaringan bisnis.

Opini

Kami ingin menanggapi mengenai tren perkembangan Wimax dan LTE di Indonesia. Menurut kami, saat ini di Indonesia yang sedang gencar-gencarnya dikembangkan adalah Wimax padahal di Negara-negara lain LTE sedang dikembangkan. Hal ini memungkinkan perkembangan yang bersamaan antara Wimax dan LTE di Indonesia. Pendapat ini didukung oleh salah satu operator besar di Indonesia yang juga sudah mulai mengembangkan LTE, provider ini berniat mengaplikasikan Wimax dan LTE secara bersamaan. Dengan Wimax yang akan dipergunakan sebagai transmisi sinyal (backhaul) antara jaringan inti (core network) dengan pemancar Femto BTS point to multipoint. Sedangkan LTE akan menjadi teknologi mobile generasi mendatang, karena LTE memanfaatkan infrastruktur UMTS yang sekarang ada.

    Share | Save

    Subscribe

19 comments:

Eueung Mulyana said...

Tambahan dari GB4 (To kelompok B, responsnya langsung saja di entry sendiri lewat comment box ya, jangan dikirim via email...)
--

1. Teknologi Jaringan end to end
Pada teknologi broadband hal yang sangat berpengaruh dari sisi user adalah: kapasitas dari broadband itu sendiri; QoS untuk layanan multi-service yang mampu ditawarkan; Ketersediaan/keandalan jaringan yang tinggi. Pada dasarnya ada 2 informasi utama yang dilewatkan pada suatu jaringan telekomunikasi: voice dan data. Masing-masing tipe informasi tersebut dilewatkan pada jaringan telekomunikasi dengan cara yang berlainan, untuk voice/speech karena memerlukan jaminan QoS yang tinggi maka untuk voice digunakan teknologi yang bersifat connection oriented dimana sebelum memulai pertukaran informasi jalur komunikasi dibentuk terlebih dahulu untuk menjamin tersedianya resource selama proses pertukaran informasi sedangkan untuk data, teknologi yang digunakan adalah connection less,sifat pengiriman informasi dalam bentuk data berdasarkan best effort, data akan dikirim bila ada resource yang kosong tanpa memikirkan adanya delay dalam pengiriman data tersebut, hal ini di karenakan informasi dalam bentuk data bersifat tidak delay sensitif. Tetapi teknologi sekarang ini sudah berusaha untuk dapat menggabungkan kedua layanan ini, dimana didalam suatu resource yang minimum tetap bisa mempertukarkan informasi dengan QoS yang tetap bisa dijamin. Perkembangan teknologi telekomunikasi saat ini mengarah kepada penerapan teknologi IP. Penggunaan teknologi IP ini memiliki suatu keuntungan tersendiri, dimana arsitekturnya menjadi arsitektur yang bersifat flat, sehingga bila ada perubahan pada jaringan tidak perlu dilakukan perubahan mendasar/atau merubah total semua jaringan.

2.Teknologi Wireless Access (LTE)
Pada teknologi wireless Access untuk 2G/3G, pertukaran informasi antara voice dan data dilewatkan pada jalur yang berbeda, untuk voice dilewatkan pada MSC sedangkan data dilewatkan pada SGSN. Pada teknologi LTE kedua informasi tersebut melewati jalur yang sama,SGW. LTE menerapkan beberapa teknologi di dalamnya, yaitu teknologi OFDM, MIMO, dan teknologi IP. Hal ini berakibat pada naiknya kapasitas bandwidth, latency yang rendah, QoS yang tinggi dan memungkinkan pertukaran informasi dalam harga yang lebih murah.Artinya LTE mampu memberikan layanan seperti fixed broadband tetapi dengan kemampuan mobility yang tinggi.

3. Teknologi wireline Access (Optik)
Teknologi wireline yang berkembang pesat saat ini adalah teknologi serat optik. Perkembangan ini memunculkan beberapa bentuk akses serat optik, seperti FTTH ataupun FTTB. Ada beberapa arsitektur FTTx, diantaranya jaringan yang murni serat optik (sampai ke rumah pelanggan), atau ada jaringan yang merupakan perpaduan optik dan kabel tembaga.

Kesimpulan :
Teknologi wireline dan wireless adalah teknologi yang saling melengkapi, teknologi wireline menawarkan kapasitas yang besar dan stabil, tetapi teknologi wireless menawarkan kemudahan dalam hal mobilitas. Biasanya teknologi wireline dipakai pada jaringan backbone dari suatu jaringan wireless, sehingga teknologi ini tumbuh atau berkembang sebagai pelengkap dari teknologi yang lain.

Teknologi broadband saat ini dikembangkan ke arah hirarki QoS dimana setiap paket yang datang akan mendapatkan perlakuan QoS yang berbeda-beda, dimana jaringan dituntut untuk bisa membedakan QoS dari paket-paket tersebut.

GB-4 (?)
Nana Sutisna, Lucky Andiani, Sinung Tegar P

urise said...

Kelompok 22 :
Hermanto (13206151) & Yuris Mulya Saputra (13206124)

Di era serba modern ini, untuk dapat maju seseorang membutuhkan pertukaran informasi yang mudah dari dan ke seluruh dunia. Oleh karena itulah teknologi telekomunikasi terus berkembang untuk memberikan layanan pertukaran informasi tersebut bagi para user, tak terkecuali user-user di Indonesia.

Salah satu teknologi telekomunikasi yang sedang marak diteliti di Indonesia adalah WiMAX, namun sayangnya masih belum dikembangkan.
Penerapan teknologi WiMAX oleh operator diharapkan akan menurunkan biaya akses internet. Harga bandwidth lokal yang mahal (karena menggunakan teknologi serat optik) menjadi pemicu kurang berkembangnya internet di Indonesia. Oleh karena itu, kehadiran teknologi WiMAX sangat dinantikan. Alasannya karena WiMAX dapat menjadi alternatif komunikasi data yang menawarkan kecepatan data yang cukup menjanjikan, jangkauan coverage yang luas, serta bandwidth yang lebar. Sehingga internet dapat dinikmati seluruh masyarakat Indonesia baik di kota besar hingga desa terpencil dengan harga yang terjangkau.

Walaupun belum benar-benar teruji, namun pengembangan teknologi ini masih terus dilakukan. Di Indonesia sendiri, pemerintah telah mengeluarkan peraturan mengenai regulasi WiMAX dan juga menyediakan dana untuk penelitian dan pengembangan teknologi ini. Dengan demikian, semoga penelitian teknologi WiMAX di Indonesia dapat menghasilkan produk-produk lokal yang siap dan layak untuk diekspor ke luar negeri.

Rizqi said...

Kelompok 10
Rizqi Hersyandika (13206040)
Aldy Pradana (13206079)

Kami setuju dengan pendapat saudara mengenai perkembangan WiMAX dan LTE di Indonesia. Perkembangan LTE di Indonesia nantinya akan bersamaan dengan kehadiran WiMAX.

Pengembangan LTE di Indonesia, ditargetkan hadir pada tahun 2012. Menurut jangkauan, LTE dapat digunakan di wilayah rural ataupun hot zone. LTE juga bisa diimplementasikan operator GSM ataupun CDMA. Salah satu operator di Indonesia, Telkomsel, memilih menerapkan teknologi LTE. XL juga menyatakan ketertarikannya pada LTE karena cocok untuk jaringan 3G dan HSDPA XL. Banyaknya operator GSM di Indonesia yang berencana mengimplementasi LTE, karena LTE dianggap lebih mudah dibandingkan WiMAX yang membutuhkan perubahan besar-besaran pada infrastruktur operator GSM.

Sehingga dari segi investasi LTE tiga kali lebih murah. Dari segi desain, LTE dan WiMAX berasal dari pasar yang berbeda, sehingga kehadiran keduanya tak mengancam satu sama lain.

djepri said...

Kelompok 12:
Jeffrey Kurniawan (13206128)
Tommy Hartanto (13206102)

salah satu intisari yang kami dapatkan dari kuliah pertama dan kedua Pak Willy adalah bahwa penerapan teknologi itu bergantung situasi dan kondisi. misalnya, untuk jaringan backbone lebih handal menggunakan wireline, tp untuk jaringan akses ke user lebih banyak menggunakan wireless karena alasan mobilitas user, kecuali pada kasus2 tertentu seperti gedung kantor ataupun rumah menggunakan wireline. jika kita lihat infrastruktur teknolgi end-to-end, maka kita akan menemukan berbagai jenis teknologi di sana. semuanya bergantung pada penerapannya di lapangan.
tidak selamanya teknologi canggih dan mahal akan efisien dalam memenuhi kebutuhan.
Prinsip seperti ini juga yang perlu diterapkan di kehidupan sehari-hari.

hal kedua yang saya dapatkan adalah bahwa teknologi sekarang sedang menuju era blended multimedia services. dengan teknologi ini, user akan mendapatkan QoS yang baik untuk aplikasi tertentu sesuai dengan keinginan.

tentu saja yang perlu kita cermati dalam perkembangan teknologi yang semakin maju adalah cara atau metoda untuk memanfaatkannya secara optimal untuk kesejahteraan masyarakat. hal itu yang menurut kami sangat perlu disoroti.

terima kasih

febryansyah said...

Kelompok 1
febryansyah dr (13206007)
adhipta sp (13206039)

untuk masalah tipe jaringan, apakah pemilihan tergantung dari jenis informasi yang akan dikirimkan? apakah itu data, voice atau video


kalau saya tidak salah LTE juga memerlukan IMS, apakh ini akan membuat teknologi LTE akan bergesekan dengan VoIP?

untuk koneksi internet murah yang mencakup daerah-daerah terpencil saya reasa di indonesia masih cukup jauh dari sasaran. untuk sekarang ini hampir 90% kegiatan telekomunikasi terjadi di indonesia bagian barat. mungkin hal ini juga dikarenakan persebaran penduduk yang tidak merata dan kontur wilayah indonesia bagian timur yang kurang mendukung.

mohon maaf kalau ada kesalahan, terima kasih

Johan said...

Kelompok 20
Johan Sunaris (13205005)
Felix Jatmiko (13206149)

Perkembangan teknologi dalam bidang telekomunikasi di Indonesia dapat dikatakan cukup cepat. Berdasarkan kuliah tamu yang dibawakan Pak Willy dari Alcatel, Indonesia sekarang ini sedang dalam tahap pengembangan Wimax - fixed access dan LTE - mobile access. Yang menarik dan dapat dijadikan catatan bagi kelompok kami adalah bahwa LTE sangatlah efisien dalam hal throughputnya, karena LTE memiliki keunggulan MIMO, sehingga throughput yang dihasilkan pun berkali-kali lipat dari Wimax. Dipaparkan pula, bahwa Wimax memungkin untuk migrasi ke LTE.

Sedangkan mengenai wireline, tren jaringan yang digunakan adalah fiber optik. Jaringan dengan basis fiber optik ini pula dapat diimplementasikan di Indonesia untuk ke depannya.

Perkembangan teknologi yang sedemikian cepatnya patut kita syukuri. Namun kendala sosial seperti pemerataan pendudukan dan kemudahan akses jaringan internet mungkin lebih dipriotaskan.

Terima kasih

Giri Kuncoro said...

Kelompok 2 :
Giri Kuncoro (13206009)
Fadhilah Hana Lestari (13206014)

Pada dasarnya, kami setuju dengan summary yang disajikan oleh saudara Arya Zaenal Risyad dan Fikri Ramadhan. Namun, kami sedikit kontra dengan pendapat teman-teman serta pembuat slide yang dipresentasikan oleh Pak Willy Alcatel yang mengatakan bahwa Wimax akan berkontribusi dan melakukan fusion dengan LTE.

Saat ini, dunia telekomunikasi wireless sedang panas dengan istilah "The 4G Wireless World War" yang mengilustrasikan betapa sengitnya persaingan antara teknologi Wimax dan LTE. Presentasi dari Pak Willy dan pendapat teman-teman perihal fusion Wimax dan LTE cenderung "one-sided" dan kurang fair. Seolah-olah semuanya mengatakan bahwa LTE akan menang dan Wimax akan kalah.

Sampai hari ini, tidak ada seorangpun manusia di bumi yang telah mengakses sinyal LTE melalui jaringan commercial. Di sisi lain, 400 juta orang di bumi ini telah memiliki akses sinyal Mobile Wimax (802.16e) melalui jaringan commercial. Dalam beberapa tahun lagi, para pendukung LTE termasuk 'si pembuat slide' meyakini bahwa LTE akan meng-overtake Wimax.

Namun, apa yang sebenarnya terjadi saat ini? LTE belum sampai di tahap global IOT testing pada level jaringan commercial. Fakta selanjutnya, kebanyakan operator 3G di dunia menginginkan kembalinya modal mereka setelah investasi jaringan 3G terlebih dahulu sebelum migrasi ke teknologi 4G. Banyak operator dunia juga yang kontra terhadap pesatnya perkembangan LTE. Berdasarkan ini semua, kami memprediksi bahwa Wimax akan mengalahkan LTE sampai tahun 2015 dalam hal persebaran penggunaan Wimax di seluruh dunia serta peningkatan jumlah pengguna Wimax.

Setelah tahun 2015, semuanya masih bias. Kemenangan antara Wimax dan LTE tidak jelas. Hal ini tergantung dari operator mana yang sukses dan mana yang tidak. TEM (Telecom Expense Management) dan vendor chipset mana yang sukses dan mana yang tidak. Grup-grup chipset Wimax jauh lebih kuat saat ini daripada chipset LTE terkait dengan ketakutan akan 3G IPR model.

Lebih jauh lagi, teknologi Wimax yang menekankan spektrum TDD serta LTE yang fokus pada spektrum FDD akan hidup bersamaan selama 5 tahun ke depan. Namun, Wimax akan memiliki keuntungan karena "curi start" terkait dengan inovasi Wimax secara keseluruhan dan menembus perisai teknologi wireless serta model bisnis untuk 5 tahun ke depan.

Demikian pendapat kami. Tidak ada maksud flaming, hanya ingin sharing pendapat dan pandangan.

Cheers,
Giri dan Hana

ismi_mazaya said...

Sampai saat ini teknologi nirkabel yang paling bergengsi masih dipegang oleh 3G. Akan tetapi, sebenarnya 3G bukanlah merupakan solusi broadband yang tepat dan terlalu dipaksakan untuk data. "Akhirnya bisa kita lihat sendiri, dengan 3G jaringan jadi ambrol," kata Werner Sutanto, Managing Director Southeast Asia Wimax Program Office Intel Corporation.

Lalu muncullah issue WiMAX dan LTE, dimana WiMax dan LTE menjanjikan transfer data yang jauh lebih cepat ketimbang 3G. Jika 3G hanya mampu bermain di angka 3,6 Mbps, maka LTE bisa sampai 100 Mbps. Sepakat dengan opini G5 bahwa kedua teknologi tersebut sepertinya akan direalisasikan di Indonesia secara hampir bersamaan, mungkin selisih 2-3 tahun saja, dengan WiMAX lebih dulu daripada LTE. Mengingat bahwa WiMAX sudah disertifikasi sejak tahun 2005 sementara LTE baru disertifikasi pada maret 2009.

Akan tetapi perlu digarisbawahi bahwa pengguna jaringan layanan Wimax nantinya memang bisa mengakses layanan data dan internet secara mobile alias bergerak berpindah tempat, namun hanya sebatas di dalam area layanan satu kota saja. Karena pemerintah lebih memilih menetapkan kebijakan penggunaan perangkat Wimax Nomadic 16.d untuk fixed wireless broadband dibanding Wimax Mobile 16.e untuk full mobile broadband. Jadi konsepnya WiMAX hanya sebagai komplemen saja, sehingga kemungkinan 3G tidak akan tergusur oleh WiMAX nantinya.

habibur said...

kelompok 19

beny nugraha (13206017)
habibur muhaimin (13206131)

tampaknya rame kalau kita bicarain Wimax-LTE siapa yang menang..

dari kuliah sitem komunikasi 1, kita mendapat informasi mengenai perkembangan Wimax dan LTE, berikut singkatnya:

sejarah LTE: 2G - 3G - 3.5G - LTE
sejarah Wimax: Wireless LAN - Wireless WAN - Wimax

dari analisis sederhana, kita dapat menyimpulkan bahwa perkembangan LTE didahului oleh teknologi outdoor, sedangkan Wimax berasal dari teknologi komunikasi indoor.

nah, para anti-Wimax beranggapan hal tsb merupakan latar belakang yg cukup kuat utk tidak mendukung Wimax di Indonesia. topologi perm. tanah, cuaca yg sering hujan menjadi salah satu parameter (pengaruh ke fading) mengapa Wimax akan kalah dibandingkan LTE yg sedari dulu telah mengembangkan teknologi outdoor. Bolehlah Wimax percaya diri dgn kecepatan berMega2 bit, tapi kita mesti ingat bahwa kepercayaan diri tsb didapat dari kecenderungan teknologi indoor yg jauh berbeda tantangannya dgn teknologi outdoor. Nyatanya, dalam nasional sarasehan tahun lalu diadakan evaluasi Wimax sementara dari ITB ke rancaekek yg hasilnya mengecewakan (mohon cek lagi data kuantitatifnya), jauh dari throughput yg dijanjikan.

Namun, kami beranggapan bahwa Wimax's existing development condition di Indonesia perlu diapresiasi. Mengapa ?
kepercayaan pemerintah thdp industri lokal utk mengembangkan Wimax sangat membantu tumbuh kembang lapangan pekerjaan dan riset2 di universitas. adanya peraturan yg dikeluarkan pemerintah terkait harus adanya sekian persen produk lokal di perangkat Wimax cukup diacungi jempol, meskipun kami rasa masih kurang porsinya. Hal tsb dialami secara langsung oleh kami karena seorang dari kami turut serta mengembangkan modul Wimax di bagian Billing. Untuk itu, AYO MUDA MUDI INDONESIA semangat jd developer Wimax !!

Anggita said...

Kelompok 4:
Anggita Hapsari 13206034
Muhammad Tito 13206134


Bicara LTE dan WiMAX kita bicara mengenai jaringan 4G. Teknologi mana yang lebih baik untuk pengaplikasiannya.

Diatas kertas dan banyak orang yang berpendapat bahwa LTE yang akan menjadi standar untuk jaringan 4G. Wajar saja, selain penawaran data rate yang lebih tinggi dibanding WiMAX, LTE merupakan pengembangan dari teknologi GSM dimana teknologi GSM sendiri sudah mendominasi. Operator dapat menggunakan jaringan-jaringan BTS GSM mereka yang sudah ada, tentunya dengan beberapa integrasi.

Adapun WiMAX, data rate yang ditawarkan memang tidak setinggi LTE. Akan tetapi cost yang dibutuhkan juga tidak setinggi LTE. Teknologi tetap akan memiliki pangsa pasarnya tersendiri terutama untuk daerah-daerah pedasaan yang belum terjangkau jaringan GSM. Pembangunan BTS GSM pastinya dirasa sangat tidak efisien secara cost dibandingkan dengan membangun BTS WiMAX. Jika pemerintah memang ingin menyukseskan program penyebaran telekomunikasi di seluruh Indonesia tanpa terkecuali, mungkin teknologi WiMAX yang matang merupakan pilihan yang tepat.

Karena itu, kami berpendapat bahwa LTE vs WiMAX belum dapat ditentukan pemenangnya karena keduanya memiliki pangsa pasarnya tersendiri. Terlebih dengan adanya WiMAX II denagn data rate mendekati LTE tentu juga akan menjadi pilihan yang cukup menggiurkan.

sekian
mohon maaf jika ada kesalahan dan kekurangan.

Calculus said...

Lapis fisik (layer 1) dari Wimax (802.16e) dan LTE (3GPP rel. 9) memiliki teknologi yang setara (OFDMA, MIMO, modulasi hingga 64QAM) sehingga sulit untuk mengatakan yang satu lebih baik dari yang lainnya. Perhitungan teoritis (secara simulasi) throughput downlink antara Wimax dan LTE juga setara, sekitar 144 Mbps (dengan kondisi perbandingan sama-sama menggunakan 64QAM dan MIMO 2x2). Jika Pak Willy memberi ilustrasi LTE dengan throughput downlink diatas 300 Mbps, saya percaya hal tersebut adalah LTE advanced, pengembangan lebih lanjut dari LTE. Satu-satunya yang menjadikan Wimax unggul dibandingkan LTE adalah standar untuk Wimax (802.16e) keluar lebih dahulu dibandingkan standar untuk LTE (3GPP rel. 9) sehingga Wimax punya kesempatan time-to-market lebih awal, tetapi LTE sudah punya basis pasar yang begitu besar (pelanggan existing WCDMA/HSDPA/HSPA) sehingga menarik untuk disimak, siapa yang akan lebih diterima pasar nantinya.

Kedepannya, Wimax generasi kedua (Wimax 2 berbasis standar 802.16m) akan berkompetisi dengan LTE advanced (3GPP rel. 10). Kedua standar ini sedang dipersiapkan dengan tujuan utama memenuhi persyaratan yang dikeluarkan IMT-advanced dalam hal teknlogi telekomunikasi bergerak generasi ke-empat (menggantikan IMT-2000). Beberapa vendor mungkin sudah melakukan uji coba Wimax 2 atau LTE advanced, tetapi setau saya standar resminya belum dirilis, baik 802.16m maupun 3GPP rel. 10. Kemungkinan tahun ini kedua standar tersebut akan dirilis, dan mass production dari perangkat-perangkatnya biasanya berkisar 8-12 bulan setelahnya.

Di Indonesia, yang sudah ditender lisensi frekuensinya adalah untuk fixed wimax (berbasis 802.16-2004 atau lebih populer dengan sebutan 802.16d), sedangkan untuk mobile wimax (802.16e) belum dibuka tendernya. Mungkin baru tahun ini akan dibuka tender untuk mobile wimax. Untuk tender frekuensi LTE, saya percaya juga akan dilakukan tahun ini, apalagi beberapa operator sudah melakukan trial LTE.

Jika operator sudah mulai memasarkan LTE dan mobile wimax di Indonesia, menarik untuk disimak perang teknologi tersebut, karena bersaing di pasar yang sama. Pasar yang akan menentukan siapa yang akan survive. Sebagai konsumen, persaingan seperti ini biasanya cenderung menguntungkan, karena harga perangkat dan biaya langganan akan turun dengan sendirinya. Tentunya juga harus dibarengi dengan peningkatan kualitas.

--anugrah 23208306--
--rahmat 23208346--

habibur said...

menanggapi pernyataan tito dua komentar di atas ^^^:

"LTE merupakan pengembangan dari teknologi GSM dimana teknologi GSM sendiri sudah mendominasi. Operator dapat menggunakan jaringan-jaringan BTS GSM mereka yang sudah ada, tentunya dengan beberapa integrasi.

Adapun WiMAX, data rate yang ditawarkan memang tidak setinggi LTE. Akan tetapi cost yang dibutuhkan juga tidak setinggi LTE. Teknologi tetap akan memiliki pangsa pasarnya tersendiri terutama untuk daerah-daerah pedasaan yang belum terjangkau jaringan GSM. Pembangunan BTS GSM pastinya dirasa sangat tidak efisien secara cost dibandingkan dengan membangun BTS WiMAX. Jika pemerintah memang ingin menyukseskan program penyebaran telekomunikasi di seluruh Indonesia tanpa terkecuali, mungkin teknologi WiMAX yang matang merupakan pilihan yang tepat."

logika nya ga kena..
kenapa ?
merujuk dari salah satu pengalaman rekan kita Bima Rikarson -telkom 2006- yang bapaknya kontraktor pembangunan infrastruktur BTS, bahwa setiap teknologi memiliki ciri khas sendiri. jadi teman kita itu pernah bilang, semakin sering berganti teknologi semakin untung kontraktor karena keseluruhan alat yg digunakan berbeda -bisa kita tambahkan berbeda sama sekali-. mau teknologinya cem apapun, alat yg digunakan bakal beda jadi tetep aja costnya bakal tetep tinggi. jadi kalau dilihat sepintas lalu, biaya pembangunan LTE dan Wimax akan sama saja.

terkait dengan pembangunan Wimax di pedesaan, sangat butuh keberanian besar dari pemerintah untuk menjamin provider tidak akan merugi. mengapa ?
ya karena penduduk pedesaan ya selain sedikit juga tidak butuh kualitas yang bagus2 amat. bayangkan jika seorang dermawan menyediakan makanan utk 10000 orang yg makan cuma 100 orang.
jika kita perhatikan, memang begitu proses penyebaran teknologi. dari pusat ke daerah. jadi untuk pengembangan daerah, dapat dipastikan teknologi yg telah usang di pusat akan ditransfer ke daerah. teknologi 3G yang akan menjadi usang akan dipindahkan ke daerah bkn malah daerah yg memiliki teknologi mumpuni. daerah disini maksudnya market yg kecil sedangkan pusat representasi dari market yg besar.

mungkin kalau kita lihat dari sisi handset pengguna, apa yg tito utarakan jadi benar adanya.
sy kasih contoh:
gadget 3G sekarang pasti mengakomodir teknologi GPRS. nah kemungkinan besar, gadget LTE-based ntar bakal mengakomodir teknologi 3G. nah keuntungan LTE ada di berkebersinambungannya teknologi di perangkat end user. Hal tsb tidak dialami Wimax yg teknologi sebelumnya tidak masuk secara dalam ke pasar di Indonesia. Hasilnya, psikologis calon pengguna teknologi telecom ke depan akan terpengaruh utk memilih LTE yg notabene jika tidak tercover zona LTE, minimal 3G dapetlah..

sekian pendapat kami.

mari ramaikan forum ini...

terima kasih

rara1607 said...

G14 :
Zahara Yulianti (13206018)
Nur Inayah Yusuf (13206138)

Perkembangan teknologi benar-benar pesat. Belum juga selesai kontroversi teknologi Wimax16.d dan 16.e di Indonesia, eh sekarang malah telah disusul oleh LTE. Topik mengenai Wimax Vs LTE ini menjadi menarik untuk dibahas.

LTE dan Wimax memang teknologi pilihan untuk jaringan 4G namun marketnya berbeda. Jika ditinjau sejarah evolusi kedua teknologi ini, root LTE merupakan GSM sedangkan WIMAX dari Wi-Fi atau seperti yang dituliskan G19, pendahulu LTE adalah teknologi outdoor sedangkan Wimax indoor.

Jadi LTE ini cocok untuk daerah urban yang masyarakatnya sering mobile dan tentunya LTE menjadi lebih mudah diimplementasikan di daerah perkotaan yang sudah ada infrastruktur
jaringan 3G yang telah dibagun oleh operator seluler saat ini.

Dengan mengintegrasikan LTE ke BTS GSM yang sudah banyak terdapat di daerah perkotaan akan menjadikan investasinya lebih murah
dibandingkan wimax yang harus membangun perangkat baru.

Kami sependapat dengan G04 bahwa untuk daerah yang masih jarang terdapat BTS GSM, seperti daerah pedesaan, teknologi Wimax menjadi sebuah jawaban untuk pengembangan jaringan.
Pasalnya, investasi BTS GSM itu jauh lebih mahal dibandingkan investasi Wimax.

Warm Regard,
G14

aryo said...

Kelompok 24
Aryo Pambudi (13206053)
Christ Marcel (13206167)

Saya sangat setuju dengan pendapat teman-teman dia atas, terutama pendapat yang datang dari kelompok 10.
Berdasarkan komentar kelompok 10 yang mengatakan bahwa LTE dan WiMAX memiliki pasar yang berbeda sehingga besar kemungkinan tidak saling mengancam satu sama lainnya.

Untuk ke depannya nanti saya yakin kemungkinan besar konsumen akan menggunakan kedua teknologi ini secara bersamaan bergantung dari device yang mereka miliki serta kebutuhan yang yang mereka miliki pula.

Jadi menurut saya, tidak terlalu penting untuk kita membahas mana yang lebih baik. Alangkah baiknya apabila kedua teknologi ini dikembangkan sebaik-baiknya untuk mencapai hasil yang terbaik.
Karena kejar-kejaran teknologi ini tentunya yang untung adalah kita sebagai konsumen dimana kita bisa bebas memilih apa yang akan kita gunakan, sesuai dengan kebutuhan kita.

deeto88 said...

Kelompok 21
Dito Anggodo Prihastomo (13206109)
Angelia Hermawan (13206076)

Mengomentari mengenai penjelasan dari kuliah yang diberikan oleh Bapak Willy, kami tertarik dengan pembahasan seputar pembandingan antara teknologi Wimax dan LTE. Seperti yang dijelaskan Pak Willy bahwa saat ini teknologi telekomunikasi sedang mencapai tahap untuk perkembangan ke arah Wimax dan LTE.

Sepakat dengan pendapat dari kelompok 10, untuk saat ini siapa yang menjadi pemenang dari kompetisi Wimax Vs LTE mungkin belum bisa ditentukan. Semua masih mencoba berkembang menjadi lebih baik dan memenuhi kebutuhan masyarakat dengan efisiensi yang sesuai.

Untuk Indonesia memang perkembangan teknologi telekomunikasi saat ini lebih fokus ke arah Wimax, sementara di luar negeri banyak negara maju yang sudah fokus ke pengembangan LTE. Menurut kami, kebijakan pemerintah untuk mengejar pemanfaatan teknologi yang sudah ada sekarang, seperti Wimax, cukup baik terutama dalam upaya untuk menyokong kemajuan dunia industri di Indonesia. Toh, kalaupun kita menunggu hingga LTE telah disempurnakan, tidak menutup kemungkinan 1 hingga 2 tahun kemudian muncul edisi penyempurnaan dari LTE yang membuat kita harus menyesuaikan teknologi kembali. So, menurut kami saat ini marilah kita optimalkan segala teknologi telekomunikasi yang telah ada sambil mencoba melihat peluang-peluang untuk mengembangkan dunia telekomunikasi Indonesia.

*Terimakasih. Mohon maap apabila ada kesalahan.

Mr. Black said...

kelompok 26
Tubagus Damar A. 13206036
Sepanya Pasaribu 13206150

Penjelasan dari Pak Willy mengenai perkembangan Wimax dan LTE di masa yang akan sangat menarik. Dengan penjelasan ini, dapat membuka wawasan mahasiswa dan mempersiapkan diri untuk kemajuan teknologi yang semakin pesat.

Dari apa yang kami ketahui, perkembangan dari LTE akan mengalami hambatan yang disebabkan oleh beberapa hal diantaranya adalah handset yang mendukung teknologi ini masih minim dan memerlukan biaya yang besar. Untuk itu,sepertinya akan diperlukan waktu yang lama untuk perkembangannya, In-Stat menyebutkan, dongle, kartu jaringan, dan perangkat USB akan menjadi peralatan LTE pertama yang akan dijual. Hambatan lain yang mempengaruhi perkembangan LTE adalah keberhasilan jaringan 3G, HSDPA dan HSPA+, keberhasilan ini telah mempengaruhi perkembangan implementasi LTE. Alasan utamanya karena sudah banyak operator yang menanamkan investasi yang besar untuk perkembangan infrastruktur teknologi in.

Saat ini, LTE juga masih memiliki masalah yang belum terselesaikan, diantaranya adalah masalah spectrum, signal-to-noise ratio, dan masalah seputar paten serta royalti. Peralihan ke 4G LTE dipastikan akan bertahap atau berlarut-larut. Oleh karena itu, perkembangan teknologi ini terutama di Indonesia akan mengalami hambatan yang berarti karena kondisi tersebut dan biaya pengembangan yang dibutukan sangat besar.

Aryo said...

Kelompok 11

Aryo Wicaksono 13206115
Arief Saksono 13206022

Membicarakan LTE v WimAX memang tidak akan ada habisnya.Saya setuju dengan pendapat bahwa WiMAX dengan LTE merupakan teknologi yang berasal dari pasar yang berbeda sehingga keberadaannya tidak mengancam satu dengan yang lain. Untuk implementasi WiMAX, berdasarkan suatu artikel yang saya baca, yang merujuk pada pendapat Managing Director WiMAX SouthEast Asia Werner Sutanto, WiMAX merupakan teknologi yang sangat mungkin diterapkan pada 1-2 tahun yang akan datang di Indonesia. Alasan beliau mengacu pada keterbatasan kabel tembaga untuk DSL dan dan perangkat broadband lainya di Indonesia, maka wireless broadband berupa WiMAX merupakan hal yang paling ideal. Selain itu, dari sisi market, Indonesia sudah sangat siap menerima WiMax karena beberapa faktor, antara lain rendahnya penetrasi broadband, tingginya pengguna internet, serta tingginya pertumbuhan konsumsi PC atau notebook.

Sedangkan untuk LTE, menarik disimak bagaimana perkembangan LTE ke depan di Indonesia mengingat fokus pemerintah saat ini masih lebih terfokus pada pengembangan WiMAX.
Semoga pengembangan kedua teknologi tersebut dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya demi seluruh rakyat Indonesia meskipun mungkin salah satunya akan diimplementasikan lebih dahulu dibanding yang lain.

Terima kasih, mohon maaf apabila terdapat kesalahan.

dimas said...

sayang sekali, penetrasi untuk teknologi semacamini sangat lambat di negeri Indonesia ini.

anantoep said...

Wah,, tampaknya lagi rame-ramenya ngebahas LTE dan Wimax. Kalau menurut saya, bukan suatu masalah kalau pemerintah sekarang mengembangkan Wimax. Setiap teknologi pasti ada "umur"nya masing-masing, jadi pasti akan tergantikan pada suatu hari nanti, termasuk LTE jika memenangkan persaingan. Kalau kita tidak mencoba memulai sekarang,, ya nanti akan semakin tertinggal. Setuju dengan pendapat beberapa kelompok sebelumnya,, yang penting teknologi telekomunikasi yang dikembangkan dapat bermanfaat bagi rakyat.

Btw,, MIMO (paragraf 7) bukannya Multiple Input Multiple Output ya?

Kel.17 - Ananto EP (13206008) - Irvan S (13206130)